Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
34. Pernikahan (2)


__ADS_3

Faza


Entah ini perasaanku saja atau hari memang berlalu lebih cepat dari yang kupikirkan. Rasanya seperti baru kemarin aku mendapati mas Gibran dan om Rudi duduk di ruang tamu bersama abah dan ibu. Rasanya juga seperti baru kemarin saat aku, mas Gibran dan abah pergi ke KUA bersama-sama, dan aku yang mengkhawatirkannya setengah mati kerena pria itu bertolak ke Jakarta tanpa sepengatahuanku. Tapi nyatanya semua memang sudah berlalu hingga tanpa kusadari, besok pagi acara pernikahanku dan mas Gibran akan digelar dirumahku.


Dan kupikir, karena acara malam ini hanya diisi dengan pengajian sederhana dirumahku yang dihadiri oleh para tetangga, perasaanku tidak akan segugup ini. Kupikir perasaanku akan biasa saja seperti saat Nanda dan ibunya berkunjung ke rumahku tadi siang.


“Rasanya benar-benar sulit dipercaya kalau sebentar lagi kamu akan menikah, dek. Seperti baru kemarin mas mengantar kamu ke Blora untuk mulai mondok.”


Dan itu adalah kalimat mas Wahyu yang dia katakan saat kemarin malam dia mengantar sebuah baju pengantin yang akan kukenakan ke dalam kamar. Saat itu aku masih begitu terkagum-kagum dengan baju pengantin warna putih yang terlihat begitu indah hingga aku tidak memperhatikan kalimat mas Wahyu. Aku mengabaikan rentetan kalimat kakak laki-lakiku dan sibuk mengamati setiap detail gaun pengantin yang akan kukenakan besok pagi.


Tapi saat ini, saat aku masih duduk di atas sajadah selepas sholat isya tiba-tiba saja perasaanku membuncah seperti tidak sanggup lagi kutahan. Entah karena suasana yang begitu melankolis dengan nasyid-nasyid yang diputar oleh pemuda-pemuda karang taruna di depan rumahku, atau karena suara ibu-ibu tetangga yang mulai sibuk mempersiapkan acara malam ini. Membuatku berulang kali menghela napas dalam untuk setidaknya membuat perasaanku lebih terkendali.


“Itu calon pengantin prianya? Yang pakai baju batik itu?”


“Bukan yang pakai baju batik, pengantin prianya yang pakai kacamata itu.”


“Tampan sekali, cocok dengan Faza yang cantik.”


Lagi-lagi perasaanku semakin tidak karuan saat dari sebelah kamarku terdengar obrolan dari bapak-bapak yang juga menghadiri acara pengajian malam ini. Ya, acara malam ini adalah pengajian dimana aku dan mas Gibran harus sama-sama menghadiri acara itu meski nantinya kami dipisahkan di tempat yang berbeda. Dan obrolan-obrolan dari bapak-bapak di samping kamarku yang membicarakan mas Gibran semakin membuatku gugup.


“Nduk,” aku bahkan nyaris melompat dari tempatku duduk karena saking gugupnya saat seseorang membuka pintu kamarku dan mendapati abah berdiri disana.


“Ya, bah?”


“Sudah siap? Mas Gibran dan rombongannya sudah datang dan tamu-tamu juga sudah siap.” Jelas abah setelah duduk di tepi ranjangku dan memperhatikanku yang sedang merapikan mukenah dan sajadah yang baru saja kukenakan.


Sementara alih-alih menjawab pertanyaan abah, aku justru menarik napas dalam sebelum duduk disamping abah dan memperhatikan lelaki itu lamat-lamat.

__ADS_1


“Bah,” mulaiku dengan nada ragu. Aku bahkan memainkan ujung jilbab yang kukenakan untuk mengurangi rasa gugupku. “Bagaimana kalau nanti Za tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas Gibran? Bagaimana kalau nanti Za tidak bisa menjadi seperti ibu yang lembut dan penuh kasih sayang?” aku memang tidak bisa mengingkari kenyataan kalau aku mengkhawatirkan hal itu, bahkan sejak aku, abah dan mas Gibran mendaftarkan pernikahan kami ke KUA pekan lalu.


Tentang bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku.


Tentang bagaimana jadinya kalau nantinya aku masih saja bertingkah seperti anak kecil yang egois meski aku sudah bersuami.


“Kamu akan tahu hal itu setelah kamu menjalaninya, nduk.” Dengan lembut abah menyentuh puncak kepalaku dan tersenyum tipis. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin abah sampaikan padaku, namun tertahan di ujung lidahnya sendiri. “Tapi selama kamu menjalaninya, kamu juga harus tetap belajar bagaimana caranya menjadi istri yang baik. Istri yang diridhoi oleh suami dan Allah. Karena setelah kamu menjadi seorang istri, ridho suamimu juga berarti ridho Allah.”


“Sebab setelah para saksi berucap bahwa pernikahan kalian sah, saat itu pula tanggung jawab terhadap diri kamu berpindah dari abah pada Gibran. Sepenuhnya lahir dan batin.”


“Abah,” dan pada akhirnya aku memang tidak bisa menahan rasa panas dimataku dan membiarkanya menjelma menjadi tangis.


“Tapi jangan khawarit nduk, meski tanggung jawab terhadap diri kamu sudah bukan lagi ada di tangan abah, abah tetap bertanggung jawab pada pernikahanmu dengan Gibran. Sebab abah yang menikahkan kalian dan abah yang menjadi wali kamu.”


“Abah menerima lamaran mas Gibran bukan karena terpaksa ‘kan, bah?” akhirnya aku menanyakannya juga pada abah. Sebab sejak awal aku selalu berpikir kalau abah menerima lamaran mas Gibran tempo hari karena tidak tahan melihatku menangis dan bersimpuh dihadapannya. Sungguh, aku tidak ingin abah merestui pernikahan kami karena terpaksa.


Aku tidak sadar kapan aku memeluk abah dengan begitu protektif. Aku hanya tahu jika saat ini aku sudah menangis dipelukan abah dan berulang kali mengucapkan terima kasih untuk lelaki ini.


“Patuhi Gibran seperti kamu mematuhi abah. Saling mengingatkanlah kalian dalam kebaikan. Insyaa Allah, Allah janjikan surga untuk kalian.” Sambung abah sembari mencium puncak kepalaku dan membisikkan serangkaian doa dengan begitu takzim. Inilah abah yang sedang mencoba untuk jujur pada dirinya sendiri.


Inilah abah yang tengah merasa berat untuk melepaskan anak perempuannya dan menyerahkannya pada seorang laki-laki yang besok pagi akan menjabat tangannya dan mengucap ijab qabul bersamanya. Ijab qabul yang menjadi tanda hakiki bahwa tanggung jawab anak perempuan yang selama ini telah ia jaga sudah berpindah pada pundak suami anak perempuannya. Pada anak menantunya.


“Faza sayang abah.”


“Demi Allah, abah juga sayang Faza.”


Malam ini, untuk kesekian kalinya aku tidak mampu menahan air mata disepanjang acara pengajian. Mendengar lantunan suara ayat-ayat suci al-quran yang dibacakan dengan begitu tartil dari balik tirai yang menjadi penghalang antara laki-laki dan perempuan malam ini. Mulai dari abah yang membacakan surat An-Nuur, mas Gibran yang membacakan surat At-Taubah dengan begitu tartil hingga membuatku tak mampu berkata-kata dan hanya mampu menunduk serta berkali-kali menyeka air mataku.

__ADS_1


‘Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.’ (Qur’an 30;21)


Suaraku bahkan terdengar serak karena isak tangis pada saat tiba giliranku untuk membacakan surat Ar-Ruum setelah abah dan mas Gibran menyelesaikan giliran mereka. Bahkan ibu berkali-kali menyeka air mata yang terus turun diwajahku dengan ibu jarinya. Tapi ibu tahu jika tangisanku malam ini bukanlah tangisan kesedihan seperti saat aku menangis dan bersimpuh di hadapan abah tiga minggu yang lalu. Ini adalah tangis kebahagiaan seorang anak perempuan yang sedang mencoba menghayati ayat-ayat Allah dengan hatinya. Ini adalah tangisan haru dari seorang anak perempuan yang mulai menyadari jika menjadi seorang anak perempuan adalah anugerah terbasar yang dia dapat dari-Nya.


“Jodoh itu sudah tertulis, tidak akan tertukar. Semua orang sudah punya jodohnya masing-masing.” Potongan-potongan ceramah yang pernah ummi Haidar berikan pada para santrinya beberapa tahun lalu kembali terputar didalam kepalaku.


Ceramah-ceramah tentang jodoh yang saat itu masih masuk melalui telinga kiri dan keluar melalui telinga kananku. Ceramah-ceramah sebelum subuh yang saat itu masih belum mampu mengalahkan rasa kantukku hingga tak jarang aku tertidur di pojok masjid hingga beberapa kali Ainun menarik mukenahku hanya agar aku kembali membuka mata. Ceramah yang beberapa tahun lalu masih kuabaikan, namun saat ini seperti sebuah petuah yang amat berharga untukku.


“Yang kemudian menjadi ujian kita adalah bagaimana cara kita menjemput jodoh kita. Berbeda cara, berbeda juga keberkahannya. Semakin mulia cara menjemput jodoh, semakin berkah pula jodoh kita.”


Jika saja saat ini ada ummi Haidar, aku akan bertanya padanya apakah caraku menjemput jodoh sudah benar? Apa caraku menjemput jodohku sudah mampu mendatangkan keberkahan-Nya pada pernikahanku nanti?


“Dan bagi seorang perempuan, tidak ada cara yang paling mulia dalam menjemput jodoh kecuali menjaga diri dan kehormatan sebagai seroang wanita. Bukankah dalam al-quran Allah sudah berfirman bahwa perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik begitu pula sebaliknya? Jadi, teruslah menjadi wanita sholihah hingga suatu saat kalian ditemukan oleh seorang laki-laki sholeh.”


“Ummi, apa kehormatan seorang perempuan ditentukan oleh laki-laki yang mendampinginya?” bahkan pertanyaan dari Ziya, salah satu teman pondokku kembali terputar dalam kepalaku. Pertanyaan yang lagi-lagi saat itu kudengarkan dengan setengah hati sebelum akhirnya Ainun menyeretku ke kemar mandi untuk mengambil air wudhu.


“Tentu saja tidak.” untuk bagian ini, saat ummi Haidar menjawab pertanyan Ziya, aku yang baru saja kembali dari kamar mandi mengerutkan kening karena tidak setuju pada jawaban ummi Haidar. “Kemuliaan seorang perempuan tidak ditentukan oleh laki-laki yang mendampinginya.”


“Bagaimana bisa begitu, umm?”


“Allah menempatkan nama dua wanita mulia dalam Al-quran. Maryam dan Asiyah. Tentu kita tahu kalau Maryam adalah wanita suci ibunda Nabi Isa ‘alaihissalam dan tidak bersuami. Sementara Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Fir’aun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? Tentu tidak.”


Dan butuh waktu hingga bertahun-tahun bagiku untuk bisa benar-benar memahami maksud sebenarnya dari ceramah sebelum subuh yang ummi Haidar berikan pada kami. Butuh waktu hingga bertahun-tahun bagi akal sehatku untuk mampu menjabarkan bahwa kemuliaan seorang perempuan tidak ditentukan oleh laki-laki yang mendampinginya, tapi kemuliaan laki-laki ditentukan oleh wanita yang mendampinginya. Semakin mulia seorang istri, maka akan semakin mulai juga seorang laki-laki. Itulah kenapa kami selalu diajarkan untuk menjadi wanita sholihah. Agar suatu saat kami mampu memuliakan diri kami, juga memuliakan laki-laki yang menjadi pendamping kami.


‘Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.’


(H.R. Muslim)

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2