Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
3. Pertemuan Dan Ingatan (1)


__ADS_3

Gibran


Hujan yang sudah turun sejak subuh tadi masih menyisakan gerimis saat aku keluar dari mobil dan mendongak keatas. Memperhatikan gedung berlantai tujuh dihadapanku yang mulai hari ini akan menjadi tempat kerjaku. Membiarkan rintik halus gerimis membasahi kacamataku dan membuat pandanganku kabur karena air hujan.


“Baiklah, saatnya perbaiki tingkahmu dan bersikaplah layaknya laki-laki dewasa 28 tahun, Gibran.” Gumamku dan mendesah pelan. Merasakan bermacam-macam perasaan di hari senin pagi bukanlah sesuatu yang ingin dirasakan orang-orang, begitu pula dengan diriku.


Tapi nyatanya aku merasakan hal itu pagi ini. Campuran antara semangat dan malas membaur menjadi satu dan berusaha saling mengalahkan satu sama lain. Aku bersemangat karena hari ini adalah hari pertama aku memulai karir sebagai seorang dosen setelah sebelumnya hanya kesana kemari melakukan penelitian serta menjadi seorang guru privat untuk beberapa siswa selama setahun selepas aku menyelesaikan program magisterku dua tahun lalu.


Tapi mengingat kalau mulai hari ini aku akan kehilangan kebebasan tidur hingga tengah hari membuatku menggerutu tak urung juga. Ditambah dengan sisa-sisa rasa lelah karena perjalanan dari Jakarta ke Surabaya minggu lalu masih terasa, dan hal itu semakin membuatku malas bangun dari tempat tidur meski sudah pukul tujuh pagi.


“Dan? Itu artinya setiap hari kamu akan bertemu dengan dedek-dedek mahasiswa yang masih polos dan imut-imut itu, man. Aku jadi iri setengah mati denganmu.” Aku bahkan masih ingat betul kalimat sarkastik yang Haris berikan untukku saat aku mengatakan harus pindah ke Surabaya dan mulai mengajar disalah satu perguruan tinggi swasta di sana.


Haris, teman kuliahku yang entah bagaimana bisa terdampar menjadi seorang manajer tim basket regional sementara saat kuliah anak itu mengambil jurusan manajemen islam, sama denganku.


“Sayangnya aku belum seputus asa itu sampai tertarik pada anak dibawah umur, Ris.”


Seorang sarjana dan master manajemen islam. Baiklah, jangan bayangkan sosok seorang Gibran Wibisana yang alim, kalem dan agamis karena menempuh pendidikan berlatar islam selama enam tahun. Sebab nyatanya aku tidaklah berbeda dengan teman-teman kuliahku yang mengambil jurusan teknik sipil atau teknik mesin.


Tidak ada Gibran yang santun dan lemah lembut hingga menjadi menantu idaman para orang tua. Juga tidak ada Gibran yang bisa bersikap manis pada semua orang dengan tersenyum lebar dan berbicara dengan ramah. Aku masihlah pria 28 tahun yang tidak jarang berbalas ejekan dengan sesama temanku seperti yang sering kulakukan dengan Haris.

__ADS_1


“Memang kamu pikir berapa usia seorang mahasiswa, man? Paling muda juga delapan belas tahun dan kamu tidak akan terlihat seperti pria pedofil hanya karena mengencani gadis delapan belas tahun.” Dan mengingat kalimat Haris membuatku bergidik ngeri sembari berjalan melewati selasar kampus dan sesekali mengangguk dan tersenyum pada para mahasiswa yang menyapa. Tapi kalimat Haris tak urung membuat pikiranku bekerja lebih liar dari sebelumnya dan mulai memikirkan berapa usia seorang mahasiswa semester enam yang harus kuampu setengah jam lagi.


“Pak Gibran.” Sapaan seorang pria berkemeja batik sama seperti yang kukenakan membuatku menyingkirkan pikiran konyol tentang usia mahasiswa semester enam. Menyungging senyum ramah dan membalas uluran tangan pria itu. Beni Atmaja, dosen mata kuliah Etika Bisnis yang juga harus mengampu kelas pagi untuk mahasiswa semester enam.


“Pak Beni,”


“Semangat mengajar di hari senin pagi?” pria yang kutebak baru memasuki usia empat puluh ini terlihat begitu bersemangat saat mensejajari langkahku menuju ruang multimedia dimana kelasku diadakan pagi ini. Kontras sekali denganku yang bahkan masih memasang wajah masam meski sudah berada di depan kelas.


“Sedikit gugup, pak.” Aku tidak berbohong, karena nyatanya aku memang sedikit gugup hari ini.


“Santai saja pak, cukup perkenalkan diri pak Gibran, beri para mahasiswa itu senyum, dan mereka akan dengan mudah menyukai dosen muda seperti bapak.” Dan aku hanya tertawa hambar untuk menanggapi kelakar pak Beni yang terkesan begitu menyelepekan kegiatan mengajar dihari pertamaku menjadi seorang dosen.


“Pak Gibran sudah berkeluarga?” seorang gadis berjilbab biru muda yang duduk di deretan kursi nomor dua bahkan dengan berani menanyakan hal seperti itu padaku saat aku baru saja selesai memperkenalkan diri. Membuatku lagi-lagi hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


“Belum. Mungkin saya masih jauh dari tipikal menantu idaman para calon mertua.” Jawabku singkat yang mengundang tawa seluruh kelas. Dan melihat tawa mereka semua membuatku kembali mengingat kalimat Haris kemarin malam.


“Mahasiswa sekarang tidak sepolos mahasiswa jaman kita, man. Bisa jadi pikiran mereka lebih liar dari pikiranmu sendiri.”


Meski Haris mengatakannya sembari tergelak, tetap saja aku memikirkan kemungkinan seperti itu. Dan aku menyaksikan sendiri sekarang. Betapa liar dan bebasnya pemikiran mahasiswa semester enam yang kutebak rata-rata usia mereka adalah dua puluh tahunan.

__ADS_1


“Kalau pacar, pak?”


Sungguh, apa seorang mahasiswi memang harus memberikan pertanyaan seperti itu pada dosen pria yang mengajarnya? Ah, kaum milenial. Lagi-lagi aku teringat kalimat Haris, dan tanpa sadar aku menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.


“Pacaran dilarang agama, tidak boleh.” Jawabku tak urung juga sebab aku benar-benar tidak ingin dianggap dosen baru yang sombong karena tidak menjawab pertanyaan sepele dari mahasiswinya.


Tapi sebenarnya aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para mahasiswi itu karena menanyakan hal-hal yang terlalu personal padaku, karena itu artinya mereka masihlah mahasiswi normal yang mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis.


“Keinginan untuk dikenal dan diakui di dalam kelas.”


Tak urung aku tersenyum tipis sembari mulai membuka diktat yang tadi kubawa dari kantor dan belum sempat kusentuh lagi setelah kuletakkan di atas meja setengah jam yang lalu.


Bukan hanya para mahasiswi itu saja sebenarnya, akupun pernah melakukan hal yang sama dengan memberondong seorang dosen perempuan yang baru mengajar dikelasku saat aku sedang menempuh program sarjana. Memberi dosen perempuan itu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan mata kuliah hanya karena aku ingin dosen cantik itu mengenaliku sebagai mahasiswanya.


Sama sepertiku, para mahasiswi yang menanyakan hal-hal konyol itu padaku karena mereka merasa aku perlu untuk mengenalnya dan mengakui kalau mereka adalah salah satu mahasiswiku.


Sebab semua orang ingin diakui dan butuh apa itu yang dinamakan dengan pengakuan orang lain. Sesederhana itu sebenarnya.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2