
Faza
Hari jumat.
Biasanya aku akan begitu bersemangat setiap kali adzan maghirb berkumandang di hari kamis dan mengingat kalau esok adalah hari jumat. Tapi hari ini rasanya aku bahkan malas sekali untuk bangkit berjalan menuju kamar mandi meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, itulah kenapa aku memilih untuk bermalas-malasan di rumah dibandingkan untuk berangkat ke kampus seperti jumat-jumat sebelumnya. Dan tentu saja alasan kenapa aku memilih untuk berdiam diri di rumah seperti orang malas adalah karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat bertemu dengan pak Gibran nanti.
“Tumben kamu lesu sekali hari jumat begini? Biasanya paling semangat kalau hari jumat.” Ibu bahkan merasa perlu untuk tahu apa yang membuat anak perempuannya memilih untuk bermalas-malasan di rumah dibandingkan berangkat ke kampus seperti biasanya.
“Sedang kurang enak badan, bu.” Aku tidak sepenuhnya berbohong karena kenyataannya tenggorokanku rasanya benar-benar tidak nyaman sejak aku bangun jam tiga dini hari tadi.
“Minum obat, nduk. Panas begini kamu.” benar-benar tipikal ibu yang bahkan perlu menempelkan pipinya pada dahiku. “Jangan ke kampus dulu, ya. Istirahat di rumah.”
“Za tidak apa-apa, bu. Lagipula hari ini harus ke kantor Tempo untuk mengantar proposal. Jadi harus ke kampus.” Belaku yang membuat ibu menarik napas dalam sebelum berlalu dan membuatkan segelas susu coklat hangat untukku. Lagi-lagi ibu paham jika anak perempuannya bukan tipikal anak manja yang tidak berangkat ke kampus hanya karena sedikit tidak enak badan.
Sebenarnya aku masih bersemangat seperti biasanya, meski setiap kali memikirkan kalau nanti aku akan bertemu dan bersama-sama dengan pak Gibran pergi ke kantor Tempo membuat semangatku sedikit menguar. Pun begitu dengan semangat yang kudapat dari pertemuanku dengan Ainun kemarin sore. Rasanya seperti hari ini yang mendominasi perasaanku justru kegundahan yang kembali memenuhi hatiku.
__ADS_1
“Kalau kamu memang tidak menginginkan laki-laki yang dipilihkan abahmu, ya kamu harusnya mengatakan hal ini sejak awal, Za.” Bahkan jawaban yang Ainun berikan padaku kemarin sore kembali terngiang dikepalaku. Jawaban yang Ainun berikan saat aku mengatakan tentang lamaran dari mas Arifin yang tak lain adalah anak dari sahabat abah.
Ah, aku lupa mengatakan kalau sekarang Ainun Nisa telah menjelma menjadi sosok perempuan dewasa yang begitu anggun. Ainun bahkan sedang mengandung anak pertamanya setelah menikah dua tahun lalu dengan laki-laki bernama Rendra. Aku tahu kalau Ainun memang jauh lebih matang dariku meski usia kami hanya terpaut satu tahun. Tapi aku benar-benar kaget saat anak itu mengatakan kalau dia memutuskan untuk menikah diusianya yang ke 19 tahun. Dan dengan perubahan yang begitu besar pada diri Ainun membuatku semakin terlihat seperti adik perempuannya alih-alih sebagai teman mondoknya dulu.
“Hanya karena laki-laki itu adalah anak dari sahabat abah kamu, tidak lantas kamu harus menerimanya ‘kan?” Tidak ada sorot menghakimi dari tatapan yang Ainun berikan untukku saat aku mengatakan kalau aku setengah hati menerima tawaran ta’aruf yang mas Arifin berikan padaku. “Tidak baik kalau kamu menerimanya dengan setengah hati begitu, Za. Itu hanya akan melukai perasaan Arifin, juga perasaan kamu.” Ainun bahkan beranjak dari duduknya dan duduk disampingku agar dia bisa memelukku. Pelukan hangat seorang Ainun Nisa-pun nyatanya sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti tiga tahun lalu saat kami berpisah di pintu gerbang pondok.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti abah, Nun.”
“Aku yakin kalau abahmu juga tidak ingin memaksa kamu menerima lamaran itu, Za.” Memang benar abah tidak pernah memaksaku untuk menerima tawaran untuk melakukan ta’aruf dengan mas Arifin. Hanya saja, lagi-lagi aku tidak bisa menolak sebab aku tidak ingin membuat abah kecewa. “Rumah tangga adalah ladang ibadah semumur hidup. Dan syarat ibadah adalah ikhlas. Lantas ibadah seperti apa yang akan kalian jalani nantinya kalau kamu tidak ikhlas?”
Hatiku mencelos mendengar kalimat Ainun yang terasa seperti tangan tak kasatmata yang menamparku. Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini?
“Menyukai seseorang?”
“Dia dosenku di kampus. Kamu ingat laki-laki yang kupinjami payung saat kita di stasiun Cepu bulan desember empat tahun lalu?” kali ini Ainun yang mengerutkan kening tidak mengerti mendengar jawaban sekaligus pertanyaanku. Entah kaget karena mengetahui aku menyukai dosenku sendiri atau kaget karena pertanyaan tentang masa lalu kami empat tahun lalu.
“Laki-laki muda itu?”
__ADS_1
“Namanya Gibran Wibisana. Dan dia menjadi dosen dikampusku sejak awal semester ini.”
Aku tidak tahu apa yang Ainun pikirkan hingga dia memilih terdiam sembari terus mengelus punggungku dengan lembut.
“Dia tahu kalau kamu adalah anak perempuan yang pernah meminjaminya payung empat tahun lalu?” tanya Ainun setelah hampir lima menit kami sama-sama terdiam dan hanya saling mengamati satu sama lain. Sementara aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ainun.
Rasanya seperti sedang mendapat penghakiman atas pengakuanku beberapa menit yang lalu meski kenyataannya Ainun sama sekali tidak melakukan hal seperti itu.
“Kenapa kamu menerima tawaran ta’aruf dengan Arifin sementara kamu sudah menyukai laki-laki lain, Za?”
“Tolong jangan menghakimiku seperti ini, Nun.”
“Aku tidak sedang menghakimi kamu. Aku mengatakannya karena aku menyayangi kamu.” Aku tahu. Tentu saja aku tahu kalau Ainun sama sekali tidak menghakimiku dan dia mengatakan semua ini karena menyayangiku. Hanya saja, emosiku yang tiba-tiba saja terpantik membuatku mengatakan hal itu pada Ainun.
“Pikirkan lagi tentang tawaran ta’aruf itu, Za. Jangan sampai kamu mendapat dosa karena melakukan sesuatu yang nantinya akan melukai Arifin.” Ucap Ainun lagi setelah menghela napas berkali-kali. “Juga tentang perasaan kamu. Kalau kamu memang tulus dengan perasaanmu terhadap Gibran, maka tidak ada salahnya kalau kamu mengatakan langsung padanya.”
Mengatakan langsung pada pak Gibran tentang perasaanku terhadapnya? Bagaimana aku harus mengatakan tentang perasanaku kalau menatapnya saja aku tidak berani?
__ADS_1
* * * * *