Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
17. (Re) Sebuah Rasa Cinta? (1)


__ADS_3

Faza


Aku baru saja mengaktifkan ponsel setelah sejak pagi benda itu kubiarkan mati, begitu mataku menyipit saat mendapati sebuah email. Sebuah email yang membuatku mengurungkan niat untuk menyesap minuman dari botol ditanganku dan memilih untuk kembali menutup botol itu.


“Ainun?”


Lama aku mengamati layar ponselku dan meneliti alamat yang mengirim email padaku. Bukan, bukan alamat emailnya yang sedang kuperhatikan, tapi sebuah nama yang terbentuk dari deretan alphabet dan angka pada alamat email itu. Sebuah nama yang tidak lagi asing untukku dan nama yang memang akhir-akhir ini kupikirkan.


To : Aulia Faza


From : Nisa Ainun


Sub : Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh


Apa kabar, Za? Bagaimana kabar kamu sayang? Semoga Allah ta’ala selalu melindungi kamu.


Maaf karena terlalu lama menghilang dan tidak menghubungi kamu meski aku sudah berjanji akan menghubungi kamu. Aku baru saja membuka catatan lama saat aku menemukan alamat emailmu. Mungkin ini jawaban yang Allah berikan untuk doaku selama dua minggu belakangan ini. Sejak kita berpisah tiga tahun lalu, ini pertama kalinya aku begitu resah memikirkan kamu, Za. Kamu baik-baik saja ‘kan?


Segera balas surelku begitu kamu membacanya.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Ainun. Teman sekamar yang sudah seperti kakak perempuan untukku. Ainun Nisa, teman sekamar yang menjadi saksi dari kenakalan seorang Faza semasa menjadi santri pada sebuah pondok pesantren di Blora. Gadis lugu yang sering kuajak memetik mangga disamping rumah pengasuh pondok. Gadis polos yang selalu mengerti perasaanku bahkan meski aku tidak mengatakannya secara langsung.


“Jadi ikatan batin diantara kita memang sudah sekuat ini?” gumamku sembari menyusut air mata yang tiba-tiba saja sudah turun tanpa kusadari. Aku merindukan Ainun. Aku rindu sosok kakak perempuan yang selalu bisa memahamiku setiap kali egoku sebagai seorang gadis muda mulai berontak.


*To : Nisa Ainun


From : Aulia Faza


Sub : (Re) Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh


Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh


Ainun, aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada kamu. Mungkin ikatan batin kita memang semakin kuat semenjak kita berpisah tiga tahun lalu. Kabarku baik, Allah selalu melimpahkan kebaikan-Nya padaku. Satu-satunya hal yang membuatku nyaris sesak napas adalah karena aku merindukan kamu, Nun.


Kapan kamu akan mengunjungi Surabaya? Aku akan selalu menunggu kamu. Mungkin ada beberapa hal yang ingin kamu dengar dari perjalananku selepas berhenti mondok. Dan aku yakin kalau aku sangat butuh nasehat kamu disaat-saat seperti ini.


Salam rindu dariku, saudariku*


Tak urung aku hanya bisa menjatuhkan kepala diatas meja dihadapanku. Dadaku yang tiba-tiba menjadi sesak luar biasa dan rasa rinduku pada Ainun membuatku kehilangan kata-kata dan hanya bisa menahan tangis. Berharap tidak ada orang yang tiba-tiba memasuki ruang rapat ini sebab rapat pembahasan seminar nasional masih akan dimulai setengah jam lagi. Hanya karena perkuliahanku sudah selesai sejam sejam yang lalu, itulah kenapa aku memilih untuk menunggu teman-teman LPM di ruang rapat. Hanya rencana awal, sebelum perasaanku justru menjadi tidak karuan karena membuka email dari Ainun. Email yang sebenarnya selalu kutunggu, tapi juga email yang membuat dadaku sesak tidak karuan.

__ADS_1


“Aku butuh kamu, Nun.” Gumamku sekali lagi dan menyentuh dadaku yang semakin terasa sesak. “Aku butuh nasehat kamu.” benar, nyatanya aku memang butuh sosok seorang Ainun Nisa yang meski terkadang bermulut tajam saat mengomentari kelakuanku, tapi Ainun selalu bisa memberikan jawaban untuk kegundahan hatiku.


“Berjanjilah kamu tidak akan mengubah alamat surel kamu, Za.” Ingatan saat dimana Ainun menuliskan alamat emailnya pada buku agendaku dan aku yang menuliskan alamat emailku pada buku catatan milik gadis itu bahkan kembali terputar dikepalaku.


Tiga tahun yang lalu, saat santri angkatanku dan Ainun baru saja selesai meng-khatamkan hafalan kitab kami. Saat itu dua minggu setelah kelulusanku dari sekolah dan sehari sebelum kembalinya aku ke Surabaya karena abah memintaku untuk melanjutkan kuliah di Surabaya. Saat itu aku bahkan kehilangan kata-kata yang ingin kuucapkan pada Ainun.


“Aku akan menghubungi kamu begitu aku mendapat izin dari abi untuk menggunakan ponsel pintar.” Sambung Ainun sembari menyerahkan buku agenda milikku dan aku mengembalikan buku catatan milik gadis itu.


Selama tujuh tahun mondok di Blora aku memang sama sekali tidak mengenal apa itu ponsel dan bagaimana orang-orang berkomunikasi dengan benda itu. Alamat email-pun kudapat dari tugas di sekolah yang dibuatkan oleh teman sekelasku yang bernama Inayah. Kami, para santri memang tidak diijinkan untuk menggunakan perangkat ponsel atau sejenisnya untuk menghindarkan kami dari hal-hal yang tidak diinginkan.


“Kamu akan melanjutkan kuliah dimana?” tanyaku kala itu. Tidak menyadari jika suaraku mulai parau karana sejak tadi menahan tangis.


“Aku tidak tahu, Za. Entah aku akan melanjutkan kuliah seperti kamu, entah aku akan menikah dengan laki-laki pilihan abi, atau aku akan mengajar di masjid dekat rumah di Kendal, aku belum tahu.” begitulah Ainun. Nyatanya gadis itu memang dibesarkan dilingkungan keluarga yang begitu menjunjung tinggi ajaran agama. Tidak sekalipun Ainun menentang keinginan orang tuanya seperti yang sering kulakukan pada ibu dan abah.


“Bagaimana kalau suatu saat aku butuh nasehat kamu, Nun?”


“Itulah kenapa kita bertukar alamat surel, Za. Agar dikemudian hari kita bisa bertukar kabar.”


Dan kami butuh hingga tiga tahun sampai akhirnya kami saling memberi kabar satu sama lain. Entah aku yang begitu sibuk dengan dunia dan kuliahku hingga melupakan buku agenda dimana Ainun menuliskan alamat emailnya, atau Allah yang memang merencanakan pertemuan kami seperti ini.


*To : Aulia Faza


From : Nisa Ainun


Sub : (Re) Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh


Kali ini aku tidak bisa menahan air mata haru begitu membaca email balasan dari Ainun sebelum menuliskan deretan nomor yang gadis itu berikan padaku.


“Betapa Allah begitu murah hati pada kita, Nun.” Gumamku sembari menyusut air mataku untuk kesekian kalinya. Benar juga, betapa takdir begitu baik karena mendatangkan Ainun ke Surabaya disaat seperti ini. “Suami? Kurasa aku melewatkan begitu banyak hal dari kamu sejak tiga tahun lalu.”


Seperti ada sebuah beban yang terangkat dari pundakku saat ponselku berdenting dan membuka balasan dari Ainun untuk pesan yang kukirimkan sepuluh menit yang lalu. Tersenyum lega saat gadis itu mengiyakan ajakanku untuk bertemu hari kamis siang selepas aku menyelesaikan perkuliahanku.


Lagi-lagi aku berterima kasih pada Allah yang begitu baik padaku karena ternyata hotel tempat Ainun dan suaminya menginap tidak jauh dari kampusku.


Ah, mungkin memang benar kalau ikatan batin antara aku dan Ainun memang sudah sekuat ini.


* * * * *


“Oke, kalau begitu proposal untuk calon sponsor harus sudah tersebar paling lambat hari jumat dan hari sabtu kita adakan evaluasi lagi.” sekali lagi aku hanya mengangguk mendengar penjelasan dari mas Gilang, ketua LPM kampus yang setiap kali berbicara seolah dia sedang berorasi di depan gedung pemerintahan. Mencatat apa yang memang perlu kucatat pada buku agendaku sembari sesekali mengobrol dengan Aruna yang duduk tepat disebelahku.


Baiklah, sebenarnya aku bukan tipikal mahasiswi badung yang gemar mengobrol saat orang lain sedang menyampaikan pendapatnya di depan ruang rapat. Aku hanya melakukannya untuk mengalihkan perhatianku dari seseorang yang duduk di kursi depan yang hanya berjarak dua baris kursi dari tempatku duduk. Seseorang yang entah kenapa seperti memperhatikanku bahkan sejak dia melangkah masuk kedalam ruang rapat ini dan menempati kursi di depan ruang rapat dan memimpin rapat hari ini.

__ADS_1


“Faza?” lagi-lagi suara tegas milik mas Gilang membuatku mengangkat wajah dari buku agendaku dan menoleh kearahnya. Dan, lagi-lagi aku terdistraksi oleh dia yang masih duduk dikursinya sembari menulis sesuatu pada buku catatan miliknya sebelum dengan tangan kiri dia melepas kacamata yang sejak tadi membingkai wajahnya.


“Ya, mas?”


“Besok kamis siang kamu dan aku ke kantor Tempo press untuk menegosiasikan proposal kita. Kita berangkat jam 1 siang. Kuliah kamu selesai jam 12.20 ‘kan?” aku menyipitkan mata untuk beberapa saat mendengar penjelasan dari mas Gilang. Bukan karena dia yang ternyata hapal jadwal kuliahku, tapi karena kalimat mas Gilang yang justru terdengar seperti perintah mutlak untukku. Tunggu, apa dia bilang? Hari kamis siang?


“Kamis siang? Kenapa harus kamis siang, mas?” aku tidak membual saat mengatakan kalau pak Gibran, yang sejak tadi terlihat tidak acuh langsung menoleh kearahku begitu aku membuka suara.


“Karena Tempo press hanya buka sampai hari jumat, Faza.”


“Kalau begitu hari jumat saja kita ke Tempo press, mas. Hari kamis siang aku tidak bisa. Sudah terlanjur ada janji.”


“Janji kencan, Za?” seloroh Tania yang duduk didepanku dan membuatku meliriknya dengan ekor mata tanpa berniat untuk membalas ledekannya.


“Tidak bisa, Faza.” Benar-benar mas Gilang yang tidak bisa dibantah. Laki-laki itu bahkan mendesah kesal seolah aku telah melawanya puluhan kali. “Hari jumat aku full kuliah dari jam 9 sampai jam lima. Dan proposal untuk Tempo press harus sudah sampai ke tangan redaktur paling tidak hari jumat. Kamu tahu sendiri kalau mereka yang paling sulit memberikan sponsor.”


“Kalau begitu biar aku saja yang menemui pihak Tempo, mas. Biar aku yang melakukan negosiasi dengan pak Reynaldi.” Sungguh, aku tidak bisa membatalkan begitu saja janji temuku dengan Ainun. Aku memang bukan tipikal orang yang akan mendahulukan kepentinganku dibandingkan kepentingan orang banyak, tapi ada kalanya aku butuh ruang dan waktu untuk kepentinganku sendiri.


“Tanpa pendampingan ketua panitia? Ya ampun, Za. Aku bukannya meremehkan kemampuan negosiasi kamu, tapi apa kata pak Reynaldi kalau ketua panitia menyerahkan urusan sepenting ini pada sie humas?”


“Pak Reynaldi? Maksudnya Agung Reynaldi ketua redaktur Tempo?” kali ini pandangan mataku tertuju pada pak Gibran yang membuka suara. Mungkin pria itu tidak tahan mendengar perdebatan antara dua mahasiswanya yang saling adu pendapat. Membuat bantahan yang sebenarnya sudah di ujung lidah untuk kuberikan pada mas Gilang kembali kutelan dan memilih untuk menyesap minuman dari botol dihadapanku.


“Iya, pak. Agung Reynaldi. Pak Gibran kenal dengan beliau?”


“Kami sempat bertemu beberapa kali saat pak Rey masih menjadi asisten redaktur di kantor Tempo Jakarta.” Tanpa sadar kunaikan alis saat melirik mas Gilang yang terlihat begitu kagum serta takjub mendengar penjelasan pak Gibran. Setelah beberapa saat yang lalu laki-laki itu seperti ingin menerkamku, sekarang dia bahkan memasang wajah imut seolah dia adalah anak kucing yang lucu dan menggemaskan.


“Kalau begitu biar saya dan Faza yang menemui pak Reynaldi di kantor Tempo. Besok jumat.” Sambung pak Gibran yang seolah tidak perlu meminta persetujuan dari siapapun. Yah, tentu saja pria itu bisa memutuskan apa saja sebab dialah penanggung jawab seminar bulan depan.


“Saya bisa pergi ke kantor Tempo sendiri, pak.”


“Akan lebih mudah mendapat sponsor dari Tempo kalau kamu pergi bersama pak Gibran, Za.” Benar-benar tipikal mas Gilang yang menyebalkan setengah mati. Dia kenapa sih? Se-terobsesi itukah dia dengan dana sponsor dari Tempo?


“Dengan kita pergi hari jumat, kamu tidak harus membatalkan janji kamu besok kamis, juga tidak harus mengganggu jam kuliah Gilang, Za. Kita bisa pergi selepas sholat jumat karena jam mengajar saya hanya sampai jam 10.40.”


‘Tapi pergi ke kantor Tempo bersama bapak bukan pilihan yang ingin saya ambil, pak. Lantas bagaimana nanti saya harus bersikap saat kita terjebak di situasi yang sama setelah beberapa hari yang lalu saya mengaku pada Hana kalau saya menyukai anda, pak Gibran Wibisana yang terhormat?’


Sebenarnya aku ingin meneriakkan kalimat itu pada pak Gibran dan membuatnya membiarkanku menemui pak Reynaldi sendirian saja. Tapi sungguh, aku belum seputus asa itu untuk berteriak seperti gadis gila pada dosenku sendiri. Itulah kenapa aku hanya mengangguk tanpa berniat untuk menoleh kearah pria itu.


“Baik, pak.”


Yah, anggap saja aku sedang menjalankan tugas mulia sebagai anggota panitia yang beradab dengan menuruti perintah dari penanggung jawab serta ketua panitia acara.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2