Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
8. Hujan dan Sebuah Rasa (2)


__ADS_3

Gibran


Lagi-lagi hujan di bulan Februari. Aku tidak tahu kapan tepatnya iklim geografis di negeri ini menjadi begitu amburadul. Sejauh yang kuingat, saat aku masih SD dulu, pembagian musim hujan adalah bulan Oktober sampai Maret, dan itu artinya bulan Februari sudah tidak ada hujan lagi ‘kan? Tapi nyatanya pagi ini hujan masih saja turun dengan deras sejak subuh. Membuatku berdecak kesal untuk kesekian kalinya begitu outlander sport milikku telah terparkir di pelataran parkir gedung satu. Bukan kesal karena hujan yang turun di pagi hari, tapi kesal karena menyadari lagi-lagi aku lupa menaruh payung dimobilku.


“Padahal sudah diingat-ingat untuk membawa payung.” Gumamku sembari membuka pintu mobil dan berlari dari pelataran parkir menuju teras gedung satu.


“Tidak bawa payung, pak?” tanya seorang perempuan yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingku dan memperhatikanku yang sedang menyingkirkan sisa-sisa air yang membasahi rambutku. Ibu Namira, dosen mata kuliah manajemen risiko yang terlihat begitu santun dengan jilbab lebar dan belum sekalipun aku melihat perempuan ini mengajar menggunakan celana panjang. Kenyataan yang lagi-lagi mengingatkanku pada gadis bergamis kuning pucat itu.


Hujan dan gadis bernama Faza, entah sejak kapan dua hal itu selalu membuatku menjadi melankolis seperti anak perempuan. Semenjak pertemuan pertama kali di pintu masuk selasar kampus seminggu yang lalu? Atau jauh sebelum itu?


“Lupa, bu.”


“Berarti sudah saatnya mencari orang yang selalu mengingatkan untuk membawa payung, pak.” Seloroh bu Namira yang membuatku kehilangan kata-kata dan berakhir dengan memberinya tawa aneh. Baru kemarin malam om Rudi membuatku uring-uringan karena usul konyolnya tentang perjodohan untukku, dan sekarang bu Namira juga membahas hal yang sama. Ya ampun, sekarang aku benar-benar merasa seperti bujangan menyedihkan yang belum menemukan perempuan potensial untuk kujadikan istri diusiaku yang ke 28.


“Masih belum bisa move on dari mbak Aida, mas?” bahkan tiba-tiba saja pertanyaan Renata, adik perempuanku yang pernah kudengar sebelum aku berangkat ke Surabaya sebulan yang lalu seperti terputar begitu saja didalam kepalaku. Percakapan yang awalnya hanya seputar tentang hubungan adik perempuanku dengan pacarnya yang berujung dengan Renata yang terus mencecariku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan romantismeku.


“Kamu menanyakan hal yang tidak perlu, Nat.”


Memang benar, nyatanya Renata Wibisana tahu betul bagiamana kakak laki-lakinya yang seperti terjebak dalam kompartemen masa lalu bersama mendiang calon istrinya. Itulah kenapa aku hanya menarik napas dalam tanpa menjawab pertanyaan Renata dengan jawaban ya atau tidak. Renata bahkan tahu bagaimana putus asanya aku sebulan setelah kematian Aida hingga aku bahkan mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru saja kudapatkan. Aku sadar betul bagaimana adik perempuanku itu mengkhawatirkan kakak laki-lakinya hingga tidak jarang Renata menangis karena melihat kondisiku.


“Sudah hampir enam tahun, mas. Aku juga yakin kalau mbak Aida tidak suka mas Gibran terus menerus seperti ini.”


Lagi-lagi Renata benar, tidak seharusnya aku bermuram durja selama bertahun-tahun setelah kematian Aida. Tapi lagi-lagi aku melakukannya alih-alih melanjutkan hidup dan mencari pekerjaan pengganti. Aku butuh untuk melakukannya sebab itulah caraku bertahan dalam rasa sakit yang kurasakan karena kepergian Aida.


“Mas tahu, Nat.”


“Lantas apalagi yang membuat mas Gibran ragu?”


Apa yang membuatku ragu? Tentu saja karena selama enam tahun semenjak kematian Aida, belum sekalipun aku bertemu dengan gadis seperti mendiang calon istriku itu. Belum sekalipun aku bertemu dengan seorang gadis yang membuatku tidak mampu berpaling seperti aku tidak mampu berpaling dari Aida Restanti. Aku masih menunggu, hingga tiba saat dimana aku bertemu dengan seorang gadis yang mampu membuatku tidak sanggup berpaling saat aku menatapnya.


Tidak jarang aku tersenyum getir untuk menertawakan diriku sendiri setiap kali berkaca dan menatap bayangan seorang pria pengecut yang gagal move on yang bersembunyi dibalik sosok pria dewasa yang terlihat begitu tenang. Bukan hanya sekali aku mengutuk diriku sendiri yang begitu lemah yang tidak mampu bangkit dari kubangan kesedihan selepas kematian Aida enam tahun yang lalu.


Enam tahun, dan selama enam tahun itu pula aku tidak pernah berhenti mencari pembenaran untuk semua sikap pengecutku. Aku selalu mengatakan ‘belum siap’ setiap kali ada seorang gadis yang secara terang-terangan menyatakan perasaannya padaku. Lagi-lagi aku hanya mencari alasan dan pembenaran dengan harapan aku tidak akan menyakiti perasaan mereka semua. Meski dengan menolak perasaan mereka saja sebenarnya aku sudah melukai perasaan gadis itu. Aku terus saja menjadikan ‘rasa sakit’ dan ‘patah hati’ sebagai alibi untuk semua penolakan yang kuberikan pada gadis-gadis itu.


Patah hati

__ADS_1


Nyatanya aku memang merasakan patah hati yang begitu hebat saat mengetahui kalau Aida tidak bisa selamat dari kecelakaan yang dialaminya enam tahun yang lalu, dan meninggal hanya dua bulan menjelang pernikahan kami.


Hatiku tidak hanya patah, tapi hancur hingga aku sendiri tidak sanggup mengenali bentuknya lagi. Meski berulang kali orang tuaku, Renata, bahkan Haris mengatakan padaku kalau semua yang terjadi antara aku dan Aida adalah takdir, tapi tetap saja sebuah hati yang patah tidak bisa menerima begitu saja nasehat seperti itu.


Dan aku tahu kalau semua memang takdir dan rencana Allah. Pertemuanku dengan Aida di Sekre Hima tujuh tahun yang lalu, pertemuan-pertemuan kami setelah itu, bahkan hingga aku dengan penuh percaya diri melamar Aida, semuanya adalah takdir Allah. Pun begitu dengan kecelakaan yang Aida alami hingga merenggut kehidupannya. Itu adalah takdir yang Allah tuliskan untukku dan Aida Restanti. Hanya saja, aku masih terlalu sulit untuk menerima takdir itu.


“Selamat siang,”


Seolah kenangan tentang Aida, kalimat-kalimat Renata, dan juga hujan yang belum reda tidak cukup untuk membuatku menjadi begitu melankolis dihari senin keduaku mengajar di kampus ini. Bahkan saat ini, hanya beberapa saat setelah aku masuk dan mengucap salam di depan kelas, pikiranku kembali dikacaukan oleh seseorang di dalam kelas itu. Baiklah, aku berlebihan sekali kedengarannya sebab orang itu hanya diam dan menjawab salamku sebelum kembali fokus pada buku dihadapannya.


Faza Aulia


Aku tidak mengerti kenapa, tapi rasanya seolah keberadaan gadis itu benar-benar menggangguku. Bukan mengganggu dalam arti harfiah memang, hanya saja aku kesulitan sendiri jika harus memberi deskripsi pada perasaanku setiap kali aku mengajar dikelasnya atau setiap kali aku melihatnya tanpa sengaja.


Seperti ada sesuatu yang seharusnya bisa kujelaskan, tapi otakku terlalu enggan untuk melakukannya.


* * * * *


Pernah kudengar orang-orang mengatakan kalau sesuatu yang mengganjal di masa lalu bisa sangat mengganggu bahkan membuat frustasi sendiri. Dan kurasa aku memang harus membenarkan ucapan orang-orang itu meski sebenarnya aku enggan sekali mengakuinya. Memang terkadang ada saat dimana aku menjadi Gibran Wibisana yang begitu melankolis saat tanpa sadar sesuatu dari masa laluku tiba-tiba saja muncul tanpa komando.


Tapi kali ini, bahkan sejak kemarin, sejak jam mengajarku di kelas A3 semester enam program studi manajemen islam berakhir, perasaanku sudah tidak karuan. Bukan terganggu karena para mahasiswa membuat ulah dan berakhir dengan membuatku kesal setengah mati. Bukan karena itu. Mereka mahasiswa yang patuh dan terkadang menggemaskan dengan tingkah dan polah mereka.


Tapi aku kesal karena sesuatu yang bahkan tidak tahu harus kusebut apa. Serasa ada hal besar yang begitu menggangguku tapi aku sendiri bahkan tidak sanggup melihat hal besar itu. Baiklah, kuakui kalau keberadaan Faza Aulia di kelas itu punya andil besar untuk perasaan yang kurasakan saat ini. Ah, lagi-lagi aku serasa dipecundangi oleh mahasiswiku sendiri.


“Kupikir semua kardus sudah dibongkar.” Gumamku setengah kesal saat mendapati sebuah kardus ukuran besar yang entah bagaimana bisa tergeletak begitu saja didalam gudang dalam kondisi masih tertutup rapat. Yah, alih-alih jalan-jalan atau sekedar membunuh waktu di kedai kopi untuk mengalihkan perhatian, aku justru merapihkan rumah sederhanaku karena hari ini aku tidak ada jadwal mengajar.


“Apa sih isinya?” tanyaku pada diri sendiri seperti pria bodoh sembari membuka kardus setelah mengeluarkannya dari dalam gudang.


Aku ingat saat pindah dari Jakarta ke Surabaya bulan lalu, ada banyak kardus yang kurir turunkan dari truk pengangkut barang yang kusewa. Hanya saja aku tidak tahu kalau ada satu dari sekian banyak kardus yang terbengkalai selama sebulan. Yah, mungkin itulah kenapa aku seperti merasa kehilangan beberapa barang yang kuyakin sudah kubawa dari Jakarta.


“F.A.Z.A.”


Aku baru saja akan mengeluarkan sebuah stereo speaker saat perhatianku justru teralihkan pada sebuah payung lipat berwarna merah yang warnanya sudah pudar. Bukan pada payungnya sebenarnya, tapi pada gagang kayu warna coklat muda dimana terdapat deretan huruf dari spidol warna hitam. Deretan empat huruf yang membuatku mengurungkan niat meraih speaker dan justru mengamati payung lipat itu.


“Faza? Sebenarnya ada berapa banyak orang bernama Faza di dunia ini?” dan setelah aku uruing-uringan sejak kemarin karena seorang gadis bernama Faza, sekarang aku justru menemukan sebuah payung lipat dengan nama FAZA di dalam kardus yang tersimpan di gudang rumahku sendiri.

__ADS_1


“Tunggu, memang payung ini punya siapa?” jelas jika payung ini milikku maka aku akan menamainya dengan namaku sendiri alih-alih menamainya dengan nama orang lain.


Dan aku baru saja akan mengabaikan payung usang itu saat sesuatu di dalam kepalaku tiba-tiba saja terputar. Aku ingat sekarang, payung ini memang bukan milikku.


“Payung merah.” Kuraih kembali payung yang sudah kuletakkan di dalam kardus dan mengamati deretan nama itu sekali lagi. “Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini?” erangku frustasi saat menyadari kenapa payung itu diberi nama F.A.Z.A dan bagaimana bisa payung itu ada di dalam kardus yang tersimpan di gudang rumahku. Tentu saja karena payung ini milik gadis bernama Faza yang dia pinjamkan padaku empat tahun yang lalu.


Yah, aku ingat sekarang. Saat itu aku baru saja tiba di stasiun Cepu setelah menempuh perjalanan dari Jakarta untuk tiba di Blora. Saat itu bulan Desember dan profesor Himawan memintaku untuk menjadi partner penelitian beliau di Blora. Desember, bulan dimana hujan di Blora terlihat lebih menakutkan dibandingkan hujan di Jakarta.


“Sedang terburu-buru ya, pak? Silahkan pakai payung saya, sepertinya hujan masih akan turun sampai sore.”


Seorang gadis muda yang kutebak masih SMA yang dengan percaya dirinya memanggilku dengan sebutan ‘pak’ dan menawarkan payung yang ia bawa padaku. Seorang gadis muda dengan jilbab merah bata yang terlihat manis saat tersenyum dan meyakinkanku kalau jemputannya akan segera tiba dan aku bisa memakai payung merah miliknya.


Dan aku, entah karena begitu terburu-buru sebab profesor Himawan sudah menunggu di auditorium kampus tempat kami akan mengadakan presentasi untuk penelitian kami, atau karena aku terlalu terkejut karena dipanggil ‘pak’ diusiaku yang ke 24. Dengan percaya diri pula aku menerima payung yang gadis itu tawarkan tanpa repot-repot bertanya kemana aku harus mengembalikan payung merah ini. Merasakan gadis berjilbab merah bata itu terus memperhatikanku yang menerobos hujan dan berlari kearah terminal. Aku baru menyadari kebodohanku setelah duduk di kursi paling belakang di dalam bus yang akan membawaku menuju sebuah kampus dimana profesor Himawan menungguku.


“Bagus sekali. Terus kemana aku harus mengembalikan payung ini?” tanyaku pada diri sendiri pada saat itu. Menyadari jika seorang Gibran Wibisana pun bisa melakukan kebodohan semacam ini. Saat itu aku hanya berpikir bagiamana caranya untuk segera sampai di kampus dan jangan sampai terlambat, tanpa mau repot-repot memikirkan kemana aku harus mengembalikan payung merah itu. Tidak mungkin ‘kan aku menunggu gadis berjilbab merah bata itu di stasiun seperti orang bodoh?


Tapi nyatanya perasaan seperti itu hanya bertahan sebentar sebab setelahnya aku begitu sibuk memikirkan tentang penelitianku bersama profesor Himawan dan revisi-revisi serta monev yang sering kami lakukan.


Dengan cepat aku melupakan payung merah dan juga gadis berjilbab merah bata itu. Melupakan pikiran tentang dimana dan kemana aku harus mengembalikan payung itu. Bahkan hingga aku kembali ke Jakarta dua minggu berikutnya, aku tidak lagi memikirkan tentang payung merah itu. Aku memang membawa payung merah itu kembali ke Jakarta, hanya saja aku kembali mengabaikan benda itu seolah payung merah yang menyelamatkanku dari amukan profesor Himawan adalah benda tak kasatmata yang tergeletak begitu saja di atas rak buku di dalam kamar pribadiku.


“Maaf karena aku melupakan kebaikan kamu, Za.”


Batinku sembari menarik napas dalam sekali lagi.


Dan aneh, rasanya seperti ada sesuatu yang terangkat dari dalam hatiku yang sejak tadi begitu membuatku tidak karuan. Jadi, alasan kenapa aku terganggu sekali oleh keberadaan gadis itu adalah karena payung ini?


“Pantas aku merasa tidak asing saat pertama kali bertemu kamu.”


Tentu saja, sebab di masa lalu aku dan gadis itu pernah bertemu meski aku hanya sempat memperhatikan wajahnya beberapa detik.


Empat tahun yang lalu, bulan Desember di stasiun Cepu setibanya aku di Blora. Seorang gadis muda berjilbab merah bata yang meski hanya untuk beberapa detik, tapi telah berhasil mencuri perhatianku. Gadis muda yang mencuri perhatianku untuk beberapa detik namun kulupakan selama bertahun-tahun.


Dan kami dipertemukan lagi empat tahun kemudian di sebuah kampus dimana gadis berjilbab merah bata dan gadis pemilik payung merah ini menjadi mahasiswiku.


Aku tahu jika ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pertemuan keduaku dengan Faza, serta rasa aneh yang kurasakan setiap kali bertemu dengan gadis itu adalah bagian dari takdir kami. Tapi, bukankah segala hal yang terjadi adalah jalan yang Allah siapkan untuk hamba-Nya? Pun begitu dengan pertemuanku dengan Faza Aulia empat tahun sebelum ini, dan pertemuan kedua kami dua minggu yang lalu.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2