Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
1. Sisa Hujan Bulan Lalu (1)


__ADS_3

Faza


Surabaya, Februari 2017


Senin pagi diawal bulan Februari, udara dingin, selimut tebal dan hujan. Benar-benar perpaduan yang sangat sempurna untuk kembali meringkuk di balik selimut seperti orang malas. Hanya saja, hasrat untuk bermalas-malasan di senin pagi yang hujan dan dingin terkalahkan oleh kenyataan jika hari ini, awal bulan kedua, aku harus mengakhiri liburan semesterku dan kembali menjalankan rutinitas yang telah kujalani selama tiga tahun. Kuliah. Aktifitas monoton dengan pergi pagi dan pulang petang yang dilakukan oleh kebanyakan anak muda awal dua puluh tahunan sepertiku.


Dan mengingat hal itu tak urung membuatku mendesah kesal. Tapi lagi-lagi aku sadar kalau aku harus menjalankan tugas sebagai seorang mahasiswi berbudi pekerti luhur dengan tiba di kampus setengah jam sebelum perkuliahan dimulai. Ya ampun, aku terdengar seperti mahasiswa kelewat rajin kalau seperti ini. Tapi sungguh, aku hanya sedang mencoba untuk menjalankan tugas mahasiswa sebagai agen masa depan dengan menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab.


“Za, sudah subuh sayang.”


Baiklah, aku sedang membual karena kenyataannya sekarang sudah jam empat lebih tiga puluh menit dan adzan subuh sudah berhenti sekitar lima belas menit yang lalu. Dan aku bahkan masih enggan untuk sekedar menurunkan selimut yang membungkus tubuhku untuk membalas panggilan ibu. Hanya menggeliat saat seseorang menyalakan lampu kamarku dan membuatku menyipit.


“Lebih baik sholat daripada tidur, Faza Aulia.”


Jika saja yang menyalakan lampu kamarku dan membisikkan kalimat itu adalah abah, sudah pasti aku akan melompat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tapi aku masih bisa membedakan mana suara serak khas milik abah dan suara mas Wahyu, kakak laki-lakiku.


“Bangun, dek. Subuh sudah lewat dua puluh menit, lho.” Ucap mas Wahyu lagi yang kali ini menaikkan nada suaranya.


“Lima menit lagi, mas. Masih ngantuk.” Balasku dengan suara serak. Dan kujamin saat ini mas Wahyu sedang menaikkan sebelah alisnya yang tebal itu dan memikirkan cara agar adik perempuannya bangun untuk melaksanakan sholat subuh.


“Dan abah akan tiba di rumah dalam lima menit.” Sambung mas Wahyu yang tak urung membuatku melompat dari atas ranjang. Meraih ikat rambut dengan setengah sadar sebelum berlari ke kamar mandi. Tapi aku benar-benar yakin kalau mas Wahyu sedang tertawa melihatku kalang kabut karena mendengar nama abah sebelum kakak laki-lakiku itu keluar kamarku.


Abah, betapa aku menghormati sosok lelaki itu hingga hanya dengan mendengar namanya saja aku kehilangan rasa kantuk yang sejak tadi menggelayuti sepasang mataku. Bukan, aku bukan takut abah marah padaku karena mendapati anak perempuannya belum bangun bahkan hingga dirinya kembali dari masjid didekat rumah kami. Aku bukan takut abah mengamuk karena aku terlambat setengah jam dalam memenuhi panggilan Allah pagi ini. Tapi karena aku menghormati lelaki itu hingga rasanya aku tidak ingin membuat abah kecewa.


Benar, sebab abah akan sangat kecewa saat mendapati anak perempuannya terlambat sholat subuh hingga setengah jam karena semalam harus lembur sampai jam satu dini hari untuk mengerjakan proyek tulisan yang sedang kukerjakan. Astaga, aku benar-benar berdoa agar mas Wahyu tidak mengadu pada abah kalau aku terlambat bangun pagi ini.


“Anak perempuan bisa menjadi sebesar-besar fitnah, juga bisa menjadi seluas-luasnya ladang pahala bagi orang tua. Jadi, berbangga dan berhati-hatilah kalian karena menjadi anak perempuan adalah sebuah tugas yang sangat mulia.”


Dan mendengar suara abah dari arah dapur membuatku kembali teringat nasehat salah seorang guruku. Ummi Usammah, salah seorang pengasuh pondok serta guru yang mengasuhku sejak usiaku sepuluh tahun. Yah, meski sebenarnya aku berat sekali mengakuinya, tapi kenyataannya memang seperti itu.

__ADS_1


Aku, Faza Aulia yang bahkan harus diancam dulu oleh kakak laki-lakinya untuk bangun dan menjalankan sholat subuh adalah mantan santri pondok pesantren. Kenyataan yang terkadang membuatku malu sendiri sebab ilmu agama dan kesadaranku terhadap kewajiban menjalankan perintah agama masihlah sangat dangkal. Meski tidak setiap hari seperti itu, tetap saja rasanya aku tidak pantas menyandang galar ‘santri’ di belakang namaku.


Saat itu usiaku masih sepuluh tahun dan aku masih kelas empat sekolah dasar ketika abah menawariku untuk pindah sekolah dan mulai mondok. Abah tidak pernah memaksaku untuk mondok dan menawariku apakah aku bersedia tinggal di pondok pesantren dan berpisah dari orang tua serta kakak laki-lakiku diusiaku yang masih begitu muda.


“Kalau Faza mondok, nanti sekolah Faza bagaimana, bah?” dan itu adalah pertanyaan dari Faza kecil yang masih begitu polos, juga ingin tahu tentang apa itu mondok dan seperti apa rasanya menjadi seorang santri.


“Faza tetap sekolah seperti biasa kok.” Dan dengan lembut abah memberiku pengertian jika aku akan tetap sekolah seperti teman-temanku yang lain. Seperti Karim, seperti Nanda, juga seperti mas Wahyu. “Hanya saja, Faza sekolahnya dua kali. Paginya sekolah bersama bapak ibu guru dan belajar matematika dan bahasa. Sore sampai malamnya Faza ngaji bersama teman-teman santri lain belajar fiqih dan kitab-kitab. Juga melakukan hal-hal menyenangkan seperti tahzin dan tahfidz.”


Saat itu aku bahkan tidak tahu apa itu fiqih dan kitab-kitab seperti apa yang akan kupelajari, juga seperti apa itu tahfidz dan tahsin, meski aku mengangguk dengan semangat saat menerima tawaran abah.


Lagi-lagi aku mengangguk dengan begitu semangat saat abah menceritakan kalau dirinya dulu juga mondok dan mendapat banyak teman. Dulu, saat seorang Faza Aulia masihlah seorang anak kecil sepuluh tahun, yang ada dalam pikirannya hanya ‘betapa menyenangkannya mempunyai banyak teman’. Hanya seperti itu hingga aku tidak lagi memikirkan jika menjadi santri putri diusiaku yang ke sepuluh bukanlah perkara mudah.


“Mondok? Jadi kamu pernah manjadi santri pondok pesantren, Za?” aku bahkan masih ingat wajah kaget Hana disemester kedua kuliah kami saat aku dan Hana berbagi cerita tentang masa kecil kami.


“Sejak usiaku sepuluh tahun kalau tidak salah.”


Tapi tetap saja aku tidak ingin dianggap sebagai seorang gadis 20 tahun yang pernah mengenyam kehidupan pondok pesantren selama tujuh tahun. Aku tetaplah gadis biasa. Sama seperti yang lainnya meski kenyataannya aku mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda dari teman-temanku.


“Asal kamu tahu saja, Han. Aku masuk kedalam golongan santri yang badung.” Aku tidak sedang membual, sebab nyatanya Faza Aulia memanglah bukan seorang gadis lemah lembut seperti penampilannya. Aku bahkan sudah lupa berapa kali aku dipanggil oleh pengasuh pondok dan membuat Ummi Usammah mengelus dada karena kenakalanku.


“Tidak ada santri badung yang seperti kamu, Za.”


Entahlah, terlalu banyak kenangan yang kudapat selama menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Blora. Hingga rasanya aku butuh berminggu-minggu untuk menceritakan semua kenangan yang kudapat selama mondok disana. Mulai dari homesick yang menderaku di bulan ketiga aku mondok hingga aku menangis dan membuat Ummi Usammah kalang kabut. Resahnya aku saat harus setoran hafalan al-quran pada Ummi Haidar dan aku masih belum hafal barang setengahnya saja. Bahkan aku masih ingat saat aku dan Ainun, salah satu teman sekamarku diam-diam keluar kamar jam delapan malam untuk memetik buah mangga di samping rumah pengasuh pondok.


Tapi, satu hal yang selalu kukatakan pada mereka yang bertanya padaku tentang bagaimana rasanya hidup terpisah dari orang tua diusiaku yang ke sepuluh. Aku bahagia. Aku bahkan berulang kali berterima kasih pada abah karena telah memasukkanku ke pondok pesantren di usiaku yang begitu muda.


* * * * *


“Pemandangan indah di senin pagi, Za.” Aku nyaris menjatuhkan ponsel ditanganku saat sebuah suara tiba-tiba terdengar disampingku. Hana, yang justru menampilkan cengiran khas miliknya saat aku menoleh dan menatapnya tajam.

__ADS_1


Hana Harsono, gadis cantik berambut sebahu yang entah kenapa suka sekali mengagetkanku seperti ini dan berakhir membuatku memberinya tatapan ngeri. Hana, gadis cantik yang entah bagaimana awalnya kami bisa begitu akrab sejak semester satu hingga semester enam dan membuat teman-teman kami sering menjuluki kami dengan kembar siam.


“Hujan disenin pagi memang pemandangan indah, Han. Tapi bukan sesuatu yang harus kamu kagumi seperti itu.” tak urung aku tertawa kecil dan memasukkan ponsel ditanganku kedalam saku baju. Menautkan kedua tanganku dan menyandarkannya pada pagar pembatas didepanku.


“Kamu pikir aku gadis pemuja hujan yang akan berbinar-binar hanya karena hujan turun?” lagi-lagi aku hanya tertawa kecil mendengar kalimat Hana yang memang terdengar lucu untukku.


“Lalu?”


“Lihat di bawah sana.” Jawab Hana dengan penuh semangat dan menunjuk kearah pelataran parkir di bawah kami dimana sebuah outlander sport putih baru saja memasuki halaman parkir dan seorang pria keluar dari dalam mobil itu.


Dan aku bukan tidak menyadarinya kalau yang dimaksud dengan ‘pemandangan indah’ oleh Hana bukanlah hujan yang masih saja turun. Tapi seorang pria dengan baju batik coklat dan celana gelap yang berdiri di samping mobilnya, dan terlihat tidak acuh dengan gerimis yang masih turun. Hanya sejenak, sebelum pria itu berlalu kedalam gedung dan menghilang dari pandanganku dan Hana.


“Kurasa para mahasiswa akan semakin bersemangat mengkuti kuliah pagi kalau dosennya seperti dia semua.” Kali ini Hana yang tergelak di ujung kalimatnya sendiri.


“Memang kamu yakin kalau dia dosen baru disini?”


“Astaga, Za. Kamu lihat dong seragamnya, itu seragam dosen kampus ini.” kali ini kalimat Hana penuh penekanan seolah aku adalah gadis idiot yang lupa seperti apa seragam untuk para dosen di kampus tempatnya kuliah. “Aku nggak tahu kalau kamu bisa lupa seperti apa seragam para dosen setelah libur semester satu setengah bulan.” Sambung Hana sembari mengikutiku berjalan menaiki anak tangga untuk naik ke lantai lima dimana kelas pagi akan diadakan sepuluh menit lagi.


“Terlalu banyak proyek, Han. Jadi lupa seperti apa bentuk dan warna seragam para dosen di kampus kita.”


“Banyak proyek? Banyak pemasukan juga dong? Ah, aku malah kehabisan uang selama liburan kemarin.”


“Kok kalimat kamu malah membuatku tersinggung ya? Bahkan untuk tiket perjalanan kamu ke Lombok dengan pesawat ekonomi saja, aku harus bekerja setahun penuh dengan menulis ratusan artikel.”


Lagi-lagi Hana hanya tertawa menanggapi kalimat sarkastikku. Benar, saat aku harus mendekam di dalam kamar dan menulis puluhan artikel, dengan bahagiannya Hana memamerkan foto-foto perjalanan liburannya ke Lombok. Membuatku hanya terseyum sendiri karena aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan perjalanan sejauh itu.


“Lain kali kita jalan-jalan bersama.” Dan aku hanya mengangguk mengiyakan. Mengakhiri obrolan kami karena pak Beni, dosen mata kuliah Etika Bisnis yang akan mengampu kelas kami sudah berdiri di depan pintu kelas dan terlihat sedang bercakap-cakap dengan seseorang.


Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku penasaran sekali dengan siapa pak Beni bercakap-cakap hingga mengabaikan mahasiswanya yang sudah menunggu di dalam kelas sejak sepuluh menit yang lalu.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2