
" Saya belum mempunyai hubungan apapun dengan Andrew ssi, masih hanya sekedar sahabat. Sungguh!?"
Ayahnya Andrew itu geleng-geleng kepala dan tersenyum.
Beliau langsung paham maksud Meysha, yang mengira Dia akan membuat perhitungan dengan Meysha atas kegagalan perjodohannya Andrew dan Yerin.
"Saya tidak pernah menuduh begitu. Saya
percaya pada Saudari Meysha. Juga Saya percaya pada anak saya. Saya mengundang Anda
datang kemari untuk menunaikan janji saya pada anak
saya itu. Saya berjanji akan membantunya menyunting
wanita yang diinginkannya. Dan ketika Andrew ingin menyunting saudari Meysha, Saya memang tidak langsung setuju. Sebab Saya terlalu berpikir matang, perbedaan budaya dan juga keyakinan. Saya pernah berharap Andrew kembali ke keyakinan nenek moyang Kita. Namun Saya sadar itu hak Andrew.Saya berharap dan sangat berharap saudari Meysha tidakmenolak pinangan ini. Ini pinangan serius tapi belum resmi. Jika Meysha setuju, serius, nanti Kami sekeluarga akan meminang secara resmi dengan membawa beberapa anggota keluarga." Jelas Ayahnya Andrew bagaikan mimpi disiang bolong.
Meysha tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang disampaikan Ayahnya Andrew itu sangat jelas, Dia dengar dan sangat jelas maksudnya.
" Jadi jawab saja Apa yang saudari Meysha sukai dari putra Saya?"
Meysha terdiam. Bagaimanapun juga, Meysha merasa Dia sendiri tidak tahu apa yang Dia sukai. Keyakinan? Dia masih belajar. Ketampanan? Itu relatif. Banyak orang yang tampan juga diluar sana. Harta? Meysha sendiri bisa mencari harta, apalagi hanya harta dunia. Bagi Meysha itu tidak terlalu menarik,Meysha pun mengambil penilaian dari sudut lain.
Salah satu cara terbaik untuk menjawab alasan tersebut. Meysha pun memikirkan kembali apa yang Dia lihat dari diri Andrew. Meysha hanya teringat bagaimana perilakunya saat pertama kali bertemu dengan Andrew, tutur kata yang diucapkan, dan Dia cocok dengan visi misi Meysha dalam hidup. Itu semua adalah bagian dari alasan sederhana yang bisa Meysha rasakan.
" Tutur kata, keyakinan yang teguh dan memiliki visi misi hidup yang lebih baik." Jawab Meysha.
Ayahnya Andrew pun terlihat merespon positif akan alasannya tersebut. Dan menganggap Meysha juga setuju dengan pinangan yang masih belum resmj tersebut. Selanjutnya perbincangan Mereka tentang keluarga. Tidak selang lama Ibunya datang juga. Sehingga ikut mengobrol dengan Meysha. Walaupun sebenarnya Meysha sangat cangguh. Namun Dia berusaha terlihat rileks.
Setelah selesai, Meysha pun berpamitan pulang. Tidak lupa, Dia belanja dulu disalah satu mini market. Seminggu penuh Meysha memikirkan bagaimana tanggapan Ayahnya.Secara Meysha mencoba membahas Andrew, tanggapan Ayahnya tidak positif. Beliau merasa Andrew bukan orang yang tepat untuk dirinya. Dengan baground publik figur, Ayah Meysha merasa itu akan membuat Meysha menderita tekanan batin.
Meysha disuruh membayangkan, bagaimana jika Andrew syuting drama beradegan mesra dengan lawan jenisnya dan pemaparan lainnya tentang publik figure.
Seminggu kemudian, Andrew terlihat datang menemui Meysha. Meysha yang sudah mendapat kabar dari Ibunya Andrew, jika Andrew akan kesitu tak terlalu kaget ketika melihat Andrew. Ayahnya Meysha sendiri yang terlihat terkejut.
“Apa Kau sakit?” Tanya Andrew pada Meysha yang terlihat pucat.
__ADS_1
“Tidak."
“Apa Kau tidak senang melihatku?"
" Tidak juga."
“Kenapa Kau tidak meneleponku? Kalau Kau diundang Ayahku waktu itu.”
“Aku juga sibuk. Dan waktu itu mendadak. ” Jawab Meysha.
“Karena khawatir makanya Aku datang. Aku tertidur saat membaca buku dan bermimpi buruk. Kau mengembalikan cincinku dan pergi. Aku ingin menghentikanmu tetapi kakiku tidak bisa digerakkan. Mungkin karena Aku berpikir tentangmu terus menerus." Ucap Andrew tertawa dan tak menyadari, jika gadis disampingnya tengah menatapnya dengan tatapan sedih, karena belum mendapatkan restu dari Ayahnya.
Handphone Andrew berbunyi, Manager Park mengabarkan, jika diriya harus sudah kembali ke lokasi syuting.Sesaat sebelum pergi, Andrew berpamitan pada Meysha.
“Tidak perduli bagaimanapun, melihatmu baik-baik saja membuatku merasa tenang . Ayahku akhir minggu ini akan meluangkan waktunya, Jadi insya Allah Minggu, Aku dan keluarga pasti akan menemui Ayahmu." Jelas Andrew lalu mengucapkan salam. Dan Meysha menjawab salamnya.
Hari-hari berikutnya Meysha berusaha meyakinkan Ayahnya. Namun Ayahnya masih tetap dengan pendiriannya. Meysha pun hanya bisa berdoa. Secara keyakinannya sudah bulat. Bahwa Andrew yang muncul dalam petunjuk-petunjukNYA.
Hingga akhirnya hari itu datang. Dhuhur berkumandang di handphone Meysha.Tanda waktu
Menunaikan kewajiban tiba. Meysha segera menunaikan kewajibannya. Pembicaraan dengan keluarga Andrew itu tidak
kecewa, jika yang diharapkan tak terjadi lagi.
Setelah shalat Dhuhur, Meysha mendapat telpon dari
Andrew. Meysha menjawabnya dengan permulaan salam. Begitu juga Andrew.
" Kami sekeluarga insyaallah akan berangkat sekarang Mey." Jelas Andrew menginfokan.
Meysha masih terasa bagaikan mimpi. Kedua sahabatnya lagi-lagi langsung meluncur ke rumah Meysha. Mereka membuat persiapan sederhana. Ayahnya yang biasa akhir pekan membaca koran itupun bingung. Namun lalu Meysha menjelaskan bahwa keluarga Andrew akan datang. Ayahnya pun terkejut. Karena selama ini Ayahnya berpikir, kemungkinan pihak keluarga Andrew lebih tidak akan menyetujui Mereka.
Tepat pukul satu siang. Andrew dan keluarga sampai dirumah Meysha. Dengan sopan santun budaya setempat Meysha, Ayahnya dan kedua sahabatnya menyambut Mereka.Mereka pun terlihat to the points untuk membicarakan tentang sebuah pinangan. Meysha pun terlihat khawatir. Secara Ayahnya pernah terang-terangan bilang kepada Meysha, bahwa Beliau menolak Andrew sebagai calonnya.
"Nak Andrew benar-benar serius?"
__ADS_1
"Iya." Andrew menganggukan kepalanya.
"Kalian sudah tahu kekurangan keluarga Kami?" Secara Meysha terlahir dari keluarga yang broken home. Iya, Ayah dan Ibunya telah bercerai.
"Iya. Tak ada manusia yang sempurna." Jawab Andrew.
"Kalau begitu Saya terima, tapi dengan syarat." Jelas Ayahnya Meysha.
"Akad nikahnya nanti malam setelah ba'da shalat isya di
masjid. Biar disaksikan oleh seluruh jamaah masjid.
Maharnya sesuai janji Nak Andrew. Surah Ar-Rahman." Tambah Ayahnya Meysha.
Keluarga Andrew yang tersentak kaget. Dia tidak
menduga Ayahnya akan mensyaratkan seperti itu. Begitu juga dengan Meysha.
"Apa nggak sebaiknya pernikahan dipersiapkan dahulu." Saran Ibunya Andrew.
"Tidak. Saya hanya
kuatir ada hal-hal di luar kekuasaan Kita, yang menggangu dan
membatalkan rencana itu. Mengingat Kalian sudah sama-sama dewasa. Bagi Saya lebih baik ya nanti
malam, atau tidak sama sekali."
Andrew memandang wajah Meysha lekat-lekat. Wajah yang teduh, kuat, berpendirian terhadap keyakinannya, namun sangat berkarakter. Pantas saja Dia juga mempunyai seorang Ayah yang sangat tegas dan begitu melindungi putrinya.
"Baiklah. Dalam hal ini Saya tidak memutuskan sendiri. Kami akan mendiskusikan dengan kerabat keluarga. Kami pamit dulu
dulu. Nanti malam Kami akan informasikan." Jelas Ayahnya Andrew.
Andrew dan keluarga itu pulang setelah berpamitan. Meysha memandang mobil Andrew dan keluarganya itu hingga hilang di tikungan. Ada kebahagiaan
__ADS_1
menyusup dalam hatinya. Tapi juga ada kecemasan. Secara syarat Ayahnya seperti itu.
To be Continued