
Faza
“Lamaran?”
Baru dua suap aku memasukkan nasi goreng kedalam mulutku saat abah mengatakan hal itu padaku. Lamaran. Sebuah kata sederhana yang membuatku kehilangan selera untuk menghabiskan sarapanku pagi ini. Memang tidak seharusnya kami membicarakan hal-hal berat seperti ini disaat kami semua sedang sarapan bersama dipagi hari. Tapi kupikir abah punya alasan kuat kenapa lelaki itu tidak menunggu hingga nanti malam dan memilih untuk mengatakannya sekarang.
“Lamaran untuk Faza, bah?” tidak hanya aku, mas Wahyu yang biasanya enggan untuk turut campur dan memotong kalimat abah, kali ini bahkan meletakkan sendoknya pada piring nasi gorengnya yang masih berisi setengah. Menoleh kearah abah sebelum menatapku dengan tatapan yang benar-benar sulit kuartikan.
“Semalam abah bertemu dengan seorang teman di majelis, dan beliau menanyakan kamu, Za.”
“Memangnya teman abah tahu Faza?”
“Pak Burhan, beberapa kali beliau dan abah terlibat diproyek yang sama. Dan kami sering mengobrol tentang kamu dan Arifin, anak laki-laki pak Burhan.”
Lamaran tanpa mengenal siapa yang melamar. Setelah sekian lama aku hanya mendengar istilah itu dari Ummi Usammah dan Ummi Haidar, akhirnnya sekarang aku mendengarnya dari abah. Dan cara abah menyampaikan padaku dengan begitu tenang kalau ada seorang laki-laki bernama Arifin yang hendak melamarku membuatku kehilangan kata-kata. Dalam keluarga kami, juga untukku yang menghabiskan bertahun-tahun hidup di pondok pesantren, hal seperti itu bukanlah hal baru.
Dulu, saat aku masih hidup di pondok, berkali-kali aku menyaksikan mbak-mbak santri yang sudah cukup umur dinikahkan oleh abah kyai dengan laki-laki yang bahkan belum mereka kenal sebelumnya. Aku dan Ainun juga sering menyaksikan pernikahan mereka. Dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, dipisahkan dan tidak diperkenankan bertemu sebelum si laki-laki mengucapkan ijab qabul di depan kyai dan para saksi.
Sangat sederhana, sesederhana mengucapkan ijab qabul untuk kemudian menjadikan mereka sah dimata agama dan pemerintah. Memang terdengar kolot sekali, tapi aku merasakan sebuah keharuan yang belum pernah kurasakan saat melihat mbak-mbak santri itu mengucap hamdallah berkali-kali setelah ia sah diperistri oleh seorang laki-laki pilihan abah kyai. Ada rasa haru yang membuncah memenuhi hatiku saat menyadari jika, dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya bisa begitu saling percaya untuk dipersatukan dalam sebuah ikatan bernama pernikahan.
“Faza belum siap, bah.” Kusendok kembali nasi goreng dari piringku untuk menutupi kegusaran yang tiba-tiba saja menyusup kedalam hatiku. Tidak berani mengangkat wajah untuk menatap abah dan memilih untuk melirik mas Wahyu yang duduk diseberangku.
Memang benar selalu ada rasa haru yang tidak bisa kujelaskan setiap kali aku menyaksikan pernikahan mbak-mbak pondok dengan suami mereka. Hanya saja aku sama sekali belum siap untuk hal-hal seperti itu. Pikiranku sebagai gadis muda 20 tahun masih belum bisa memahami apa itu pernikahan dan ikatan suci bersama lawan jenis.
“Bukan karena kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki kan, Za?” kali ini aku tersedak sisa kunyakan nasi goreng di dalam mulutku yang belum sempat kutelan. Memberanikan diri menoleh kearah abah yang juga sedang menoleh kearahku dengan tatapan menyelidik. Lagi-lagi aku tidak bisa menolak mengakui kalau tidak jarang abah mengkhawatirkan pergaulanku di kampus. Meski abah sudah memastikanku kuliah di kampus islam dan membentengiku dengan pakaian panjang dan jilbab lebar, tetap saja abah tidak bisa begitu saja melepaskanku tanpa mengkhawatirkan pergaulan anak perempuannya.
“Subhanallah, tidak bah. Faza memang belum siap untuk hal-hal seperti itu. Bukan karena Faza sedang dekat dengan seseorang.”
__ADS_1
Nyatanya pakaian yang dikenakan oleh seseorang tidak bisa mempresentasikan seperti apa orang itu. Banyak teman-teman kampusku yang berhijab sepertiku masih sering bergelayutan dengan teman-teman prianya tanpa merasa bersalah sedikitpun pada pakaian yang melekat pada tubuhnya. Pun dengan mereka yang hanya berjilbab biasa namun begitu santun dalam bertingkah dan seperti enggan untuk berdekatan dengan para pria. Jadi, aku jelas tidak bisa menyalahkan abah atas pertanyaan yang lelaki itu berikan padaku.
“Ta’aruf-an saja dulu. Kalau kamu merasa cocok dengan mas Arif, bisa lanjut. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Abah tidak akan memaksa kamu, nduk.”
Lagi, untuk kesekian kalinya abah menyerahkan semua keputusan padaku untuk segala hal yang menyangkut dengan diriku. Sama seperti sepuluh tahun lalu saat abah menawariku untuk berangkat mondok diusiaku yang kesepuluh. Pun demikian saat abah menawariku sebuah lamaran dari laki-laki bernama Arifin yang bahkan namanya saja baru kudengar sekali. Tidak ada paksaan yang abah berikan untukku.
Tapi tetap saja keputusan yang harus kupertimbangkan kali ini jauh lebih berat dari keputusan ayng harus kuambil sepuluh tahun lalu. Sebab keputusan untuk menikah di usia 20 tidak sesederhan harus mondok diusia ke 10. Itulah kenapa aku hanya mengangguk mengiyakan saat abah menawariku untuk melakukan ta’aruf dengan anak laki-laki pak Burhan.
* * * * *
Tapi meski abah menyerahkan semua keputusan tentang lamaran itu padaku, tetap saja aku tidak bisa berhenti memikirkan pembicaraan singkat kami tadi pagi. Bahkan sepanjang perkuliahan setengah jam yang lalu pikiranku sama sekali tidak bisa fokus pada materi yang dijelaskan oleh dosen tentang mata kuliah perbankan syariah. Berkali-kali aku menarik napas dalam dan berharap semua kegalauan yang kurasakan sedikit berkurang. Hanya untuk menyadari jika hal seserius lamaran memang tidak bisa diabaikan begitu saja.
“Nanti coba mas cari tahu siapa dan seperti apa itu mas Arifin,” bahkan kalimat mas Wahyu yang dia ucapkan padaku saat mengantarku ke kampus tidak bisa mengurangi beban pikiranku sejak tadi pagi.
Mungkin kakak laki-lakiku itu tahu kalau aku tidak setuju dengan lamaran ini tapi tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan pada abah dan menolak keputusan lelaki itu.
“Mas Wahyu tidak curiga seperti abah ‘kan?” tanyaku dengan nada takut-takut. Harus kuakui meski terkadang mas Wahyu bisa menjadi kakak laki-laki yang kolokan pada adik perempuannya, tapi mas Wahyu juga selalu bisa menempatkan diri sebagai kakak laki-laki yang baik untukku jika situasi kami tidak begitu baik.
“Curiga seperti apa?” seperti sekarang, meski aku sudah memasang wajah memelas dan memohon, tetap saja mas Wahyu masih menemukan celah untuk menggodaku dengan pertanyaannya yang menyebalkan itu.
“Mas,”
“Tidak, dek. Kamu pikir berapa tahun mas mengenal kamu? Meski kita pernah hidup terpisah selama tujuh tahun, tapi tetap saja mas sudah mengenal kamu seumur hidup. Dan mas tahu kalau kamu tidak akan melanggar aturan yang sudah kamu buat untuk diri kamu sendiri.”
Benar juga. Nyatanya mas Wahyu tetaplah laki-laki 26 tahun yang selalu bisa kuandalkan setiap kali aku terlalu takut untuk sekedar berbicara dengan abah. Mas Wahyu selalu bisa menjadi pendengarku meski hanya sekedar mendengarkan ceritaku tentang apapun yang mungkin bagi sebagian orang bukanlah sesuatu yang penting. Mas Wahyu selalu bisa mengambil porsi yang cukup setiap kali mendengarkan dan menanggapi ceritaku.
Meski terkadang ada beberapa hal dimana kami tidak bisa sepakat, tapi mas Wahyu tidak pernah membesar-besarkan masalah itu dan memilih untuk tidak membahasnya ketika bersamaku. Lagi-lagi setiap orang mempunyai pemahaman berbeda terhadap beberapa hal. Pun begitu denganku dan mas Wahyu. Kenyataan kalau kami adalah dua saudara kandung tidak lantas membuat kami selalu sependapat dan sepaham.
__ADS_1
“Something bad happen, Za?” tanya Hana tanpa tedeng aling-aling begitu kami berpapasan di tangga menuju lantai dua saat aku baru saja kembali dari musolah dan Hana baru saja sarapan, yang sebenarnya lebih pantas disebut dengan makan siang.
“Nope,” jawabku tak lupa dengan seulas senyum tipis.
Tentu saja aku tahu kenapa tiba-tiba Hana bertanya hal tidak penting seperti itu padaku tanpa basa-basi sedikitpun. Hana sudah hapal dengan kebiasaanku yang suka berlama-lama di musolah kampus setiap kali ada masalah. Dan aku memang baru saja melakukannya. Berdiam diri di musolah kampus sejak mata kuliah jam pertama berakhir sejam yang lalu. Hampir satu jam aku duduk di musolah yang sepi dan memikirkan kata-kata abah dan mas Wahyu yang seperti terus saja terngiang-ngiang dikepalaku. Berkali-kali menarik napas dalam hanya agar kegundahan yang kurasakan sedikit berkurang.
“Tidak perlu berbohong seperti itu, Za. Kamu pikir berapa lama aku kenal kamu?” tak urung aku hanya memberi Hana sebuah cengiran khas seorang Faza Aulia untuk membenarkan tebakan gadis itu.
Menceritakan pada Hana tentang kenapa aku menjadi galau seperti ini tentu saja bukan pilihan yang akan kuambil. Kami berdua memang dekat, hanya saja selalu ada hal-hal yang seperti tertahan diujung lidahku setiap kali aku ingin menyampaikannya pada Hana. Termasuk mengenai perasaan yang menyangkut lawan jenis. Aku tidak tahu apakah karena aku yang masih terlalu polos berkaitan dengan hal-hal seperti itu, atau karena aku merasa membicarakan hal seperti itu adalah hal yang tabu.
Belum pernah sekalipun aku membicarakan hal-hal berbau perasaan terhadap lawan jenis dengan teman dekatku, meskipun mereka adalah Hana dan Ainun. Selama ini aku selalu menyimpan perasaan seperti cukup untuk diriku sendiri. Mungkin dulu sewaktu di pondok aku dan Ainun memang sering membual tentang masalah perasaan terhadap lawan jenis, juga tentang pernikahan impian. Tapi sungguh, semua yang kami bicarakan tidak lebih dari sekedar obrolan angin lalu antara dua remaja tanggung yang sedang mencari pengalihan untuk sebuah rasa yang tidak seharusnya meraka rasakan.
Ah, mungkin nanti. Suatu saat mungkin aku akan memiliki cukup keberanian untuk membagi semua perasaanku pada Hana maupun Ainun. Meski sampai sekarang aku belum tahu ‘suatu saat’ itu kapan.
“Kadang raut wajah sudah cukup memberi jawaban yang jelas, Za.” Dan Hana, kurasa gadis ini cukup peka dengan tidak mencecariku dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dan menuntutku untuk menjelaskan kenapa aku bisa galau seperti ini.
“Jelas aku sedang menutupi sesuatu dari kamu, Han. Kenapa kamu seperti tidak merasa terganggu sama sekali?” Entah karena suasana hatiku yang sedang melankolis sejak pagi atau karena aku memang ingin menanyakan hal tidak penting itu pada Hana begitu kami duduk di sofa untuk menunggu jam mata kuliah kedua kami. Dan alih-alih tersinggung, Hana justru tertawa kecil sebelum menepuk pundakku.
“Semua orang punya batasan tentang hal-hal apa saja yang perlu mereka bagi dengan orang lain.” Mulai Hana sembari melambaikan tangannya pada seorang mahasiswa yang menyapanya. “Sama seperti kamu yang belum bisa membagi masalah kamu padaku. Dan aku hanya perlu menghargainya ‘kan? Kupikir kalau kamu tidak menceritakannya padaku, itu artinya kamu memang belum siap untuk bercerita. Sesederhana itu sih, Za.”
Mungkin memang seharusnya cukup sesederhana itu. Sesderhana aku dan Hana yang menghargai apa yang kami simpan untuk diri kami sendiri. Hanya saja, hal-hal seperti itu tidak jarang membuatku berpikir kalau aku dan Hana tidak benar-benar dekat.
“Tidak mengapa kalau kamu belum mau cerita tentang masalah kamu padaku, Za. Dan aku tidak punya hak untuk memaksa kamu bercerita hanya karena kita adalah teman sekamar selama bertahun-tahun.” Tiba-tiba saja percakapan dengan Hana membuatku kembali teringat dengan Ainun. “Selama kamu masih bisa menyimpan semua itu sendirian, itu artinya kamu sudah menemukan tempat bercerita yang jauh lebih baik dan jauh lebih aman dibandingkan aku ‘kan?”
Dan entah kenapa, aku seperti menemukan banyak sekali kesamaan antara Hana dan Ainun meski kenyataannya mereka bedua adalah dua orang yang benar-benar bertolak belakang. Pemikiran antara Hana dan Ainun nyaris sama. Sama-sama bisa mengimbangi pikiranku yang cenderung rumit dengan pemikiran taktis mereka.
* * * * *
__ADS_1