
Faza
Aku baru saja akan mendorong pintu pagar rumah saat perhatianku justru teralihkan oleh sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman rumahku sendiri. Mobil hitam yang sudah familiar untukku karena aku sudah sering melihatnya beberapa kali, entah itu saat pemilik mobil itu berkunjung ke rumah, atau saat pemilik mobil itu menjemputku di kampus jumat pekan lalu.
“Ada apa?” tanyaku pada diri sendiri sembari mengeluarkan ponsel dari saku bajuku dan mengamati halaman rumahku untuk mencari keberadaan picanto hitam milik mas Wahyu. Perasaanku mulai terasa aneh, itulah kenapa aku memilih untuk menahan langkah dan menghubungi mas Wahyu.
“Wa’alaikumussalam, mas. Mas Wahyu dimana?” tanyaku tanpa basa-basi sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
Satu minggu berlalu sejak kejadian di pelataran parkir kampus sore itu. Kejadian yang membuatku nelangsa sendiri setiap kali berangkat ke kampus dan memikirkan kalau di tempat itu aku akan bertemu dengan pak Gibran. Dan selama satu minggu ini pula aku selalu berlindung di balik punggung mas Wahyu dari amukan abah. Memang terdengar kekanakan sekali, saat aku memilih untuk berlindung di balik punggung kakak laki-lakiku dibandingkan mengaku pada ibu dan abah kalau aku telah melakukan kesalahan karena mengakui perasaanku pada seorang pria, sementara pengakuan itu diketahui oleh calon suamiku.
“Mas masih di jalan, ada apa?” kutarik napas dalam dan menghembuskannya kembali dengan pelan saat samar-sama kudengar deru kendaraan dari seberang sana.
“Mas Arifin ada di rumah, mas.”
“Then? Kamu tidak berani keluar kamar?”
“Bukan. Aku baru pulang dari kampus, dan aku tidak berani masuk.”
Tentu saja aku tidak berani meski hanya untuk sekedar mengetuk pintu utama dan berlalu menuju kamarku sendiri. Abah jelas lebih membela mas Arifin dibandingkan aku jika kemungkinan buruk yang kukhawatirkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Sementara ibu, aku yakin wanita itu akan mematuhi apa keinginan suaminya meski dia tahu kalau keinginan abah bisa saja melukai perasaanku.
Tapi tetap berdiam diri di depan pintu pagar juga bukan pilihan baik karena aku terkesan begitu menghindari mas Arifin disaat aku tahu kalau ada masalah besar yang harus kami selesaikan.
“Masuk saja, dek. Sebentar lagi mas sampai rumah.”
“Tapi mas,”
“Bismillah, apapun yang terjadi di dalam rumah nanti, yakin saja kalau itu memang yang terbaik untuk kita semua.”
Aku sama sekali tidak berniat menjadikan mas Wahyu sebagai tameng agar aku terus terlindung dari amukan abah. Hanya saja, terkadang aku benar-benar butuh seseorang yang bisa memahamiku selayaknya mereka mamahami seorang gadis muda dengan segala pergolakan batin yang sedang dirasakannya.
Dan tepat seperti prasangkaku beberapa menit yang lalu, abah bahkan enggan menjawab salamku saat aku melangkah masuk dan mengamati tiga orang yang sedang membicarakan sesuatu di ruang tamu. Ibu yang menunduk dan abah yang hanya memperhatikanku dalam diam, sementara mas Arifin yang menjawab salamku dan tersenyum tipis saat aku mengangguk singkat kearahnya.
__ADS_1
“Ada apa, bah?” tanyaku tak urung juga karena terlalu jengah dengan situasi yang benar-benar tidak baik ini. Yah, tentu saja situasi sore ini sedang tidak baik sebab jika situasinya sedang baik, abah tidak mungkin memasang wajah seperti itu dan mengeluarkan aura gelap begini.
“Duduk, Za.”
“Bu,” kali ini ibu mengangkat wajah dan tersenyum kearahku. Tapi sungguh, itu bukan senyum bahagia seperti yang kulihat di wajah wanita itu beberapa minggu yang lalu.
“Ada beberapa hal yang ingin mas Arifin bicarakan, nduk.”
Awalnya kupikir mas Arifin akan membahas tentang acara pernikahan kami yang memang direncanakan akan diadakan lima minggu lagi. Saat aku menyelesaikan ujian akhir semester dan mempunyai cukup banyak waktu untuk ikut mengurus pernikahan kami.
Awalnya, kupikir mas Arifin akan membicarakan tentang undangan pernikahan, acara ijab qabul dan resepsi, hingga pakaian pengantin yang akan kami kenakan nanti. Awalnya aku juga berpikir jika pria ini akan membicarakan tentang mahar yang akan dia berikan padaku sesuai apa yang kuminta. Hanya pikiran sementara, sebelum mas Arifin memulai semua yang ingin ia bicarakan denganku dan abah juga dengan ibu.
“Dibatalkan?” gumamku dengan suara pelan. Sangat pelan hingga mungkin ibu yang duduk disampingku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Mas Arifin memang sedang membicarakan tentang rencana pernikahan kami yang sebenarnya akan diadakan lima minggu lagi. Iya, aku mengatakan ‘sebenarnya’ sebab dua menit yang lalu laki-laki ini mengatakan sesuatu yang benar-benar tidak ingin keluargaku dengar.
Mas Arifin memang membicarakan tentang rencana pernikahan kami, tapi laki-laki ini bukan membicarakan tentang gedung, gaun pengantin, resepsi ataupun tamu yang akan kami undang.
“Maaf karena telah mengecewakan abah, ibu dan juga Faza.” Ucapnya sembari menunduk dan menghindari kontak mata denganku.
“Kenapa, mas?” tanyaku datar. Bukan tidak kaget dengan apa yang mas Arifin katakan, hanya saja perasaanku menjadi kebas seketika hingga aku tidak bisa merasakan emosi apapun saat ini.
“Karena aku tidak ingin melukai kamu lebih dalam lagi, Za.”
Selama satu minggu sejak kejadian jumat sore tempo hari, aku selalu berusaha bersikap senormal yang kubisa, juga tidak berhenti meyakinkan diri kalau inilah jalan terbaik yang Allah pilihkan untukku.
Selama satu minggu aku selalu berusaha meyakinkan diri bahwa pernikahan dengan mas Arifin memang sudah menjadi takdir yang Allah tetapkan untukku. Dan mendengar mas Arifin mengatakan alasan kenapa dia tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami dengan alasan yang tidak masuk akal begitu benar-benar membuatku tidak habis pikir.
“Melukai yang seperti apa?” tanyaku masih dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Luka seperti apa yang dia maksud? Apakah mas Arifin diam-diam telah berselingkuh dibelakangku? Atau karena diam-diam laki-laki ini sudah melamar gadis lain selain aku?
“Kamu mengerti dan paham maksudku.”
__ADS_1
“Apa karena pengakuan itu?” tanyaku lagi. Memilih untuk meneliti reaksi mas Arifin dibandingkan menoleh kearah abah yang aku yakin sedang menuntut penjelasan atas pertanyaan yang kuajukan pada mas Arifin. “Demi Allah mas, tidak ada maksud apapun dari pengakuan itu.”
“Iya, aku tahu kalau tidak ada maksud apapun dari pengakuan itu, Za. Tapi aku sadar betul kalau tetap melanjutkan rencana pernikahan kita hanya akan membuat kamu terbebani.”
“Mas,”
“Arifin, jelaskan pada abah apa maksud dari ‘pengakuan’ itu.” sudah tidak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunduk dan menghela napas dalam saat abah sudah membuka suara dan menuntut penjelasan pada mas Arifin. Aku sadar betul jika setelah ini, akan ada hal besar yang terjadi antara aku dan abah, tapi aku juga tidak bisa terus menerus berlindung di balik punggung mas Wahyu dan bertingkah seolah aku tidak melakukan hal yang salah.
“Za yang salah, bah.” Dan aku harus mengakuinya. Entah setelah ini abah akan mengamuk padaku atau akan mengasingkanku ke pondok. Aku tidak bisa membiarkan mas Arifin menjelaskan pada abah apa yang terjadi pada kami seminggu yang lalu. “Za mengatakan pada seseorang kalau Za menyukainya.”
“Tolong jangan salahkan Faza untuk batalnya rencana pernikahan kami, bah.” Kejar mas Arifin dengan suara memohon pada abah. Sementara disamping abah, ibu mulai kehilangan kata-kata dan hanya beristighfar berulang kali. “Semua ini murni keputusan Arifin. Arifin tidak bisa menikahi seorang gadis yang tidak mempunyai perasaan cinta untuk Arifin, bah. Jadi tolong jangan salahkan Faza.”
“Kenapa kalian mempermainkan hal sebesar ini?” tidak ada teriakan, juga tidak ada sumpah serapah yang keluar dari mulut abah untuk dia tujukan padaku atau pada mas Arifin. Lelaki itu hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menghela napas dalam.
“Arifin yang salah, bah. Harusnya Arifin bertanya dulu pada Faza tentang rencana pernikahan ini dan tidak seenaknya menentukan tanggal pernikahan kami tanpa persetujuan Faza.”
“Dan kenapa kamu harus mengatakan pada seorang pria kalau kamu menyukainya sementara kamu sudah punya calon suami, Za?”
“Sudah bah, semua terjadi karena memang Faza dan Arifin belum berjodoh. Ini sudah menjadi ketentuan Allah.” Tak urung ibu membuka suara dan menyentuh punggung tangan abah yang terlihat menahan amarah.
Ya, tentu saja abah akan marah pada situasi seperti saat ini. Tidak ada alasan bagi abah untuk tidak marah saat ditempatkan pada posisi dimana rencana pernikahanku dan mas Arifin yang sudah ia dan pak Burhan susun sejak jauh-jauh hari batal begitu saja karena keegoisanku. Dan aku, aku sama sekali tidak bisa memikirkan cara agar abah sudi memberi pengampunan atas kesalahan yang telah kulakukan.
“Maaf karena sudah mengecewakan abah.”
Ah, pada akhirnya aku tetap mengecewakan abah meski selama ini aku berusaha untuk tidak mengecewakan lelaki itu. Selama ini aku selalu menuruti kemauan abah dan berharap aku bisa menjadi ladang pahala untuknya. Selama ini aku berusaha untuk tidak pernah menentang keinginan abah termasuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Hanya saja, aku tidak tahu jika kebanggaan yang abah bangun atas diriku runtuh seketika hari ini.
“Perasaan seperti itu tidak benar, Za. Dan abah juga tidak lupa kalau abah pernah mengatakannya pada kamu.” Ucap abah setelah menghela napas berkali-kali tanpa mau menoleh kearahku barang sedikit saja. “Selepas semester ini, mungkin sebaiknya kamu cuti kuliah dan kembali ke Blora. Tenangkan pikiranmu dan tata perasaanmu di pondok.” Sambung abah sembari beranjak dari kursinya. Meninggalkanku yang masih menundukkan kepala dalam dan mas Arifin yang juga masih terdiam.
Jadi, inikah hukuman untuk pengakuanku tempo hari? Inikah jalan terbaik agar aku bisa mengendalikan perasaanku terhadap pak Gibran?
Diasingkan karena pengakuan untuk sebuah rasa.
__ADS_1
* * * * *