
Tujuh tahun kemudian.
Azam sudah berusia Dua belas tahun. Sedangkan adiknya Azzahra istyhar sudah berumur tujuh tahun. Bahkan agensi besar sudah melirik Azam untuk menjadi seorang traineer. Namun Andrew merasa Azam masih kecil baginya, sehingga belum mengizinkan. Azam sendiri tipe pekerja keras.Dan jelas itu mirip dengan Ayah dan Ibunya. Bahkan Dia pernah diam-diam kerja sampingan di sebuah kedai Coffe dan ketahuan Andrew. Disaat Andrew dan Manajernya tidak sengaja membeli coffe saat sedang break syuting. Andrew pun menegurnya baik-baik dan menyuruhnya pulang.
Sedangkan hari ini, hari libur membuat Mereka lebih santai dan tidak terlalu buru-buru. Meysha sedang menyiapkan sarapan dengan dibantu asistennya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan zahra. Dan sesuai fellingnya, ini pasti ulah sang kakaknya.
" Zam, jangan buat nangis adikmu." Meysha setengah berteriak didapur.
" Aku tidak membuatnya menangis Mom. Zahra saja yang terlalu cengeng." Azam mengelak.
Dan tangisan Zahra semakin kencang. Membuat Meysha tidak tenang. Tapi posisinya yang sedang memasak, membuat Meysha tidak bisa langsung menenangkan Zahra. Suara pertandingan sepak bola di TV membuatnya semakin kesal. Betapa kompleksnya suara kebisingan dihari libur ini.
" Yeobo, tidak dengarkah putrimu menangis?" Teriak Meysha kesal seraya masih memasak.
" Dia juga putrimu,Yeobo." Ucap Andrew yang sedang asyik menonton pertandingan sepak bola.
" Yeobo, tidak lihatkah. Aku sedang memasak. Apa Kau mau makan masakan hangus." Lagi-lagi Meysha setengah berteriak.
Meysha merasa lama-lama suaranya habis karena berteriak-teriak.
" Iya-iya yeobo.Aku hanya bercanda. Tidak usah berteriak-teriak seperti itu." Jawab Andrew setengah berteriak.
Meysha hanya mendengus kesal.
"Zahra sayang, anak Daddy yang cantik kenapa menangis?" Samar-samar suara Andrew terdengar ditelinga Meysha. Membuat Meysha tenang.
" Kak Azam,nakal Daddy. Masa Dia meledekku." Ucap Zahra masih terisak dalam tangisnya.
" Masa diledek seperti itu saja nangis. Dasar cengeng Kau Zahra ya." Ucap Azam sambil main gitarnya.
Lagi-lagi ucapan Azam membuat adiknya menangis kencang lagi. Meysha cepat-cepat menyelesaikan masakannya. Dan menyerahkan kepada asistennya.Sepertinya dua jagoannya disana membuatnya kesal.
" Zahra sayang. Sudah jangan menangis. Nanti kita jalan-jalan beli es krim rasa strobery. Jadi jangan menangis lagi ya sayang." Ucap Andrew yang sedang menenangkan putrinya.
" Ok Daddy. " Ucap Zahra.
" Kak Azam tidak usah dikasih." Celoteh Zahra.
Andrew menganggukan kepala untuk membuat Zahra tenang.
Setelah Meysha selesai memasak.
Meysha langsung melangkahkan kaki ke ruangan santai. Tapi suara tangisan putrinya sudah tidak terdengar lagi. Dia merasa tenang begitu melihat putrinya sudah tersenyum dipangkuan Andrew.
" Mom, Daddy akan mengajakku jalan-jalan hari ini. Mommy juga ikut kan? " Celotehnya begitu melihat Meysha.
__ADS_1
" Iya sayang." Meysha mengecup kening putrinya.
" Tapi jangan mengajak Kakak. Aku tidak mau." Ucap Zahra sambil memandang ke arah kakaknya, yang sedang memainkan gitar dengan lincahnya.
Azam memandang kearah adiknya. Begitu dia sadar adiknya memandang kearahnya.
" Aku juga tidak mau jalan-jalan denganmu. Dasar cengeng." Lagi-lagi Azam meledek Zahra.
" Mommy , Daddy, Kakak nakal. " Ucap Zahramenangis lagi.
" Azam !!! "Tegur Meysha.
Sedangkan Azam, Dia takut dimarahin.
" Mommy ampun. Aku lapar mau makan." Ucapnya mengalihkan perhatian, sambil setengah berlari ke ruang makan.
Meysha langsung mengikuti putranya tersebut. Sadar, Meysha dan asistennya belum meletakkan semua sarapan dimeja makan. Azam terlihat sudah duduk manis.
" Zam, Bisakah Kau jangan sering buat nangis adikmu." Ucap Meysha seraya menyiapkan sarapan dan meletakkan semua makanan dimeja makan.
" Baik Mommy. Mianhe." Ucapnya sambil memainkan sendok makan.
Andrew dan Zahra juga terlihat menuju ke ruangan makan. Begitu mengetahui sarapan sudah disiapkan semua.
Mereka memulai sarapan dengan tenang.Meysha makan dan kadang sekali-sekali menyuapi Zahra, juga membersihkan bibir putrinya yang masih blepotan dalam makan makanan.
Andrew dan Azam terlihat sudah sibuk lagi dengan kesibukan masing-masing.
" Ma, Ayo Kita jalan-jalan!" Ucap Zahra.
Dia terlihat sudah membawa tas dan boneka kesayangannya.
" Zahra sayang. Tunggu dulu ya sayang." Ucap Meysha masih sibuk membantu asisten rumh tangganya.
Zahra langsung berlari lagi menuju ke ruang dimana Andrew berada. Andrew sedang diruang kerja pribadinya.
" Daddy. Katanya mau jalan-jalan." Zahra terlihat merengek.
"Iya sayang. Tunggu Mommy ya sayang." Ucap Andrew dengan nada lembutnya.
" Ok Dad." Zahra terdengar tenang setelah mendengar kata-kata Andrew.
Setelah selesai semuanya. Meysha melangkah kekamar untuk bersiap-siap. Melewati ruang santai. Sekilas Dia melihat Andrew sudah siap. Sedangkan Azam masih asyik dengan hobinya.
" Zam. Kau juga bersiaplah. Kita jalan-jalan." Ucap Meysha seraya berhenti sejenak.
__ADS_1
" Tidak Mom. Aku dirumah saja." Ucap Azam seraya berhenti sejenak dari hobinya.
" Kau yakin tidak ikut jalan-jalan dengan Kami dan tinggal dirumah?"Meysha sedikit kawatir sebagai seorang ibu. Walaupun Meysha tahu, Azam sudah termasuk remaja belia.
" Iya Mom." Ucapnya seraya melanjutkan hobinya lagi.
" Ok."
Meysha melangkah kakinya lagi ke arah kamar.Dia langsung bersiap-siap dengan baju jalan. Sebuah baju syar'i berwarna hitam dan hijab yang senada. Dan tidak lupa membawa tas rangsel kecilnya. Meysha juga mengambil kamera dan memasukkannya ke sebuah tas.
Meysha melangkah ke ruangan santai. Dia terkejut. Andrew dan Zahra sudah tidak ada diruangan tersebut.
" Zam, Mana Daddy dan adikmu?" Tanya Meysha.
" Sudah diruang garasi Mom." Ucapnya.
" Ok. Hati-hati dirumah. Jangan lupa pintu kuncinya. Kalau lapar masih ada makanan kesukaanmu dikulkas." Pesan Meysha kepada putra sulungnya tersebut.
" Ok Mom. Aku sudah besar. Tidak perlu Mommy memberitahu sebanyak itu." Komplain Azam
Mommy geleng-geleng kepala. Lalu Dia menghampirinya putra sulungnya tersebut.
" Mommy tahu Kau sudah besar. Mommy percaya padamu." Ucap Meysha seraya mencium kening putranya.
" Mom, Aku bilang sudah besar. Jadi jangan sering menciumku juga. Aku malu." Lagi-lagi Azam komplain dengan sikap Meysha, yang masih menganggapnya seperti anak-anak.Bahkan Dia menghentikan hobinya dan mengusap keningnya. Meysha terkejut dan tersenyum geli.
Lalu Meysha geleng-geleng kepala dan melangkah keluar rumah.
Andrew dan putrinya terlihat sudah menunggu. .
" Sayang, Kenapa Kau lama sekali?" Celoteh Andrew meniru gaya anak-anak Mereka.
" Maaf." Meysha masih tersenyum mengingat perubahan Azam
Meysha membuka pintu bagian belakang. Karena Zahra paling suka duduk dibelakang.
" Aku seperti supir untuk wanita-wanita cantik dibelakang." Gerutu Andrew seraya menyalakan mobilnya.
" Daddy kenapa mengeluh seperti itu. Kalau Aku sudah besar dan pintar menyetir. Aku yang menyetir. Daddy dan Mommy yang duduk dibelakang." Ucapnya ketus.
Meysha lagi-lagi tersenyum. Kali ini Andrew yang mati kutu mendengar kata-kata putrinya tersebut.
" Maaf sayang. Daddy tidak mengeluh. Hanya bercanda."
"Candaan Daddy sungguh tidak lucu. Benar kan Mom?" Tanyanya meminta dukungan.
__ADS_1
" Iya sayang." Meysha mengusap rambut putrinyanya.
To be Continued