Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
14. Rasa, dan keputusan (2)


__ADS_3

Faza


Sebab cinta adalah rasa yang Dia karuniakan pada hamba-Nya


Saat rasa itu mengalun mendekap hangat jiwa


Saat itulah kuserahkan rasaku hanya pada-Nya


Pada Dia sang penjaga rasa


Pada Dia sang pemberi makna


Dan hingga saat itu tiba


Biarkan aku terus berharap jika suatu saat, kami akan bersama


“Za,” sebuah sentuhan di pundak membuatku terlonjak dan menjatuhkan bloknote dan bolpoin biru yang sejak tadi tergeletak disamping tanganku. Mengangkat kepala dan mengusap wajah sebelum tersenyum saat mendapati seorang gadis duduk disampingku dan menatapku dengan ujung mata disipitkan.


“Are you okay?” tanya gadis itu yang tak lain adalah Hana sembari menyentuh keningku dengan tangan kanannya. Semakin mengerutkan keningnya sendiri begitu menarik tangan kanannya dari keningku. “Kamu panas sekali, Za.”


“Aku baik-baik saja, Han. Dan, sudah berapa lama aku tertidur disini?” tanyaku sebelum menyingkap ujung lengan bajuku dan mendesah pelan saat menyadari kalau sekarang sudah jam tiga sore dan itu artinya aku sudah tertidur di perpustakaan selama sejam lebih.


Aku ingat terakhir kali aku melihat jam tangan masih pukul satu lebih empat puluh. Hari ini aku memang sengaja membolos kelas fiqih muamalah sekembalinya dari ruang sekretariat LPM. Memilih untuk terus manaiki anak tangga hingga lantai tiga dimana perpustakaan fakultas ekonomi berada dibandingkan memasuki ruang multimedia lantai dua dimana kelas fiqih muamalah diadakan.


“Kamu kenapa tidak masuk kelas fiqih muamalah?” tanya Hana sembari mengikutiku keluar perpustakaan dan menuruni tangga menuju lantai dua.


Aku sebenarnya bukan tipikal mahasiswa yang tega menodai presensi kehadiranku hanya agar aku bisa tidur di perpustakaan seperti tadi. Bahkan jika seseorang bertanya sudah berapa kali aku membolos kelas maka jawabannya hanya dua kali. Pertama saat aku semester tiga dan saat itu jalan menuju kampus dari rumahku terendam banjir dan tidak bisa diakses selama seharian penuh hingga aku harus membolos kuliah. Dan yang ini adalah kedua kalinya aku membolos mata kuliah.


Kali ini bukan karena banjir atau karena kepentingan lain, tapi ada sesuatu yang membuatku lebih memilih berdiam diri di perpustakaan dibandingkan menghadiri kelas fiqih muamalah.


“Za.!” Kali ini Hana bahkan menaikkan nada suaranya sembari memintaku berhenti sebelum kami duduk di kursi kayu yang ada di selasar didepan kantor fakultas ekonomi. “Kamu kenapa?”


“Aku lupa Han kalau ada kelas fiqih muamalah.” Dan tentu saja itu adalah alasan paling konyol yang semakin membuat Hana mengerutkan kening dan menatapku tajam.

__ADS_1


“Kamu bahkan masih ingat jadwal kuliah kita semester lalu.” Tandas Hana yang semakin membuatku kehilangan kata-kata. Merasakan kepalaku yang tiba-tiba terasa berat dan nyeri pada tengkukku. “Dan aku juga tahu kalau kamu tidak akan membolos kelas hanya karena sakit kepala dan demam.” Sambung Hana masih dengan nada suara yang sama. Hana Harsono, nyatanya aku memang tidak bisa berbohong pada Hana tentang kenapa aku memilih untuk menepi di perpustakaan dibandingkan menghadiri kelas fiqih muamalah.


“Ada sesuatu yang mengganggu kamu?” tanya Hana lagi setelah duduk disampingku dan mengamatiku lama. “Kamu aneh belakangan ini, Za. Kamu menjadi pendiam dan sering bertingkah seolah kamu sedang menghindari sesuatu.”


Aneh? Sebesar itukah pengaruh yang muncul dari semua kegundahan yang kurasakan belakangan ini, hingga Hana juga menyadari perubahan sikapku? Tapi sebenarnya bukan hanya Hana, pun demikian juga denganku. Aku bahkan muak sendiri karena begitu mudah dikendalikan oleh perasaan hingga sulit untuk menemukan logika dan akal sehatku. Aku bahkan memilih untuk membolos kelas hanya karena yang mengampu mata kuliah fiqih muamalah adalah pak Gibran yang juga turut andil untuk perasaan yang menggangguku belakangan ini. Iya, nyatanya aku memilih untuk menodai presensi kehadiranku hanya karena aku belum siap bertatap muka dengan pak Gibran.


“Mind to share, Za?” tanya Hana lagi yang membuatku menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.


“Beberapa hal memang menggangguku, Han. Tapi aku baik-baik saja, sungguh.” Ucapku tak urung juga. Tidak apa-apa jika nantinya Hana akan menertawakanku karena aku bersikap seperti remaja labil karena masalah sepele.


“Sebuah masalah tidak lantas bertambah banyak hanya karena kamu membaginya denganku, Za.”


Memang benar, sebuah masalah memang tidak akan bertambah banyak hanya karena aku membaginya dengan Hana. Hanya saja, yang menjadi masalah adalah aku yang bahkan kesulitan untuk sekedar memilah kalimat mana yang harus kugunakan untuk memulai cerita.


“Apa menurut kamu wajar kalau seseorang terganggu dengan perasaannya sendiri?”


“Aku belum mengerti, Za”


Untuk pertama kalinya. Setelah tiga tahun aku dan Hana saling mengenal sebagai dua orang sahabat, ini adalah pertama kalinya aku membicarakan tentang perasaan bersama Hana.


“Jadi kamu ragu untuk memberi keputusan tentang lamaran itu karena kamu menyimpan perasaan untuk pak Gibran?” tanya Hana setelah aku diam beberapa saat dan hanya menarik napas dalam berkali-kali. Tidak ada nada mencemooh dari Hana setelah mengetahui kalau ternyata sahabatnya menyimpan rasa untuk dosennya sendiri.


“Entahlah, aku bahkan belum yakin dengan perasaanku sendiri.”


Kali ini Hana tersenyum dan menoleh kearah pintu ruang fakultas sebelum menyentuh punggung tanganku yang tergeletak begitu saja diatas pangkuan.


“Nyatanya kamu bukan mahasiswi pertama yang ketahuan menyukai pak Gibran, Za.” Mulai Hana sembari mengerlingkan sebelah matanya untuk menggodaku. “Dan kurasa itu normal. Yang membuatku kaget adalah kenyataan kalau kalian pernah bertemu empat tahun yang lalu di Blora, dan kemudian kalian kembali dipertemukan kembali disini empat tahun berikutnya.”


Kebetulan? Bukankah tidak ada yang namanya ‘kebetulan’ di dunia ini sebab segala hal memang sudah Allah atur dengan sedemikian rupa?


“Disaat mahasiswi lain rela menyusup ke kelas lain untuk bisa bertatap muka dengan pak Gibran, kamu justru melarikan diri ke perpustakaan. Itulah kenapa aku menyebutmu istimewa, Za.” Sambung Hana setelah menarik napas dalam dan kembali menatapku lekat. “Dan, aku memang tidak begitu paham bagaimana kamu mengatur tentang perasaan seperti itu, juga tentang lamaran yang kamu ceritakan ini.”


Lamat-lamat kuperhatikan Hana yang sesekali menoleh kearah pintu ruang fakultas entah untuk memperhatikan apa. Terkadang, perbedaan pola pikir diantara kami berdua membuat kami sama-sama takut saling melukai dengan spekulasi yang kami berikan untuk satu sama lain.

__ADS_1


“Aku hanya memberikan pendapatku sebagai sahabat kamu tanpa sedikitpun aku berniat untuk membandingkan pendapat kita berdua.” Aku yang cenderung berpikiran rumit tidak semudah itu menerima pola pikir Hana yang begitu sederhana.


“Menurutku sebuah pernikahan hanya akan menjadi sesuatu yang membahagiakan kalau dua orang yang menikah sama-sama saling mencintai, saling ikhlas. Lalu, bagaimana kamu akan bahagia kalau sejak awal kamu sudah menyimpan perasaan kamu untuk orang lain? Perasaan apa yang akan kamu berikan pada suamimu nanti kalau perasaan cintamu sudah kamu simpan untuk pria lain, Za?”


Kenapa aku melupakan hal sepenting ini? Kenapa aku melupakan kenyataan kalau sebuah pernikahan hanya akan menjadi sesuatu yang kusebut ‘rumah’ jika dua orang yang terlibat didalamnya sama-sama ikhlas dan ridho? Benar apa yang Hana katakan, perasaan seperti apa yang akan kuberikan pada mas Arifin jika perasaan yang harusnya kuberikan padanya justru kusimpan di dalam kotak yang kemudian kunamai kotak itu dengan nama Gibran Wibisana?


“Tapi, kupikir terlalu dini untuk menyimpulkan kalau perasaanku pada pak Gibran adalah perasaan cinta, Han.” Desahku tak urung juga. lagi-lagi pola pikirku yang cenderung rumit sulit sekali menerima kesimpulan sederhana yang Hana ucapkan padaku.


“Lalu? Akan kamu namai apa perasaan seperti itu? Bukankah ini pertama kalinya kamu merasakan perasaan seperti ini pada lawan jenis?”


Tentu saja ini bukan pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini selama aku hidup dalam kurun waktu dua puluh tahun. Aku gadis muda yang normal dan bisa sewaktu-waktu merasakan gejolak wajar yang biasa dirasakan oleh gadis seusiaku. Tentang rasa suka, tentang rasa kagum, juga tentang pandangan yang sering kali tidak mampu kujaga pada lawan jenisku. Aku juga sudah pernah beberapa kali menyukai santri laki-laki di pondok dulu, atau teman kelas laki-lakiku di sekolah. Hanya saja, ini pertama kalinya aku menjadi segundah ini karena perasaan suka terhadap lawan jenis.


“Memang benar kalau ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini, Han. Tapi aku juga tidak bisa terus menerus menyimpan….entahlah, aku bingung.”


“Kenapa? Aku tidak tahu kalau mempunyai perasaan terhadap lawan jenis adalah sebuah dosa.”


“Memang tidak. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau pria yang kusukai itu belum mempunyai pasangan? Siapa yang bisa menjamin kalau pak Gibran belum punya pasangan yang berpotensi membuatku patah hati?”


Kali ini Hana tertawa kecil seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang sangat lucu baginya. Bukankah aku mengkhawatirkan sesuatu yang wajar? Bagaimana kalau ternyata pak Gibran sudah mempunyai pasangan atau bahkan anak?


“Itulah kenapa terkadang anak-anak di kelas kita perlu untuk sedikit lebih aktif saat ada dosen baru, Za. Agar kesalahan seperti ini tidak sering-sering terjadi.”


“Han,”


“Aku pernah mendengarnya kalau pak Gibran belum menikah. Lagipula, memang kenapa kalau nyatanya pak Gibran sudah punya pasangan atau bahkan anak? Apa kenyataan seperti itu lantas membuat kamu berhenti menyukainya?”


Ah, lagi-lagi aku tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu. Nyatanya sejak awal aku memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti apakah pak Gibran sudah punya pasangan. Tentang wanita seperti apa yang menjadi tipe ideal pria itu. Juga tentang apa yang pak Gibran rasakan saat tahu kalau empat tahun yang lalu kami pernah bertemu dan aku meminjamkan payung padanya. Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu hingga tanpa sadar aku sudah merasakannya. Sebuah perasaan yang membuatku bahkan kesulitan untuk menata akal dan logikaku. Dan saat aku menyadarinya, aku sudah tersesat terlalu jauh dalam perasaan yang seharusnya tidak kurasakan.


“Entahlah. Mungkin aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini.” dan tepat saat aku beranjak dari kursi kayu yang kududuki, seseorang keluar dari ruang fakultas. Membuatku menarik napas dalam sebelum meraih tas ransel yang sejak tadi kubiarkan tergeletak begitu saja diatas kursi.


“Kalau kamu memang tidak ingin melihatnya, setidaknya jangan menghindar, Za.” Bisik Hana yang masih berdiri disampingku sementara orang yang baru keluar dari kantor fakultas itu juga nampak masih bergeming sebelum melepas kacamatanya dan menoleh kearahku.


Jika saja. Jika saja memaknai dan menyikapi perasaan ini semudah ketika aku mengulurkan tanganku dan meminjaminya payung empat tahun yang lalu. Jika saja memahami perasaan seperti ini semudah ketika aku mengaku kalau aku adalah gadis muda yang meminjami laki-laki itu payung empat tahun yang lalu, apa sekarang aku juga akan berakhir seperti ini? Tersesat dan terengah berlari dari perasaan yang harusnya kubatasi.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2