Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
9. Dia, seseorang dari masa lalu (1)


__ADS_3

Faza


“Pembina baru di LPM?” aku baru saja menyesap es teh digelasku saat Aruna tiba-tiba saja duduk didepanku dan mengatakan kalau ada berita baru di LPM yang harus kuketahui saat ini juga.


Awalnya kupikir kalau salah satu artikel yang kubuat atau hasil wawancara yang aku dan Aruna lakukan pada seorang petinggi sebuah perusahaan BUMN berhasil dimuat oleh koran nasional. Tapi nyatanya Aruna membawa berita yang membuatku menaikkan alis.


“Eh-emm, dan kamu tahu siapa Pembina baru di LPM itu?” tanyanya seolah aku memang ingin tahu sejauh itu.


Bagiku siapapun yang menjadi Pembina Lembaga Pers Mahasiswa dikampusku bukanlah masalah. Yang terpenting untukku adalah Pembina baru itu bisa membawa gebrakan untuk LPM kampus dan membawa kemajuan bagi LPM.


“Memangnya pak Danis kemana kok harus diganti oleh pembina baru?” tanyaku saat menyadari kalau itu artinya pak Danis sudah tidak lagi menjabat sebagai pembina LPM.


“Ya ampun, Za. Pak Danis ‘kan pindah ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah doktoralnya di sana. Memangnya kamu belum tahu?”


“Oh ya? Aku baru dengar malah.” Dan aku memang bukan tipikal mahasiswi yang gemar bergosip ria sembari membicarakan dosen baru yang tampan, dosen perempuan yang sebentar lagi cuti melahirkan, atau sekedar mengomentari pakaian mahasiswa lain yang lewat didepanku. Jadi, kupikir adalah hal yang wajar jika aku tidak tahu kalau pak Danis sudah berangkat ke Malaysia untuk melanjutkan pendidikan doktoralnya disana.


“Tapi tidak penting, yang terpenting adalah kamu harus tahu siapa yang menjadi Pembina baru di LPM tercinta kita.” Tak urung aku tertawa kecil melihat ekspresi wajah Aruna saat mengatakan hal itu padaku. Seolah anak itu sedang mengatakan padaku kalau hari ini dirinya baru saja menang lotre satu juta dollar.


“Memang siapa yang menggantikan pak Danis menjadi pembina LPM?”

__ADS_1


“Pak Gibran Wibisana. Dosen baru yang muda, tampan, dan berkarisma itu.” kali ini aku nyaris tersedak es teh dimulutku sendiri mendengar jawaban Aruna. “Dia dosen fakultas ekonomi ‘kan? Memangnya dia tidak mengajar kelasmu?”


Selama dua minggu lebih aku selalu berusaha bersikap biasa saja setiap kali pak Gibran mengajar dikelasku atau saat tanpa sengaja kami berpapasan di selasar kampus. Hanya agar perasaanku tidak menjadi semakin kacau dan kembali terkendali seperti saat pak Gibran belum menjadi dosen di kampus ini. Dan sekarang aku justru mendengar kalau ternyata pak Gibran menjadi Pembina LPM dimana aku menghabiskan sisa hari setelah perkuliahanku selesai. Itu artinya akan semakin banyak interaksi antara aku dan pria itu.


“Oh, iya. Pak Gibran mengajar dua mata kuliah dikelasku.”


Ya Allah, menyebut namanya saja jantungku rasanya tidak karuan begini.


Tidak dipungkiri kalau insiden sepayung berdua yang kualami dua minggu yang lalu masih belum bisa kulupakan barang sedikit saja. Ditambah setiap kali pak Gibran masuk kekelasku atau saat kami tanpa sengaja berpapasan, jantungku bertingkah aneh dengan berdetak lebih cepat. Sungguh, itu bukan pertama kalinya aku menawarkan payung pada seorang dosen, bahkan aku juga pernah sepayung dengan pak Danis, tapi rasanya biasa saja. Yang ada justru kami menjadi semakin akrab alih-alih menjadi canggung seperti yang terjadi antara aku dan pak Gibran belakangan ini.


‘Ini tidak benar, Za. Kamu tidak seharusnya merasakan hal seperti ini.’


“Kamu kenapa, Za?”


“Apa?”


“Kamu kenapa terlihat kaget begitu saat tahu kalau pak Gibran yang menggantikan pak Danis?”


Lantas, apa lagi yang bisa kulakukan kalau Aruna sudah memasang wajah menyelidik seperti itu? Tentu saja aku hanya tertawa kecil dan mulai menyendok mi instan pesananku yang baru saja diantar oleh ibu kantin untuk menutupi kegusaran diwajahku. Tertawa aneh yang justru membuat gadis dihadapanku ini semakin memasang wajah menyebalkan.

__ADS_1


“Tidak juga,” mulaiku sembari kembali menyesap es teh dihadapanku. “Hanya saja rasanya aneh kalau pak Gibran menjadi pembina LPM sementara dia adalah dosen fiqih muamalah dan manajemen islam. Kalau pak Danis jelas karena beliau punya latar belakang jurnalistik ‘kan?” baiklah, aku sama sekali tidak berniat merendahkan pak Gibran atau melecehkan intelegensi pria itu. Tapi sungguh, aku penasaran sekali kenapa harus pak Gibran yang menggantikan pak Danish.


“Pertama karena pak Gibran itu masih muda dan LPM kampus butuh dosen muda yang aktif dan sepemikiran dengan mahasiswa, Za.” Dan kali ini Aruna seperti kembali menjadi dirinya sendiri yang logis dan berpikiran taktis.


“Dan yang kedua, memangnya kamu belum tahu kalau semasa menjadi mahasiswa S2 dulu pak Gibran sering menjadi partner penelitian beberapa profesor yang meneliti tentang banyak hal? Salah satunya tentang pengaruh media masa terhadap penyebaran islam di Blora Jawa Tengah.” Sambung Aruna yang tak urung membuatku mengerutkan kening. Bahkan aku memilih untuk menghentikan kegiatanku menyantap mi instan dihadapanku saat Aruna menyebut Blora.


“Blora?”


“Iyap. Tempat kamu dibesarkan dan mondok selama tujuh tahun.” Jawab Aruna bangga seolah dia adalah database berjalan yang hapal dengan latar belakang pendidikan seluruh teman-temannya. “Bersama profesor Himawan, guru besar di salah satu universitas negeri di Bandung. Aku sempat membaca jurnalnya beberapa bulan yang lalu.”


Kali ini aku terdiam bukan karena sedang mencoba mengendalikan perasaanku yang tiba-tiba saja menjadi tidak karuan karena membicarakan pak Gibran. Tapi aku terdiam karena aku benar-benar kehilangan kata-kata untuk sekedar menanggapi kalimat Aruna.


“Penelitian itu dilakukan tahun 2013 kalau tidak salah. Itu artinya saat itu kamu masih di Blora ‘kan?”


Profesor Himawan, jelas aku tidak asing dengan nama itu karena beberapa kali aku menemukan jurnal beliau di salah satu portal yang menyediakan jurnal-jurnal penelitian dan esay. Hanya saja aku tidak pernah menyangka kalau pak Gibran kenal baik dengan beliau dan pernah menjadi partner penelitian di Blora.


Blora, tahun 2013, dan pak Gibran. Tak urung aku tersenyum tipis mengingat ketiga hal itu.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2