
Faza
Seperti yang sudah aku dan abah bicarakan minggu lalu, kalau sore ini aku akan bertemu dengan mas Arifin yang akan datang berkunjung kerumah bersama pamannya. Ada perasaan lega yang kulihat terpancar dari wajah abah sejak kemarin sore saat membicarakan pertemuan hari ini. Meski sesekali aku masih bisa melihat seberkas rasa bersalah saat tanpa sengaja abah melihatku dan tatapan kami bertemu untuk beberapa detik.
Aku paham kenapa abah merasa bersalah padaku, tapi memilih untuk diam dan membiarkanku berlalu. Tentu saja semua ada kaitannya dengan obrolan kami seminggu yang lalu dimana aku mengaku kalau aku menyukai seorang laki-laki. Abah memang tidak menentangku karena pengakuanku itu, tapi jelas abah juga tidak menyetujui perasaanku.
“Tapi bukankah lebih baik kalau kamu pasrahkan perasaan itu pada Allah? Biarkan Dia memelihara dan menjaga perasaan kamu itu, nduk. Jika laki-laki itu adalah jodoh kamu, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kalian sekalipun itu adalah abah.”
Memasrahkan perasaanku pada Allah.
Aku sudah melakukannya. Aku sudah meletakkan perasaanku pada tempat yang semestinya hingga aku tidak harus merasa tersiksa sendiri setiap kali aku melihat pria itu. Hanya saja, terkadang perasaan yang sudah kuletakkan dan kusimpan rapi itu berontak dan menuntut untuk diungkapkan. Setiap kali aku bertemu pria itu, atau setiap kali tanpa sengaja tatapan kami beserobok, perasaan yang sudah kusimpan itu justru semakin liar menguasai hatiku hingga terkadang aku kesulitan sendiri mengendalikannya.
Bukan berarti aku tidak berusaha. Aku sudah berusaha semampuku untuk mengendalikan perasaanku terhadap pria itu, bahkan tidak jarang aku menyangkal dan membodohi diriku sendiri dengan mengatakan kalau aku sama sekali tidak menyukainya.
“Dek,”
Kutarik napas dalam saat menyadari seseorang berdiri di ambang pintu kamarku dan menatapku yang masih duduk di sisi ranjang. Mas Wahyu yang sejak kemarin sore juga tak kalah kalut denganku. Kakak laki-lakiku itu bahkan berulang kali bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak.
“Masih belum terlambat kalau kamu menolak pertemuan ini.” ucapnya tanpa basa-basi sedikitpun sembari menarik kursi belajarku dan duduk menghadapku.
“Ini kan baru pertemuan, mas. Bukan ijab qabul.” Candaku berusaha untuk tidak membuat suasana diantara aku dan mas Wahyu semakin dingin dan terkesan melankolis. Aku memang tidak pernah menceritakannya pada mas Wahyu tentang laki-laki yang kusukai, tapi meskipun aku tidak bercerita, kakak laki-lakiku ini terlalu pandai menelaah wajah adik perempuannya hingga mas Wahyu paham apa yang kurasakan.
“Lantas perasaan seperti apa yang akan kamu berikan untuk Arifin kalau perasaan kamu sudah terikat dengan laki-laki lain, Za?” pertanyaan yang nyaris sama dengan pertanyaan yang Ainun berikan padaku beberapa hari yang lalu. Pertanyaan yang lagi-lagi membuatku mengutuk diri sendiri karena tidak sanggup menguasai perasaan seperti itu.
Aku merasa kalau diriku sangatlah buruk karena bersedia melakukan ta’aruf dengan mas Arifin sementara hatiku sudah terpaku pada pak Gibran. Ya, sekarang aku bahkan berani mengaku kalau aku menyukai dosenku itu.
__ADS_1
“Mas hanya tidak ingin kamu merasa terbebani dengan perkenalan ini, dek.”
“Tapi aku tidak mau membuat abah kecewa, mas.”
“Apa kamu sama sekali tidak ingin mengatakan perasaan kamu pada laki-laki itu?” tanya mas Wahyu sembari beranjak dari kursi dan duduk di tepi ranjang disampingku. Menyentuh pundakku dan memintaku untuk mengangkat wajah dan membalas tatapannya. Lagi-lagi pertanyaan mas Wahyu mengingatkanku pada pertemuanku dengan Ainun.
“Bukan untuk merendahkan harga diri kamu sebagai seorang perempuan, dek. Tapi itu cara terbaik agar kamu bisa melepaskan beban di hati kamu. Setidaknya laki-laki itu tahu kalau kamu menyimpan perasaan untuknya. Dan kalau laki-laki itu memang paham ilmu agama, dia akan menolakmu kalau memang tidak menyukaimu, dan akan melamar kamu kalau dia juga mempunyai perasaan terhadap kamu.” sambung mas Wahyu yang lagi-lagi membuat wajahku serasa tertapar.
Jika saja pemikiranku bisa sesederhana apa yang mas Wahyu katakan, sudah pasti aku akan menyatakan perasaanku pada pak Gibran. Mengatakan pada pria itu kalau aku bahkan sudah terpesona padanya sejak pertemuan pertama kami empat tahun yang lalu. Mengatakan semua yang kurasakan dan membiarkan pria itu mengambil keputusan. Mas Wahyu benar, setidaknya perasaanku akan sedikit lebih lega dan aku tidak terus menerus berharap kalau mas Arifin itu adalah pak Gibran.
“Aku tidak berani, mas. Lagipula rasanya tidak pantas kalau aku menyatakan perasaan pada dosenku sendiri.” tapi nyatanya aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk mengatakan pada pak Gibran kalau aku menyukainya.
“Dosen kamu? Jadi kamu menyukai dosen kamu sendiri?”
“Namanya Gibran Wibisana.” Tak urung aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan mas Wahyu yang terdengar kaget. “Kami pernah bertemu di Blora empat tahun yang lalu.”
“Kalau saja saat itu aku tidak meminjaminya payung, mas. Kalau saja saat itu aku diam saja dan tidak perlu menoleh kearahnya. Kalau saja aku tidak mengingat pertemuan kami empat tahun lalu…” kali ini aku yang tidak sanggup menyelesaikan kalimatku sendiri. Merasakan tenggorokanku yang tercekat dan dadaku yang terasa sesak.
“Kalau Allah memang menakdirkan Gibran Wibisana sebagai jodoh kamu, mas yakin kalau dia juga merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan. Kalau Allah memang menjodohkan kalian berdua, mas yakin dia akan segera menemui abah.” Bisik mas Wahyu sembari mengusap punggungku berulang kali. “Tapi kalau Allah menakdirkan mas Arifin yang menjadi jodoh kamu, insyaa Allah setelah ini kamu akan jatuh cinta padanya dengan cara yang indah, dek.”
Menebak siapa yang sebenarnya menjadi jodohku. Mas Arifin atau pak Gibran. Aku benar-benar tidak mempunyai kuasa terhadap hal seperti itu. Dan terus berusaha menebak hanya akan membuatku terus berharap kalau pak Gibran-lah yang menjadi jodohku. Itulah kenapa aku hanya mengangguk mengiyakan kalimat mas Wahyu sebelum membiarkan kakak laki-lakiku itu menyeka air mataku dan mengajakku keluar karena mas Arifin dan pamannya sudah ada di ruang tamu.
Benar juga, jika memang mas Arifin yang menjadi jodohku, aku pasti akan jatuh cinta padanya dengan cara yang indah dan mulia. Bukankah Allah selalu punya skenario yang indah untuk hamba-Nya? Pun begitu jika pak Gibran yang Allah takdirkan untuk menyempurnakan separuh agamaku, Dia pasti akan menggerakkan hati pak Gibran untuk mendatangi abah. Bukankah jika dua orang berjodoh maka Allah akan menggerakkan hati keduanya? Bukan hanya satu.
___________
__ADS_1
“Kalau begitu, langsung saja kita tentukan tanggal pernikahannya. Bukankah lebih cepat lebih baik?”
Seketika aku mengangkat wajah saat dengan santainya om Lukman memberikan usul itu, yang tentu saja disambut dengan baik oleh abah. Sungguh, kami baru bertemu dua jam yang lalu, dan sekarang om Lukman serta abah sudah ingin menentukan tanggal pernikahanku dan mas Arifin? Memang tidak ada yang terlalu cepat dalam hal seperti ini, dan benar apa kata om Lukman kalau semakin cepat maka semakin baik. Hanya saja, aku masih terlalu berat untuk mengiyakan permintaan itu.
‘Bukankah jika dia jodohku, aku akan merasakan darahku yang berdesir halus dan jantungku yang berdetak tidak karuan saat tatapan kami bertemu? Lantas, kenapa rasanya seperti tidak ada hal istimewa yang kurasakan saat tatapan kami berserobok?’
Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu terus saja terngiang dikepalaku hingga tanpa sadar aku sudah duduk disamping mas Wahyu hampir dua jam, dan mendengarkan pembicaraan antara abah dan om Lukman serta mas Arifin yang sesekali menimpali obrolan. Sementara aku hanya diam dan membiarkan pikiranku berkeliaran entah kemana.
“Bagaimana kalau bulan depan saja? Tidak baik membiarkan Faza dan Arifin saling mengenal tanpa ada ikatan.” Usul om Lukman lagi yang membuatku kembali mengangkat wajah dan menoleh kearah abah. “Bagaimana, Faza?” sekilas aku menoleh kearah mas Arifin yang masih sesantai sebelumnya. Pria itu bahkan tersenyum kearahku dengan begitu sopan. Hanya saja, senyuman seperti itu tidak mampu membuatku terpesona dan jatuh cinta.
“Bulan depan? Apa tidak terlalu cepat, om?” tanyaku memberanikan diri.
“Tidak ada kata ‘terlalu cepat’ untuk hal mulia seperti ini, nduk.”
“Bukan begitu, bah. Tapi bulan depan banyak sekali agenda Faza di kampus.” Mulaiku setelah mendapatkan akal sehatku kembali meski belum sepenuhnya. Sungguh, mendengar sebuah rencana pernikahan bukan sesuatu yang ingin segera kudengar disabtu sore seperti ini. “Ada seminar nasional yang harus Za urus dan juga ujian akhir yang akan diadakan bulan berikutnya.”
“Kalau begitu bagaimana kalau selepas Faza selesai ujian akhir saja, bah?” kali ini aku tidak hanya mengerutkan kening, aku bahkan meraih tangan kiri mas Wahyu dan menggenggamnya kuat-kuat sembari menarik napas dalam berulang kali.
Jika sang calon pengantin pria sudah membuka suara, lantas apalagi yang bisa kulakukan? Alibi apalagi yang harus kukatakan pada abah dan om Lukman?
“Biarkan Za memikirkanya dulu, bah.” Dan seolah mengerti apa yang kupikirkan, mas Wahyu yang sejak tadi hanya diam memberanikan diri memberi usul pada abah, om Lukman dan juga mas Arifin. “Bukan maksud Wahyu ingin ikut andil terlalu besar, hanya saja Za pasti belum siap jika harus memberi keputusan sepenting itu sekarang juga.” aku tidak tahu bagaimana reaksi abah, om Lukman dan juga mas Arifin mendengar kalimat mas Wahyu. Tapi sungguh, aku akan sangat berterima kasih pada kakak laki-lakiku ini begitu mas Arifin dan om Lukman undur diri.
“Saya harap mas Arifin dan om Lukman bisa memakluminya.” Sambung mas Wahyu lagi sebelum merangkul pundakku dan mengajakku masuk kedalam. “Wahyu dan Za mohon undur diri bah, om Lukman, mas Arifin.”
Kalau sudah seperti ini, lantas apalagi yang bisa kulakukan selain mengutuk dan menyalahkan diriku sendiri? Menyalahkan aku yang begitu takut meski hanya untuk menolak perkenalan ini. Menyalahkan diriku yang bahkan tidak berani mengatakan pada abah kalau aku tidak menghendaki pernikahan ini.
__ADS_1
“Katakan padaku, mas. Dosakah kalau aku mengatakan perasaanku pada pak Gibran? Dosakah kalau aku mengaku padanya tentang perasaanku?”
* * * * *