
Gibran
Tepat seperti yang sejak tadi kupikirkan bahwa Faza pasti tidak nyaman dengan situasi kami beberapa saat yang lalu. Bahkan hingga aku melajukan mobilku keluar pelataran parkir kantor Tempo dan menuju markas sahabat pena untuk menemui Muhammad Fahri, Faza masih saja diam dan memalingkan wajah dariku.
“Kamu kenapa, Za? Tambah tidak enak badan?” benar-benar pertanyaan tidak berguna sebab aku tahu pasti alasan kenapa gadis itu hanya diam dan memilih untuk sibuk dengan bungkus tisu dipangkuannya.
“Tidak.”
“Then? Kenapa kamu terlihat kesal sekali sejak tadi?”
“Boleh saya tanya sesuatu pada pak Gibran?” Kali ini gadis itu bahkan mau repot-repot memutar tubuhnya agar bisa menghadap kearahku. “Kenapa bapak tidak merasa perlu meluruskan kesalahpahaman pak Reynaldi tadi?” sambungnya tanpa menunggu persetujuan dariku.
“Kesalahpahaman yang mana?”
Seperti déjà vu, tiba-tiba saja aku seperti mendapati sosok Aida Restanti yang sedang duduk disampingku dan memberiku tatapan penuh permusuhan karena kesal padaku. Hanya saja, ditarikan napasku yang kedua, aku sadar betul jika gadis yang duduk disampingku bukanlah Aida melainkan Faza.
“Ya ampun, apa saya harus menjelaskannya pada bapak tentang kesalahpahaman tadi? Jelas sekali kesalahpahaman sudah terjadi sejak kita masih ada di lobi kantor.”
“Maksud kamu tentang pak Reynaldi yang mengira kamu adalah istri saya?” lagi-lagi aku sempat mendapati wajah Faza yang terkejut saat aku meliriknya dengan ekor mataku sebelum gadis ini memilih untuk kembali memutar tubuhnya hingga aku kembali kesulitan menjangkau wajahnya dengan pandanganku. “Atau tentang saya yang terlalu santai menanggapi lelucon pak Reynaldi?”
“Lupakan saja, pak. Tidak penting juga.”
“Kenapa kamu terganggu sekali karena hal seperti itu?”
“Dan saya rasa tidak ada perempuan yang tidak terganggu jika terjebak pada situasi seperti tadi.”
Aku tahu seharusnya percakapan seperti ini bukanlah percakapan yang harus kulakukan bersama mahasiswiku. Hanya saja, akal sehatku seperti bekerja terlalu liar siang ini dan menuntutku untuk melupakan statusku sebagai seorang dosen dan melupakan kenyataan kalau Faza adalah mahasiswiku sendiri.
“Kamu berlebihan, Za. Jelas sekali kalau apa yang pak Rey ucapkan hanya guyonan dan tidak lebih dari itu.” yah, meski dalam hati aku selalu mengamini apa yang pak Reynaldi katakan mengenai aku dan Faza.
“Baiklah kalau bapak menganggapnya begitu.” Tandas Faza yang mirip gumaman untuk dirinya sendiri dibandingkan dengan sanggahan untuk kalimatku.
“Saya pikir pertemuan kita empat tahun lalu bisa membuat kita sedikit lebih dekat, Za.” Dan aku memang pernah berpikir jika aku dan Faza bisa sedikit lebih dekat dibandingkan hubunganku dengan mahasiswaku yang lain. “Tapi nyatanya pertemuan kita di Blora empat tahun lalu hanya angin lalu untuk kamu.”
“Pak,”
__ADS_1
“Kamu bahkan terlihat begitu tidak nyaman setiap kali saya mengajar di kelas kamu, atau setiap kali kita berpapasan tanpa sengaja.” Sungguh, aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat konyol itu bisa begitu lancar keluar dari mulutku seolah aku memang sudah merencanakan percakapan seperti ini dengan Faza sebelumnya. “Kamu terlihat begitu tidak menyukai saya.”
Kali ini Faza bahkan tersenyum tipis mendengar rentetan kalimatku yang bahkan ditelingaku sendiri terdengar sangat tidak masuk akal. Sungguh, itu bukan kalimat yang biasa diucapkan oleh pria dewasa sepertiku.
“Hanya karena saya tidak seekspresif teman-teman perempuan saya yang lain, bukan berarti saya membenci anda, pak.” Mulai Faza setelah memasukkan gumpalan tisu yang baru saja ia pakai kedalam tasnya. “Dan tentang pertemuan kita empat tahun lalu, harus seperti apa saya menanggapinya? Haruskah saya bersikap seolah kita adalah teman lama yang kembali di pertemukan?” aku tahu itu hanya pertanyaan retorik, hanya saja aku tetap ingin menjawabnya dan membuat Faza mengerti jika aku menginginkan dia memperlakukanku dengan cara yang sedikit berbeda.
“Setidaknya kamu tidak harus secanggung itu setiap kali kita bertemu.”
“Itu hanya akan membuat saya terlihat seperti mahasiswa yang tidak tahu sopan santun, dan membuat pak Gibran kehilangan wibawa di mata teman-teman saya.” Tepat saat aku menginjak pedal rem mobilku dan berhenti di sebuah gedung dua lantai dengan cat yang dimonasi warna terang, Faza menoleh kearahku. Membuat tatapan kami bertemu untuk beberapa saat sebelum gadis itu kembali menunduk. “Saya hanya menjaga apa yang memang sudah seharusnya saya jaga.” Sambungnya sebelum membuka pintu mobil setelah tersenyum kearahku untuk sekilas.
Menjaga sesuatu yang seharusnya dia jaga. Jika sudah seperti itu, apa yang bisa kulakukan agar aku bisa menjangkau gadis ini? Apa yang bisa dilakukan oleh pria awam sepertiku untuk gadis yang begitu terjaga seperti dirinya? Dan, apa aku pantas menginginkan dia yang begitu terjaga sementara aku masih begitu sulit mengendalikan rasa?
* * * * *
“Saya hanya menjaga apa yang memang sudah seharusnya saya jaga.”
Menjaga sesuatu yang memang harus dia jaga. Sebenarnya tidak harus menjadi super jenius untuk bisa menerjemahkan maksud dari kalimat sederhana yang Faza ucapkan padaku kemarin sore. Saat aku dan gadis itu terlibat penbicaraan yang sebenarnya tidak perlu terjadi diantara kami, juga topik obrolan yang sebenarnya tidak harus kuajukan padanya. Topik obrolan yang pada akhirnya kusesali setengah mati karena membuat suasana canggung kembali menyelimutiku dan Faza yang sebelumnya telah sedikit membaik.
Aku tidak tahu kalau Faza akan begitu terganggu karena candaan-candaan yang pak Reynaldi keluarkan, dan respon yang kuberikan untuk lelaki itu. Faza bahkan menolak kuantar pulang selepas kami menyudahi pertemuan dengan Muhammad Fahri meski saat itu hari sudah hampir maghrib. Mengatakan kalau kakak laki-lakinya akan menjemput dan memintaku untuk pulang terlebih dahulu.
Aku bahkan sempat mengira kalau seseorang yang Faza sebut dengan ‘kakak laki-laki’ adalah pacar atau teman dekat gadis itu. Dan aku, dengan segala kebodohan yang kumiliki memilih untuk menepikan mobilku dan mengamati Faza yang masih berdiri di depan gedung dimana kami menemui Muhammad Fahri. Mengamati seperti seorang pentuntit murahan hingga sebuah picanto hitam berhenti tepat di depan Faza dan seorang laki-laki keluar dari pintu kemudi dan mendekati gadis itu.
Dan lagi-lagi aku sempat berspekulasi kalau laki-laki itu adalah adalah pacar Faza kalau saja sikap gadis itu tidak meneriakkan padaku kalau itu adalah sikap yang seorang anak perempuan tujukan pada kakak laki-lakinya. Sungguh, tidak ada gadis yang akan bersikap sesantun itu pada pacarnya.
“Dasar Gibran bodoh. Mana mungkin gadis seperti Faza mempunyai seorang kekasih saat dirinya bahkan enggan untuk bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya?”
Tak urung aku hanya tersenyum kecut dan mengejek pemikiran konyolku beberapa saat yang lalu. Benar juga, tidak ada gadis seperti Faza yang bersedia dijadikan pacar oleh seorang laki-laki tanpa dinikahi terlebih dahulu.
“Pacaran setelah menikah?”
“Iya. Menikah dulu baru pacaran. Bukan pacaran dulu baru menikah.”
Dan nyatanya aku memang pernah menanyakan hal seperti itu pada Aida sebelum aku memberanikan diri untuk melamar gadis itu. Dibesarkan oleh keluarga dengan kesadaran religius yang biasa saja tidak lantas membuatku buta dengan hal-hal seperti itu. Aku mempelajarinya meski tidak begitu mendalam dan hanya sekedar tahu jika islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Itulah kenapa aku berani bertanya hal seperti itu pada Aida, dan berharap gadis itu paham kalau aku ingin memuliakannya sebagai pasanganku yang halal.
“Memang bisa seperti itu?” lagi-lagi aku hanya mengangkat bahu saat Aida justru tertawa kecil mendengar kalimatku. Aida Restansi nyatanya memang tidak seperti Faza yang mengenakan jilbab lebar dan menolak bersentuhan dengan laki-laki yang tidak halal baginya. Aida adalah gadis biasa yang membuatku jatuh cinta dengan cara yang luar biasa.
__ADS_1
“Entahlah, otakku terlalu dangkal kalau diminta memikirkan hal seperti itu, mas.” Tapi tak urung Aida menjawabnya juga meski berkali-kali dia menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. “Aku yang masih seperti ini rasanya tidak pantas kalau meminta hal seperti itu. Lagipula laki-laki mana yang bersedia menikah tanpa pacaran dengan gadis sepertiku yang berjilbab saja tidak.”
“Aku bersedia.” Benar, saat itu aku dan Aida baru saling mengenal beberapa bulan dan aku belum menyatakan perasaanku meski aku sadar betul kalau aku menyukai Aida. “Aku bersedia menikahi kamu tanpa pacaran terlebih dahulu. Dan kita bisa pacaran setelah menikah.”
Jika aku memikirkannya sekarang, rasanya aku malu sendiri. Aku malu pada diriku yang sekarang, juga malu pada Aida. Aku yang saat itu hanya mengenal sholat lima waktu yang bahkan tak jarang kutinggalkan, bertingkah seolah aku adalah pria paling shalih di dunia ini dengan mengajak seorang gadis menikah tanpa pacaran. Aku yang mengaji saja masih jarang berani berbicara seolah aku adalah pria paling berilmu di dunia ini yang sanggup membimbing Aida menjadi wanita shalihah.
“*Pun begitu dengan laki-laki yang ingin mendapatkan wanita sholihah, diapun akan berusaha untuk menjadi sholih terlebih dahulu.”
“Datangi ayahnya dan minta restunya. Insyaa Allah, tidak ada gadis yang tidak luluh jika dijemput dengan cara seperti itu, pak*.”
Dan yang bisa kulakukan hanya menarik napas dalam saat tiba-tiba kalimat pak Ridwan beberapa hari yang lalu kembali terngiang dikepalaku. Obrolan kami tentang jodoh yang membuatku tersenyum kecut sebelum membuka laci meja kerjaku dan memperhatikan sebuah kotak warna hitam dan membuka kotak kecil itu. Mengamati sebuah cincin perak didalamnya yang tidak pernah kukeluarkan ataupun kusentuh sejak terakhir kali aku memasukkan cincin itu kedalam kotak kecil ini enam tahun yang lalu.
“Siapa yang sebenarnya paling layak memakai cincin ini?”
Sebuah cincin perak dengan permata kecil diatasnya. Sebuah cincin hasil kerja paruh waktuku yang kubeli untuk Aida tujuh tahun yang lalu. Sebuah cincin perak yang pernah gadis itu pakai meski hanya sebentar sebelum orang tua Aida mengembalikan cincin itu padaku seminggu setelah kematian Aida. Dan ini adalah kali pertama aku menyentuh dan mengeluarkan cincin itu dari dalam kotaknya setelah enam tahun berlalu.
Aku lupa sudah berapa kali aku memikirkan tentang gadis-gadis yang kupikir akan menggantikan Aida mengenakan cincin ini. Hanya saja, tidak ada satupun dari sekian banyak gadis-gadis yang mendekatiku dan berhasil membuatku jatuh cinta seperti aku jatuh cinta pada Aida.
“Apa aku harus melamarnya?”
Menjemput dengan cara yang mulia. Dan aku tidak pernah tahu cara yang lebih baik dan lebih mulia dalam menjemput pasangan selain dengan mendatangi walinya dan memohon restunya. Tapi, apa gadis itu sudi menerima lamaran dari seorang laki-laki awam sepertiku yang ilmu agamanya saja masih begitu dangkal?
“Atau aku harus menyerah saja?”
Dan jika aku menyerah karena terlalu takut dengan penolakan yang kukhawatirkan itu, lantas dimana lagi aku harus mencari seseorang seperti dirinya dan berharap aku bisa jatuh cinta seperti aku jatuh cinta padanya?
Ah, bukankah segala hal memang hanya ada dua kemungkinan? Diterima atau ditolak. Segala hal memang hanya berkutat dengan itu-itu saja. Dan menyerah bukan hal yang ingin kuambil sekarang. Biarlah kupikirkan nanti saja keputusan gadis itu akan menerima atau menolakku. Saat ini aku hanya ingin mencoba menjemputnya menjadi pasangan halalku dengan cara terbaik yang saat ini mampu kupikirkan.
“Assalamu’alaikum, ma.”
Ini pertama kalinya aku merasa begitu yakin dengan keputusan yang kuambil selama aku hidup. Itulah kenapa aku menarik napas dalam saat di seberang sana mendengar suara mama yang mengangkat panggilanku.
“Hari ahad besok Gibran akan pulang ke Jakarta, ma. Tidak lama, mungkin hanya tiga atau empat hari.” Dalam kepalaku bahkan sudah mulai kususun obrolan yang akan kulakukan bersama papa dan mama mengenai keputusanku ini.
“Ada beberapa hal yang ingin Gibran bicarakan dengan mama dan papa.”
__ADS_1
* * * * *