
Setelah memutus sambungan telponnya dengan Ammar, Cinta pun melanjutkan langkahnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.55 menit. Cinta berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas.
Baru saja Cinta berjalan beberapa Langkah, dua orang laki-laki berpakaian jas hitam lengkap melewati Cinta.
Satu laki-laki sedang memegang notebooknya sambil menyampaikan sesuatu pada laki-laki yang satunya lagi yang bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitam pekat.
Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu seolah menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh laki-laki satunya lagi.
Cinta melihat dua laki-laki itu seperti orang yang ia kenal. Wangi parfum yang baru saja melewatinya itu seperti wangi yang tak asing bagi indera penciuman Cinta.
“Zayn” sapa Cinta ketika lelaki itu melewatinya.
Zayn membalikkan badannya melihat pada sumber suara yang memanggilnya.
“Cinta” ucap Zayn seolah kaget karena bertemu Cinta.
“Selamat siang tuan Diki” ucap Cinta menyapa Diki.
“Kita bertemu lagi” ucap Cinta.
“Iya, MasyaAllah satu hari ini sudah dua kali kita bertemu tanpa disengaja, Alhamdulillah” ucap Cinta.
Mendengar ucapan Cinta membuat Zayn hanya tersenyum.
“Hemmhh… Nona Cinta tidak tahu saja kalau pertemuan ini semuanya disengaja dan diatur oleh tuan Zayn, dasar Zayn ada saja akalnya, totalitas tanpa batas aktingnya, hehehe” Tawa Diki dalam hati menyaksiakan Zayn yang selalu punya akal untuk memantau dan melindungi Cinta.
“Oiya apa kamu sudah selesai dengan interview nya?” tanya Zayn sambil berjalan mengimbangi Langkah Cinta.
“Alhamdulillah sudah selesai tinggal menunggu hasilnya” jawab Cinta.
“Kapan hasilnya diumumkan?” lagi tanya Zayn.
“Sepertinya lusa” jawab Cinta yang kini sudah terbiasa komuniaksi dengan Zayn tanpa adanya rasa kesal seperti sebelum-sebelumnya.
“Semoga kamu berhasil dan bisa mewujudkan impianmu” ucap Zayn.
“Aamiin Yaa Allah” ucap Cinta.
Entah mengapa mendengar ucapan dan doa Zayn membuat hati cinta merasa ada yang berbeda. Disatu sisi Cinta senang karena impiannya akan segera terwujud, namun disisi lain entah mengapa Cinta merasa seolah Zayn mengucapkan salam perpisahan untuknya.
Tiiiing….
Pintu lift terbuka. Ketiganya pun masuk kedalam lift itu, kebetulan hanya mereka bertiga yang naik saat itu menuju lantai 9.
“Jika lulus maka aku tinggal dan menetap di Arab dalam waktu yang lama” ucap Cinta tiba-tiba terdengar serius.
“Iya, semoga kelak kamu betah dan menyukai suasana perkerjaan barumu” jawab Zayn melangkah dengan hati yang sedikit nyeri mendegar kalimat yang ducapkan Cinta serta kalimat yang diucapkannya sendiri.
Jleeebbb….
Hati Cinta merasakan ada sesuatu yang menusuk kedalam hatinya ketika mendengar bahwa Zayn mendoakannya agar betah tinggal di Arab.
__ADS_1
“Apakah kau benar akan melepasku, lalu mengapa waktu itu kau masih menunggu jawabanku?” tanya Cinta dalam hatinya yang tak mampu ia ucapkan pada Zayn.
“Oiya, apa pekerjaanmu juga sudah selesai?” tanya Cinta mengalihkan perbincangan.
Cinta jadi merasa tak bisa mengartikan rasa yang ia rasakan saat ini, entah mengapa mendapati Zayn yang mendoakannya betah di Arab membuat hati Cinta terasa sedih padahal seharusnya Cinta bahagia karena ia akan lepas dari gangguan Zayn dan tentunya impiannya selama ini pun akan terwujud.
“Alhmadulillah kami juga sudah selesai” jawab Zayn.
“Oiya kapan kamu akan kembali ke Palembang?” tanya Zayn karena bingung harus bertanya apa lagi, rasanya ngobrol formal begini membuat Zayn ajdi canggung.
“InsyaAllah sore ini, semoga masih ada tiket pesaawatnya” ucap Cinta.
“Kamu mau pulang sore ini tapi belum beli e-tiketnya?” tanya Zayn.
“Iya, makanya aku mau segera keatas agar bisa melakukan reservasi dikamar sambil beres-beres” ucap Cinta.
“Kebenaran kami juga akan pulang sore ini bagaimana kalau kita pulang sma-sama saja, tiketmu biar nanti di carikan oleh Diki juga” ucap Zayn.
“Owhh… kebetulan sekali, boleh juga kalau begitu. Alhamdulillah akhirmnya ada teman pulang juga” ucap Cinta dengan perasaan senang.
“Alhamdulillah” ucap Zayn tersenyum bahagia juga.
Zayn sungguh tak menyangka Cinta yang kini sangat jauh berbeda dengan Cinta yang dulu yang senantisa ketus dan selalu mengabaikannya.
“Ternyata benar kata Diki, jika aku terus menguntitnya seperti dulu, Cinta pasti merasa sangat risih dan terus mengabaikanku. Namun sebaliknya jika aku pun menghormati dan mengahrgai privasinya, Cinta pun akn bersikap baik” gumam hati Zayn sambil tersenyum menunduk menahan rasa bahagia yang menjalar keseluruh tubuhnya.
“Yaa Allah, terima kasih karena telah memberikanku orang-orang yang senantiuasa mengingatkanku pada hal-hal yang baik sesuai perintah-Mu. Mencintainya tak lebih dari kewajibanku untuk Mencintai-Mu membuatku banyak mendapatkan cinta dari-Mu” ucap Zayn bersyukur kepada Allah atas hijrah yang pelan-pelan ia lakukan untuk lebih baik lagi menjadi hamba Allah.
“Baik tuan” jawab Diki.
“Beehhhh si Zayn mendadak berangkat mendadak pulang. Ini ni kata pepatah cinta demi kamu aku lakukan apapun, hahahah” ucap Diki dalam hati.
“Maaf ya jadi merepotkan kalian, tadinya ku ragu mau pulang hari ini karena takutnya ada perubahan jadwal atau apa, makanya belum beli tiketnya. Alhamdulillah karena urusanku sudah selesai aku rasanya ingin segera pulang karena ingin sahur bareng sama Umma, Abah, kakak-kakak dan adik-adik di rumah mala mini” ucap Cinta.
“Oiya nggak bersa besok kita udah puasa aja ya, mohon maaf lahir batin ya” ucap Zayn.
“Iya, aku juga minta maaf untuk semua kesalahan dan khilaf yang pernah keperbuat, mohon maaf lahir batun ya Zayn, tuan Diki juga” ucap Cinta menangkupkan kedua tangannya.
Tiiiiing….
Pintu lift terbuka yang menandakan mereka sudah sampai di lantai 9 tempat mereka menginap. Ketiganya pun keluar.
“Kamu di lantai ini juga?” tanya Cinta.
“Iya, apa kamu di sini juga?” tanya Zayn.
“Beehhh si Zayn kura-kura dalam perahu, pura-pura nggak tahu padahal dia ngebuntutin terus sejak awal, Zayn Zayn sekarang kayaknya pinter acting ya” Diki geleng-geleng kepala sambil mengaruk tengkuknya yang tak gatal.
“MasyaAllah, pas banget ya” ucap cinta tersenyum.
“Iya, kamu di mana?” tanya Zayn.
__ADS_1
“903” jawab Cinta.
“Owhh,,, kami di 907” ucap Zayn.
“Nggak jauh dong” Cinta masih saja berbaik sangka bahwa mereka memang bertemu tak disengaja.
“Hemmhh… Iya” Zayn semakin merasa bersalah karena sebenarnya semua itu bukan kebetulan tapi memang sudah ia rencankan.
Sampai di depan kamar Cinta.
“Apa kamu sudah makan siang?” tanya Zayn.
“Alhamdulillah belum, mungkin nanti aku pesan saja via telpon dikamar” jawab Cinta.
“Kebetulan kami juiga belum ,abagimana jika kita makan siang bersama saja di lantai atas?” ptawar Zayn.
“Emhh, tapiii…” CInta merasa segan.
“Sekalian kita menunggu jam penerbangan, siapa tahu dapat tiket yang berangkat lebih awal” ucap Zayn.
“Baiklah, tapi mungkin kita sholat dzuhur dulu baru nanti naik ke atas” ucap Cinta.
“Iya, kita sholat dulu saja agar lebih tenang” ucap Zayn.
“Baiklah nanti kalau aku sudah selesai dan sudah siap beres-beresnya akan aku hubungi via telpon” ucap Cinta.
“Baiklah. Oh iya apa kamu akan langsung check-out?” tanya Zayn.
“Iya biar nanti tidak repot bolak-balik kamar” jawab Cinta.
“Baiklah, nanti barnag-barang bawaanmu biar Diki yang urus” ucap Zayn.
“Tidak apa, bawaanku tidak banyak kok, gampang tinggal hufft... ranselnya amaaan” ucap Cinta memperagakan seperti sedang memakai tas ranselnya di punggung.
“Tidak apa meskipun begitu nanti biar Diki yang urus” ucap Zayn.
“Okelah, terima kasih, maaf ya jadi merepotkan” ucap Cinta.
“Tidak apa, kalau begitu masuk dan siap-siaplah karena sepertinya sudah masuk waktu dzuhur, segeralah sholat. Kami lanjut ya, Assalamu’alaikum, sampai ketemu lagi nanti” ucap Zayn berpamitan.
“Wa’alaikumussalam warohamtullahi wabarokatuh, iya sampai bertemu lagi nanti” jawab Cinta.
Setelah kepergian Zayn, Cinta pun masuk kedalam kamarnya. Cinta bersandar di pintu kamar yang sudah tertutup. Cinta memegangi dadanya yang terus saja berdebar-debar.
Apa lagi ketika mendengar kalimat Zayn yang mengingatkannya untuk segera sholat dengan senyum manis Zayn yang terpancar dari wajah putih dan tampannya.
“MasyaAllah….” Cinta tersenyum menahan getaran dihatinya sambil memejamkan mata dan menepuk-nepuk pipinya yang sekarang terasa hangat dan mungkin saja sudah merah seperti kepiting rebus karena malu dan gugup.
#tbc….
...Haaii redaers terkasih jangan lupa tinggalkan jejaknya like dan votenya disni ya.... Love U all readers kesayangan. 😍😍😍...
__ADS_1