Bidadari Bercadar

Bidadari Bercadar
Syah


__ADS_3

''Kalau gitu silahkan mulai tuan!'' kata penghulu.


Papa Dimas memegang tangan Yudistira dengan erat.


''Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Aisyah Hardianti Nugraha alal mahri aldhahab alfidiyi 10 jiramat Hallan!'' kata papa Dimas.


''Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi,wallahu waliyu taufiq!'' jawab Yudistira dengan lantang dan lancar.


''Bagaimana para saksi?'' tanya penghulu.Namun bukan hanya saksi yang menjawab SYAH tapi semua undangan menyebutkan SYAH dengan kompak.


Penghulu pun memimpin doa yang di awali dengan basmalah dan di akhiri dengan hamdalah.


''Silahkan tanda tangan disini!'' kata penghulu itu setelah selesai berdoa dan memberikan beberapa lembar kertas.


Yudistira mendatangani surat surat itu.


Dikamar


''Ayo siap siap Aisyah,kita turun!'' kata Ustadzah Nurul.


''Iya teh ayo!'' jawab Aisyah.

__ADS_1


''Sebentar,saya foto dulu untuk promosi!'' kata seseorang yang mendandani Aisyah.


Cekrek


''Lihat kak!'' kata Aisyah.MUA itu pun memperlihatkan hasil jepretannya.



''Sekarang ayo turun!'' ucap Ustadzah Nurul.


Aisyah pun menurut menuruni tangga di gandeng Ustadzah Nurul dan di iringi dengan sholawat.Semua mata tertuju kepada bidadari bercadar yang sedang berjalan menuruni tangga.


Kak Liana terus menangis bahagia melihat adik tersayangnya sudah menikah dengan wanita yang dia cintai walaupun atas dasar perjodohan.


''Sun keningnya tuan!'' kata penghulu.Aisyah pun menundukkan kepalanya malu dan Yudistira langsung mencium kening Aisyah yang sekarang sudah syah menjadi istrinya.



Semua orang bertepuk tangan melihat kemesraan pengantin baru itu.


''Pegang ini!'' kata penghulu itu menyerahkan dua buku kecil dengan warna hijau tua dan merah.

__ADS_1


''Coba perlihatkan buku nikahnya tuan,dan tersenyum lah!'' kata Fadil.


Yudistira menurut apa yang di perintahkan Fadil temannya dan bergaya memamerkan buku nikah miliknya.



''Sekarang,kalian sungkem kepada orang tua kalian!'' kata penghulu itu.


Yudistira sungkem kepada ibunya,yaitu mami Reva dan Aisyah kepada papi Kevin.


''Mi,mami bagaikan sinar matahari yang menerangi seluruh pagi hari kita, dan bintang malam, yang memandu jalan pulang bagi kita semua.Terima kasih Ibu hanya dirimulah yang benar-benar tulus mencintaiku.Hingga detik akhirpun kau selalu menjadi orang yang pertama meredam emosiku. mencintai mami seperti pohon-pohon menyukai air dan sinar matahari. Dia membantuku tumbuh, berkembang, dan mencapai tingkat yang tinggi!'' kata Yudistira yang menangis di pangkuan ibunya.


''Maafkan segala kesalahanku mi!'' tambah Yudistira.


Mami Reva tidak bisa berkata kata dan langsung mencium kening anaknya kemudian kedua pipinya.


Aisyah dan Yudistira bertukar posisi,sekarang Aisyah yang sujud di pangkuan mami Reva,namun mami Reva tidak membiarkannya.Dia memeluk Aisyah sambil terus menangis.


"Sekarang Yudistira sudah syah menjadi suamimu,tolong didik dia,dia belum bisa apa apa tentang agama!" kata mami Reva di sela sela isak tangisnya.


"InsyaAllah mi!" jawab Aisyah yang juga menangis.

__ADS_1


Sekarang Aisyah beralih ke sujud di pangkuan ayahanda tercintanya.


"Pada akhirnya, hidup mengharuskan aku untuk mengenal satu lagi lelaki terbaik selain ayah. Lelaki itu yang kemudian akan menggantikan segala tugas dan tanggung jawab papa untuk membimbingku atas dunia dan akhirat. Lelaki itu yang akan menyandang status sebagai suamiku dan dia adalah lelaki kedua yang akan kucinta setelahmu, Papa.Waktu yang kurasa begitu cepat berlalu membuat aku sadar jika sebentar lagi tugas ayah hampir selesai. Tugas untuk membesarkan dan membimbingku akan segera berganti dengan harimu yang tak akan lagi memiliki beban karena aku. Ya, kini waktunya sudah tiba. Waktu di mana aku harus datang demi sebuah restu untuk menjalani hidup di dunia yang baru, bersama keluargaku. Aku pun datang dengan kesadaran penuh, aku sadar betul kalau langkahku tak akan jadi seringan ini untuk melaju jika bukan karena restu dari papa.Kalau sampai hari ini papa masih khawatir tentang lelaki yang akan menjadi pendamping hidupku, maka papa tak lagi perlu merasakannya. Sebab, lelaki itu sudah selalu kubawa dalam doa agar dia bisa sepertimu, menyayangi dan menjaga aku dengan tulus.


__ADS_2