
Yudistira memberi isyarat pada Aisyah menggunakan jari tangannya yang di arahkan ke arah tangga.
"Kak Nisa, aku mau nidurin dulu Syihab di atas ya!" kata Aisyah setelah mengerti isyarat yang di berikan.
"Ooh iya!" jawab dokter Nisa.
"Khai, ikut umi yuk?" Aisyah juga mengajak Khaira agar ikut bersamanya.
"Ayo umi!" jawab Khai.
Aisyah beranjak dari duduknya, dia meninggalkan ruangan sambil menggendong ubayi nya dan menuntun tangan Khai.
"Aku nyusul Aisyah dulu ya!" kata Yudistira dan di jawab anggukkan oleh dokter Nisa.
Setelah melihat situasi aman, Fauzi langsung beraksi.
"Nisa!" kata Fauzi.
"I-i-iya?" tanya dokter Nisa dengan langsung grogi.
"Seharusnya dan semestinya kamu tidak mengadukan tentang rumah tangga kita pada tuan Tira!" ucap Fauzi.
"Ma-ma-maafkan aku mas! Tapi aku tidak mengadukan apa apa tentang hubungan kita!" kata dokter Nisa.
"Terus, darimana tuan Tira tahu tentang rumah tangga kita kalau bukan kamu yang bicara!" gaya bicara Fauzi kalem, tapi mengintimidasi.
Dokter Nisa tidak menjawab pertanyaan Fauzi, dia malah menunduk tidak berani bicara lagi. Dia bingung harus ngomong apa, dia bingung mau menjelaskannya seperti apa.
"Sayang!" Fauzi memegang kedua tangan dokter Nisa dengan kedua tangannya dan matanya juga menatap wajah dokter Nisa.
__ADS_1
"Ini semua salahku! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk melupakanmu, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu! Aku terlalu terobsesi dengan pekerjaanku! Aku terlalu mencintai tuanku dari pada istriku! Aku salah! Maafkan aku!" kata Fauzi.
Dokter Nisa yang mendengar itu semakin meneteskan air mata, namun kini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia mendengar permintaan maaf dari sang suami yang memang dia sangat cintai.
"Kamu mau kan memaafkan ku?" tanya Fauzi dengan jempol tangannya mengusap air mata dokter Nisa yang ada di pipinya.
Dokter Nisa tidak bicara, dia hanya mengangguk mengiyakan permintaan maaf dari Fauzi.
Tidak ada kata ragu, Fauzi memeluk dokter Nisa. Kali ini dia benar benar merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan pada istrinya.
Dia terlalu terobsesi pada dunia luarnya hingga melupakan statusnya yang sudah beristri yang harus dia perhatikan kehidupannya.
"Aku janji, aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi! Sesibuk apapun, aku akan menyempatkan untuk pulang menemui mu! Aku janji!" kata Fauzi.
"Terimakasih!" kata dokter Nisa.
"Ayo pulang? aku rindu kita menghabiskan waktu bersama!" kata Fauzi.
"Maksudku menghabiskan waktu bersama itu, kita senang senang, main main, aku gak ada maksud ke sana tau!" kata Fauzi.
"Oooh gitu, kirain!"
"Tapi bentar, kok kamu haid pertengahan bulan? bukannya biasanya juga awal bulan ya?" tanya Fauzi.
"Ternyata kamu masih ingat jadwalnya, kukira kamu sudah benar benar lupa tentangku!" kata Dokter Nisa.
"Eh? Apa?"
"Hheh!"
__ADS_1
"Liiiiih, ya udah ayo pulang! Aku mau ada penggantiku untuk menjadi sektretaris sekaligus asisten tuan muda, Syihab!" ucap Fauzi.
"Kenapa gak punya cita cita itu dari dulu?" tanya dokter Nisa.
"Udah dari dulu kok!"
"Tapi kenapa selalu pakai pehmph..."
"Jangan bicarakan itu!" Fauzi menutup mulut dokter Nisa dengan mulutnya.
"Kenapa sih ih!" dokter Nisa kesal.
"Bii, bibi!" panggil Fauzi.
Tidak lama, datang perempuan paruh baya dari arah dapur setelah di panggil oleh Fauzi.
"Ada apa tuan? ada yang bisa bibi bantu?"
"Saya titip pesan bi, nanti kalau tuan Tira turun, nanyain saya sama istri saya, bilangin kami sudah pulang! Kami mau pamit ke atas takut ganggu, lagi istirahat!" kata Fauzi.
"Oooh iya baik! Nanti bibi sampaikan!"
"Makasih ya bi, saya pulang dulu!"
"Gak bibi bikinin minum atuh buat bu dokter?!"
"Gak apa bi, lain kali aja!" jawab dokter Nisa.
"Ya udah, hati hati di jalan non, tuan!"
__ADS_1
"Iya bi, makasih! Assalaamu'alaikum!" kata Fauzi.
"Wa'alaikumussalaam!"