Bidadari Bercadar

Bidadari Bercadar
Maaf


__ADS_3

Di perjalanan menuju ruangan Aisyah,Yudistira bersama orang tuanya bertemu dengan dokter Neta dengan wajah yang cemas.


"Tuan!" panggil dokter Neta.


"Iya,ada apa?" tanya Yudistira dengan tenang.


"Maaf saya harus mengatakan ini,nona Aisyah semakin drop! dia harus segera mendapatkan donor darah!" kata dokter Neta.


Yudistira yang tadinya tenang menjadi cemas.


"Pi,tolong cari papa Dimas pi,cepat! aku gak mau istriku kenapa napa!" kata Yudistira.


"Ya sudah,kamu tenang ya,papi akan cari mertuamu!" kata papi Kevin dan langsung pergi.


"Dok,ruangan nona Aisyah tetap kan?" tanya mami Reva.


"Tidak nyonya,ruangan nona Aisyah sudah di pindahkan ke ruang icu!" jawab dokter Neta.


"Apa kami boleh menjenguknya dok?" tanya mami Reva.


"Silahkan nyonya,tapi sebaiknya jangan membawa bayi!" kata dokter Neta.


"Apa yang kau katakan itu? apa kau tidak tahu bayi bayi ini anaknya? apa kau tega,tidak pertemukan anak dengan ibunya? dasar bodoh!" bentak Yudistira.


"Sudah sudah,sebaiknya,kita turuti perintah dokter ya?!" bujuk mami Reva.

__ADS_1


"Tidak mi,aku akan tetap mempertemukan dulu bayi bayi ini dengan ibunya,sebelum Syifa di makamkan tentunya!" Air mata Yudistira kembali mengalir mengingat bahwa putri nya sudah meninggalkan nya lebih dulu.


"Dokter,kami minta ijin ya?" tanya mami Reva dan di jawab anggukan oleh dokter Neta.


"Ya sudah,tuan,nyonya saya permisi dulu,nanti jika pendonor darah sudah ada,saya tunggu di ruangan saya!" kata dokter Neta.


"Baik dok,terima kasih!" kata mami Reva dokter Neta menjawab dengan anggukkan lagi sambil tersenyum ramah nan manis.


"Ayo Tira!" mami Reva melanjutkan perjalanan menuju ICU di mana Aisyah berada.


Yudistira masih menggendong kedua bayinya.Yang satu tertidur dan akan bangun jika lapar atau yang lain.Dan yang satu lagi tidur untuk selama lamanya.


Namun,anehnya bayi perempuan Yudistira yang sudah meninggal tidak pucat sama sekali.Wajahnya seperti bayi biasa yang sedang tidur.Itu membuat Yudistira tidak percaya bahwa putrinya meninggal.


"Ada apa pi?" tanya mami Reva.


"Papi sudah menemukan Dimas!" sambil menunjuk ke arah papa Dimas.


"Tadi,kata dokter Neta Dimas di suruh ke ruangannya!" kata mami Reva.


"Ya sudah,aku pergi dulu ya!" papa Dimas langsung pergi mencari ruangan dokter Neta.


"Pi,apa kamu tahu? bagaimana keadaan Lena?" tanya mami Reva.


"Dia sudah sadar dan di baik baik saja,namun badannya masih lemas,jadi belum bisa berjalan!" jawab papi Kevin.

__ADS_1


Mami Reva mengangguk angguk mengerti dan merekapun melanjutkan perjalanan.


"Mami sama Tira saja yang masuk ya,papi akan tunggu di sini!" kata papi Kevin setelah sampai di depan ruang ICU.


"Iya pi!" Mami Lena pun langsung masuk ke dalam.


"Mi,tidurkan bayi ini di samping kiri Aisyah!" kata Yudistira memberikan Syifa putrinya pada mami Reva setelah sampai di ruangan Aisyah dan sudah memakai pakaian khusus.


Mami Reva langsung melaksanakan perintah anaknya.


"Tidurkan Syihab di samping kanan Aisyah ma!" memberikan Syihab putranya ke mami Reva,dan mami Reva melaksanakan perintah Yudistira dengan senang hati.


"Sayang,ini anak anak kita! kamu harus bangun dan melihat anak anak kita yang lucu lucu ini.Sayang,Syihab sangat menyayangimu sehingga dia ingin menemanimu.Sedangkan Syifa,dia juga menyayangimu,tapi dia lebih ingin tinggal di alam keabadian!" Yudistira menggenggam tangan Aisyah yang tidak berdaya.


Bayi laki lakinya,semakin pulas tidur.


"Sayang,kamu harus ikhlas ya,aku akan mengantarkan anak kita ke tempat terakhirnya! Maafkan aku tidak bisa menunggumu sadar.Aku kasihan pada Syifa,dia mungkin ingin segera tenang di alamnya.Maafkan aku,maafkan aku,maafkan aku,aku tidak bisa menjagamu dan menjaga anak anak kita!" Yudistira menangis kembali dengan sedih dan sangat sedih.


"Mi,mana hand phone ku?" tanya Yudistira.


"Nih!" mami Reva memberikan hand phone Yudistira yang dari tadi di saku celananya.


Yudistira menelepon satu nomber.


"Siapkan sekarang!" kata Yudistira dalam telepon itu dan kembali mematikan telepnnya.

__ADS_1


__ADS_2