Bidadari Bercadar

Bidadari Bercadar
Menggemaskan


__ADS_3

Assalamualaikum wr wb.


Selamat pagi,selamat siang,selamat sore,selamat malam kepada semuanya.


Alhamduhillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘alaa umuuriddunya waddiin, wash shalatu was salamu ‘alaa asyrafil anbiyai wal mursalin, wa ‘ala aahihi wa ash-habihi ajma’in, amma ba’du”


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah swt, yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita.


Tidak berhenti Author mengucapkan terima kasih kepada para pembaca setia novel amatir berjudul Bidadari Bercadar.


Syukur adalah salah satu kewajiban bagi umat manusia.Saya bersyukur karena karya amatir saya bisa di terima dengan baik oleh para pembaca.


Terima kasih kepada para pembaca yang sudah memberikan like,saran,dan menyemangati Author.Terima kasih juga yang sudah memberikan hadiah kepada Author.Semoga semua kebaikannya di balas oleh Allah swt.


Terima kasih kepada kak Tiara dan kak Wahyu Ariani karena sudah berkomentar dan memberi saran juga memberi semangat pada Author.


Yang ingin di sebut,silahkan komentar di episode ini sampai episode enam puluh,nanti di episode enam puluh satu Author sebut.


Oh ya,Author minta maaf jika tulisannya masih berantakan dan tanda baca yang kurang baik.


Sekali lagi terima kasih kepada semuanya.....


...Yudistira Al-Bart ❤ Aisyah Hardianti N...

__ADS_1


Hari semakin malam,Aisyah dan Yudistira masih menatap bayi kecil mereka yang sepertinya tertidur dengan nikmat dan tenang.


Mama Lena dan papa Dimas,mungkin sudah tidur di kamar sebelah,yang nantinya akan di desain sedemikian rupa hingga menjadi kamar seorang anak perempuan.


Sedangkan dokter Nisa,dia juga menginap,dia tidur di kamar tamu di temani Rizal.


Tiba tiba Khai bangun saat orang tuanya sedang menatapnya.Khai bangun dan bergerak gerak seperti tidak nyaman.


"Sayang,dia kenapa?" tanya Yudistira.


"Sepertinya dia pipis kak!" jawab Aisyah sambil meraba kain bagaian bawah si bayi.


"Wah,ternyata anak bunda yang cantik ini pipis ya!" kata Aisyah membuka kain si bayi.


"Yah,kak,dia BAB! bisa minta tolong ambilkan air hangat gak?" tanya Aisyah.


"Tunggu sebentar ya,abi kamu lagi ngambil air buat membersihkan ee kamu!" kata Aisyah.


"Nah!" kata Yudistira memberikan seember air.


"Astagfirullah kakak! Aku butuh air hangat buat bersihin bayi,bukan buat bersihin kakak!" kata Aisyah.


"Terus harus sebanyak apa?" tanya Yudistira.

__ADS_1


"Tidak usah banyak banyak kak,Semper empat gayung juga cukup!" jawab Aisyah.


"Emangnya bakal bersih?" tanya Yudistira.


"Kak,Khai ini masih bayi! pup nya juga belum banyak dan gak bau! di lap pakai tisu juga akan bersih!" jawab Aisyah mulai kesal.


"Terus,kenapa gak pakai tisu aja?" tanya Yudistira.


"Astaghfirullah,Kak,aku takut ruam di bagian sensitifnya!" jawab Aisyah.


"Kok kamu kaya kesal gitu?" tanya Yudistira.


"Aku saja yang ngambil air nya!" kata Aisyah pergi ke kamar mandi untuk mengambil air.


Yudistira hanya tersenyum melihat istrinya yang kesal karenanya.


Kalau marah,atau kesal,dia tambah menggemaskan dan tambah cantik gumam Yudistira sambil senyum senyum.


"Kenapa senyum senyum sendiri?" tanya Aisyah yang sudah di samping Yudistira membawa sedikit air di gayung.


"Ah apa? ah nggak kok!" kata Yudistira.


"Simpan balik ember itu!" kata Aisyah ketus.

__ADS_1


"Kamu cantik kalau kesal!" bisik Yudistira di telinga Aisyah lalu pergi membawa ember itu sambil tersenyum.


Aisyah juga hanya tersenyum.


__ADS_2