Bidadari Bercadar

Bidadari Bercadar
Maha Adil Tuhan


__ADS_3

Yudistira pun pergi memasuki kamar Aisyah.Dia melihat istrinya yang sudah terbaring lemas di atas kasur dengan badan di tutupi selimut dengan wajah sudah pucat pasi.


Yudistira berlari menghampiri istrinya dengan wajah khawatir dan panik.


"Sayang,kamu kenapa?" Yudistira menghampiri Aisyah.


"Sakit kak!" jawab Aisyah dengan suara serak menahan sakit dan tangis.


"Mana yang sakit?" tanya Yudistira sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Aisyah.


"Tidak kak,kakak tidak akan mengerti! kembalikan selimutnya!" kata Aisyah sambil mencoba menarik selimut.


"Kita ke dokter kalau gitu,atau aku akan memanggil dokter Nisa!" kata Yudistira masih panik.


"Tidak perlu kak,ini hanya terjadi beberapa jam!" jawab Aisyah.


"Tapi aku tidak tega melihat istriku kesakitan!" kata Yudistira.


"Ini umum terjadi di wanita kak,lebih baik kakak siap siap untuk sholat dzuhur,sebentar lagi adzan!" kata Aisyah.


"Ya sudah,aku ke kamar mandi dulu ya? kamu tidak apa apa aku tinggalkan?" tanya Yudistira.

__ADS_1


"Tidak,sebentar lagi juga sembuh!" jawab Aisyah.


"Apa kamu yakin?" tanya Yudistira.


"Jika kak Tira banyak tanya,rasanya semakin sakit!" kata Aisyah.


"Ya sudah,aku pergi dulu!" Yudistira langsung pergi ke kamar mandi dengan wajah masih khawatir dan panik.


Apa memang semua wanita seperti itu? kenapa? kenapa tuhan membuat wanita tersakiti? benar yang di katakan papi dulu,sekuat kuatnya laki laki,tidak akan mengalahkan kekuatan perempuan. Tapi kenapa? kenapa gak laki laki saja yang tuhan sakiti? tapi jika laki laki yang tuhan sakiti,siapa yang akan bekerja mencari nafkah untuk istrinya? apa istrinya yang akan mencari nafkah dan seorang suami diam di rumah? tidak,itu tidak mungkin. Jika perempuan bekerja,apa mungkin dia bisa mengangkat beban seperti barang barang yang dari bahan besi? tidak mungkin,perempuan kuat dalam menanggung beban dari tuhan.Maha adil tuhan! kata Yudistira di dalam toilet sambil memandang bayangannya di cermin yang ada di kamar mandi itu.


Tidak lama kemudian,Yudistira keluar dari kamar mandi dengan wajah,rambut,tangan,tidak lupa kaki sudah basah dengan air wudhu.


Dia melihat ke atas ranjang,namun istrinya yang tadi sedang berbaring kesakitan,sekarang sudah tidak ada.


Yudistira berlari ke luar kamar.


"Ma,apa mama melihat Aisyah?" tanya Yudistira dengan wajah cemas.


"Lihat,kamu kenapa? kok cemas gitu?" jawab mama Lena.


"Dia kemana ma? tadi pas aku ke kamar mandi,dia terbaring lemas di atas ranjang.Tapi,pas aku keluar dari kamar mandi,dia sudah tidak ada di atas ranjang ma!" kata Yudistira.

__ADS_1


"Tapi barusan mama liat Aisyah ke dapur tidak apa apa!" kata mama Lena.


"Apa? Aisyah ke dapur?" tanya Yudistira masih panik.


"Iya!" jawab mama Lena.


"Kalau gitu aku ke dapur dulu ma!" Yudistira langsung berlari ke dapur.


"Sayang!" teriak Yudistira dan langsung berlari menghampiri Aisyah yang sedang membasuh sesuatu di atas wastafel.


"Apa apaan sih kak Tira,malu tahu!" kata Aisyah yang di peluk Yudistira dari belakang.


"Kamu kenapa kesini? bukannya kamu sedang sakit?" tanya Yudistira melepaskan pelukannya.


"Aku mau buat ramuan kak!" jawab Aisyah.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Yudistira.


"Jangan meragukan kemampuan seorang santri kak! santri itu serba bisa dalam segala hal!" jawab Aisyah sombong.


"Apa seorang santri di ajarkan untuk sombong?" tanya Yudistira sinis.

__ADS_1


"Hahahahah ya tidak lah,masa iya!" kata Aisyah.


__ADS_2