
"Terus,di mana keponakanku sekarang?" tanya dokter Nisa.
"Di kamar kak! mau aku bawa ke sini atau kakak yang ke kamar?" jawab Aisyah.
"Kita ke kamarnya aja! kasihan kalau lagi tidur harus di bawa ke sini!" kata dokter Nisa.
"Ya sudah,kalau gitu ayo!" kata Aisyah.
"Aku ikut!" kata Yudistira.
"Mama juga!" kata mama Lena.
"Papa juga!" kata papa Dimas.
"Hayyyh ya sudah ayo!" kata dokter Nisa setelah membuang nafas kasar.
Merekapun pergi ke kamar Aisyah tempat Khai berada sekarang.
Pintu kamar itu terbuka otomatis ketika melihat wajah Aisyah atau Yudistira,atau tidak perlu mendengar perintah dari Aisyah atau Yudistira,pintu itu akan menurut.
Setelah pintu terbuka,terlihat Rizal sedang main game di hand phone nya.Sedangkan si bayi tertidur lelap dengan senyuman di wajahnya.
"Wah lucu sekali keponakan ku ini!" kata dokter Nisa memainkan pipi Khai yang lembut dan lembek seperti adonan donat.
"Dia senyum kak,dia senang bertemu dengan kakak!" kata Aisyah.
"Iya kamu benar,Sayang tante,main yo main!" kata dokter Nisa sambil membuka selimut si bayi.
"Mau di apakan kak?" tanya Aisyah.
"Mau aku periksa!" jawab dokter Nisa.
"Oh iya kak,aku takut ada apa apa kak! soalnya,dari tadi dia belum menangis!" kata Aisyah.
"Benarkah? wah anak tante colehah banget cih!" kata dokter Nisa.
__ADS_1
"Apa itu tidak apa apa kak?" tanya Aisyah.
"Akan ku buat dia menangis!" jawab dokter Nisa.
"Tapi,jangan lama nangisnya kak! kasihan!" kata Aisyah.
"Iya!" dokter Nisa membuka semua pakaian si bayi.Dia memeriksa detak jantung nya,matanya mulutnya,dan semua.
"Apa kamu yakin ingin mendengar dia menangis?" tanya dokter Nisa.
"Iya kak,aku takut ada apa apa!" jawab Aisyah khawatir.
"Tapi,apa tidak papa jika dia dipaksa menangis?" tanya Yudistira juga khawatir.
"Tidak Tira,justru bayi itu harus menangis!" jawab dokter Nisa.
Dokter Nisa mengangkat kaki si bayi dan menyentilnya.Satu kali sentilan si bayi hanya bergerak sedikit.Dua kali sentilan si bayi hanya merengek sedikit.Ketiga sentilan,baru si bayi menangis dengan kencang,dan itu membuat semua orang bahagia.
"Tuh kan dia menangis! Dia sehat!" kata dokter Nisa.
"Alhamdulillah kalau gitu kak!" jawab Aisyah.
"Apa kamu tahu berat badannya?" tanya dokter Nisa.
"Nggak kak! aku gak tahu!" jawab Aisyah.
"Aduh,mana aku gak bawa timbangan lagi!" kata dokter Nisa.
"Aku akan menyuruh Fauzi untuk membawakan timbangan!" kata Yudistira bergegas keluar kamar untuk menyuruh asisten pekanya.
Tidak lama kemudian,Yudistira kembali masuk ke kamar diikuti Fauzi yang membawa timbangan.
"Bagaimana cara menimbangnya? apa kau mau menidurkan anakku di atas timbangan?" tanya Yudistira.
"Tidak! begini caranya!" kata dokter Nisa sambil berdiri dari duduk nya masih memangku si bayi.
"Mas,tolong simpan timbangannya di lantai!" kata dokter Nisa.Fauzi pun menurut dan menyimpan timbangan itu di lantai tanpa berkata kata.
__ADS_1
"Kenapa kau sedingin itu sama calon istrimu? kau bahkan belum menyapanya!" kata Yudiatira.Fauzi hanya diam dan menunduk.
"Aisyah,coba kamu naik ke timbangan ini!" kata dokter Nisa.
"Bukannya bayi yang mau di timbang? tapi kenapa malah istriku yang di suruh naik timbangan?" tanya Yudistira bingung.
"Sudahlah kak,diam saja dan ikuti apa kata kak Nisa!" kata Aisyah sambil naik ke atas timbangan itu.
"Berapa kilo?" tanya dokter Nisa.
"Tiga puluh lima koma dua ons!" jawab Aisyah.
"Nah sekarang kamu turun,dan naik lagi sambil memangku si cantikku ini!" kata dokter Nisa.Aisyah hanya menurut.
"Berapa sekarang?" tanya dokter Nisa.
"Tiga puluh tujuh koma empat!" jawab Aisyah.
"Kan pas tadi kamu sendiri tiga puluh lima kilo koma dua? sekarang kamu menjadi tiga puluh tujuh koma empat! sekarang,tiga puluh tujuh koma di kurang tiga puluh lima kilo koma dua! berapa hasilnya?" tanya dokter Nisa.
"Dua koma dua!" jawab Aisyah.
"Berati si cantik mungil kita ini beratnya hanya dua kilo!" kata dokter Nisa.
"Kenapa kecil sekali?" tanya Yudistira.
"Mungkin,pada saat di dalam kandungan,dia tidak pernah ada masukan vitamin atau apapun itu yang membuat dia bisa gemuk!" jawab dokter Nisa.
"Ooh,terus cara agar dia cepat besar gimana?" tanya Yudistira.
"Berikan saja asi yang cukup! dan agar hangat,karena dia terlalu kecil,pakaikan lampu penghangat untuk badannya!" kata dokter Nisa.
"Fauzi!" kata Yudistira.
"Baik tuan! kamu mau sekalian di antar pulang?" jawab Fauzi pada tuannya dan tanya Fauzi pada calon istrinya.
"Tidak mas,aku nanti saja!" jawab dokter Nisa.
__ADS_1
"Saya permisi!" Fauzi pamit dan langsung pergi setelah di beri isyarat tangan oleh tuannya.