Bidadari Bercadar

Bidadari Bercadar
Nasihat


__ADS_3

"Aisyah!"


"Iya kak?" tanya Aisyah.


"Fauzi gak akan di apa apain kan?" tanya dokter Nisa yang khawatir melihat perlakuan Yudistira pada sekretarisnya.


"Aku juga gak tahu kak! Tapi kak Tira gak bakal jahat kok! Kakak tenang aja ya!" ucap Aisyah mencoba menenangkan.


"Beneran?"


"Iya, sama aku aja gak pernah kasar! Jangankan kasar, ngebentak juga gak pernah!" kata Aisyah.


"Semoga saja ya kalau gitu, kakak takut!" kata dokter Nisa.


"Udah gak usah takut, ayo masuk!" ajak Aisyah. Dokter Nisa mengangguk mengiyakan ajakan Aisyah.


Di ruangan Yudistira, suasana menjadi tegang. Yudistira duduk di balik meja kerjanya, dan Fauzi berdiri di depannya dengan kepala menunduk tidak berani menatap wajah Yudistira. Dia sudah mengerti bahwa Yudistira akan marah walaupun dia belum tahu Yudistira marah karena apa.


"Apa hasil kerja mu selama saya tidak ke kantor, tidak terjun ke dunia perusahaan?" tanya Yudistira dengan dinginnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, perusahaan saat ini sudah semakin berkembang! Semua proyek yang tuan rencanakan sudah lancar di jalankan!"


"Yang di dekat pasar dekat pesantren istri saya gimana?"


"Alhamdulillah, sudah hampir selesai, mungkin besok lusa tuan bisa langsung melihat ke sana, sekaligus meresmikan tempat itu!"


"Aturkan jadwalnya, jangan lupa undangan masyarakat dan pemerintahan setempat!"


"Baik tuan!"


"Tapi, walaupun kerjamu bagus di kantor, saya tetap kecewa sama kamu!"


"Memang bagus kamu ahli dalam bidang pekerjaan di kantor! Tapi kamu lemah dengan urusan kamu di rumah!" kata Yudistira.


"Maaf tuan, saya tidak mengerti!"


"Kau terlalu sibuk bekerja! Kau lupa punya perempuan yang menunggumu di rumah! Kau meninggalkan kewajiban mu sebagai suami, sebagai pemimpin rumah tangga! Kau kira itu semua tidak dosa?"


"Maaf tuan, tapi saya bekerja juga bukan untuk diri saya sendiri! Saya bekerja juga untuk istri saya!"

__ADS_1


"Yaaa, memang kau cukupi nafkah lahirnya, kau terus beri istrimu uang, tapi tanpa perhatiannya! Istrimu bukan hanga butuh materi! Tapi istrimu juga butuh rohani! Istrimu bukan hanya butuh mafkah djohir! Tapi dengan nafkah bathin! Dan itu semua kewajibanmu sebagai suami untuk memberikan itu! Jangan kau kira, dengan hanya memberi istrimu uang yang cukup, kau sudah menyelesaikan kewajibanmu! Kau harus meluangkan waktu untuk istrimu! Jalan jalan, healing, berduaan di kamar pun itu bisa membuat kalian healing! Jangan terlalu mementingkan pekerjaan sampai kau lupa pulang! Nih ya, banyak istri yang rela gak punya uang asal bersama suaminya, banyak istri yang rela miskin asal bersama suaminya, itu karena si istri ingin punya teman! Kau itu sebagai suami di anggap temannya yang bisa nampung curhatannya, di anggap ayah nya yang bisa terus memberikan semangat padanya, dan lain sebagainya! Kamu harus mengerti dengan itu semua!"


"Baik tuan!"


"Baik baik baik, jangan hanya ngangguk ngangguk, jalankan! Kasian istrimu!"


"Baik tuan!"


"Sampai kau buat istrimu menangis, setetes air mata istrimu itu jatuh dari pipi nya karena mu, ratusan bidadari di surga juga ikut menangis karena mu!"


"Baik tuan, saya minta maaf!"


"Minta maaf ke istrimu sana!"


"Baik tuan!"


Setelah selesai dengan cukup menasehatinya seperti itu, dengan berharap semoga Fauzi mengerti dan bisa berubah, Yudistira langsung meninggalkan ruangannya tanpa basa basi lagi.


Fauzi hanya mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2