
Dua hari kemudian.
Siang ini Nadin di temani oleh Mama Bunga, mengingat Mama kandung nya sendiri belum sehat betul. Nadin selalu di jaga oleh Mama mertua nya itu jika sang suami tercinta selagi pergi bekerja.
''Bagaimana sambal nya, pedas gak. ?'' Tanya sang Mama mertua, sedang memotong-motong berbagai buah. Ada sebutir bengkuang, timun, mangga dan yang terakhir pepaya setengah matang.
''Gak terlalu Ma, Nadin memakan rujak beginian mual Nadin sedikit berkurang.'' Ungkap Nadin, beralih mengambil sepotong pepaya setelah mengambil sepotong mangga.
''Iya, Mama tau. Tetapi kamu makan rujak nya jangan terlalu banyak sambel nya. dan satu lagi, kamu makan rujak nya sesudah makan nasi, meskipun hanya sedikit.'' Kasih tau Mama Bunga.
''Iya Ma, Nadin mengerti.''
''Oh iya Nad, besok siang Vio sudah bisa keluar dari dalam penjara.'' Ungkap Mama Bunga, seraya menelisik dalam bola mata milik menantu nya itu.
Uhuk
Uhuk
Mama Bunga bergegas meraih air putih di dalam gelas dekat dia duduk. ''Minum dulu.''
__ADS_1
Nadin segera menerima gelas air tersebut, dan berlalu meminum nya supaya mengurangi sakit di tenggorokan nya.
''Maafin Mama Nad, sudah bikin kamu ke sedak.'' Ucap sang Mama yang merasa bersalah, telah membuat sang menantu nya itu merasakan sakit di bagian tenggorokan.
''Tidak apa-apa Ma, Nadin hanya merasa terkejut saja.''
''Bagaimana dengan tenggorokan nya. ? Apa masih terasa sakit. ?'' Tanya Mama Bunga sedikit khawatir.
''Sudah gak kok Ma, lagian tadi sambal nya tidak terlalu banyak, jadi tidak meninggalkan luka.''
''Bagus deh, '' Bergerak membersihkan pisau buah di wastafel sebelum dia simpan di tempat yang aman.
''Janji, janji apa Ma. ?''
Selesai mencuci pisau, Mama Bunga menyimpan pisau tersebut di atas nakas, di samping buah yang masih tersisa.
''Iya, janji Mama untuk membebaskan Vio dari dalam penjara dengan satu syarat. '' Menatap bola mata sang menantu nya.
''Apa syarat nya, kehamilan aku.?'' Balas Nadin, menatap balik sang mertua nya itu.
__ADS_1
Mama Bunga mengangguk pelan, ''Iya, setelah kamu mengandung calon cucu Mama.''
Mendengar jawaban dari sang Mama mertua, Nadin menghela nafas panjang. ''Kenapa sih Ma,? Ada perjanjian seperti itu segala.'' Protes Nadin, dari nada suara nya seperti dia sangat keberatan ada nya perjanjian itu.
Mama Bunga mengerutkan kening nya beberapa waktu sebelum mengeluarkan suara nya kembali. ''Memangnya kenapa Nad.?''
''Hal itu gak baik saja Ma, seperti bahan taruhan calon bayi ku.'' Ungkap Nadin sedih.
''Mama meminta maaf, telah menjadikan calon bayi kamu seperti bahan taruhan. Jujur, Mama tidak bermaksud menjadikan cucu Mama bahan taruhan.''
''Sama aja, calon bayi ku seperti sebuah jaminan untuk membebaskan Vio dari dalam penjara.''
''Beda Nad, bahan taruhan sama jaminan.''
''Taruhan adalah kegiatan di mana terjadi kesepakatan antara dua belah pihak tentang siapa yang menang maupun kalah.''
''Aku tau, lalu beda nya Mama apa. ?'' Nadin mulai terisak pelan, hiks.
''Maksud Mama, Mama hanya ingin menjamin kebahagiaan rumah tangga putra ku terlebih dahulu. Sebelum, Mama membebaskan Vio dari dalam penjara Nad, hanya itu gak lebih.''
__ADS_1
''Kamu sudah salah paham, sayang.'' Usap lembut pucuk rambut sang menantu nya itu.