Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
38. Who is?


__ADS_3

🍁🍁🍁


Sementara itu di tempat lain di salah satu pelabuhan Thailand Ronal memandu Bams dan anak buahnya naik ke salah satu kapal barang menuju Indonesia.


"Pastikan untuk tidak bersikap mencurigakan selama diatas kapal." Ucap Ronal. "Apalagi sampai membuat keributan dan berkelahi dengan penumpang lain." Sambungnya memberi perintah pada Bams yang melambaikan tangan membelakangi Ronal. "Raden tidak akan berbelaskasih jika kalian sampai terlibat masalah sekali lagi." Jelasnya mengingatkan Bams untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas yang diberikan Raden.


"Pergilah!" Sahut Bams berbalik badan dengan mengayunkan tangannya meminta Ronal untuk segera pergi meninggalkan pelabuhan. "Khawatirkan saja dirimu!" Teriaknya bersamaan dengan kapal yang perlahan bergerak meninggalkan dermaga dan Ronal yang menyeringai padanya.


"Dasar!" Umpat Ronal berbalik badan kembali ke mobilnya menuju bandara bersama dengan amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit Thailand yang ia terima siang tadi.


Satu Minggu yang lalu saat anak buah Bams berencana akan membuang jasad. Ronal memeriksa tubuh pria itu dan tak menemukan balutan perban luka yang persis dengan sisa guntingan perban di reruntuhan markas.


"Dia bukan orangnya." Ucap Ronal pada Bams dan lainnya. "CK!" Decak Ronal yang kemudian menemukan kartu Id pria yang terkapar di tanah. "Cepat angkat jasad kendalam mobil." Perintah Ronal. "Empat orang tinggal membersihkan sisa-sisa darah yang di tkp." Lanjutnya masuk ke mobil bersama dengan Bams.


Brooom! Suara mobil Ronal pergi meninggalkan tempat.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan jasad pria ini?" Tanya Bams yang sesekali menoleh jasad yang tersungkur di belakang mereka.


"Mengantarnya ke hutan untuk bergabung dengan jasad yang lainnya disana." Jawab Ronal menaikan kecepatan mobilnya untuk tiba di markas milik Lukas.


Brukk! Suara Bams menjatuhkan jasad di antara reruntuhan gedung.


"Ganti semua dengan ini." Ucap Ronal melempar plastik berisi pakaian baru untuk Bams yang terkena noda darah. "Jangan lupa untuk membakarnya sampai menjadi abu." Serunya lagi pada Bams yang mencari tempat untuk berganti. Selang beberapa detik Bams pergi Ronal memakai sarung tangan dan melepas jaket yang masih ada di tubuh jasad. Ia kemudian memasukkannya ke dalam plastik dan menyimpannya dalam dasboard.


Klekk! Suara Ronal membuka pintu penginapan untuk tempat Bams dan anak buahnya tinggal.

__ADS_1


"Untuk sementara waktu kalian tinggal disini sampai keadaan membaik." Ucap Ronal. "Aku harus kembali melakukan pemindahan pada Lukas. Ini perintah dari Raden karna kesalahan yang kalian buat." Tegas Ronal melempar tas berisi uang kes pada Bams. "Itu untuk memenuhi kebutuhan kalian. Anggap aja kalian sedang liburan." Tambahnya yang kemudian berbalik badan meninggalkan Bams dan anak buahnya.


Srekkkk! Suara Ronal menyobek lengan jaket yang tergores peluru. Ia mengambil sampel darah yang berada disisi bekas goresan peluru. Lalu memberikannya pada pihak rumah sakit bersamaan dengan robekan perban berdarah yang ia temukan di runtuhan sebelumnya. Ronal meminta pihak rumah sakit untuk memeriksa kecocokan darah.


Kringgg kringg! Suara ponsel Ronal berdering setelah keluar dari pesawat. Ia melihat panggilan masuk dari Raden pada layar ponselnya.


"Halo." Sambut Ronal pada Raden.


"Bagaimana?" Tanya Raden.


"Tenang Bos,Anak buahku sedang mengurus keberangkatannya dari rumah sakit." Jawab Ronal. "Aku akan segera membawanya malam ini." Sambungnya.


"Aku tak ingin ada kesalahan apapun seperti yang terjadi di Thailand." Tegas Raden.


"----Lakukan apa yang aku perintahkan saja!" Potong Raden.


"Bos yang kita tangkap hanya seorang kaki tangan. Bagaimana mung---"


"----Aku tak punya masalah dengannya!" Potong Raden. "Sejak awal Lukas yang selalu mencari masalah denganku." Sambungnya. "Kamu hanya perlu melakukan yang aku katakan." Jelasnya.


"Ta-tapi Bos---"


"---Ingat! Aku bisa mencabut posisimu kapan pun aku mau! Ikuti aturanku!" Ancam Raden yang kemudian menutup telponnya.


"Sebelum kamu mencabut posisiku aku akan mengirim lebih dulu ke balik jeruji!" Balas Ronal menyimpan ponselnya dengan raut kesal.

__ADS_1


10 tahun sudah Ronal terjebak dalam cengkeraman Raden dan menuruti semua kemauannya. Raden mengetahui dirinya yang memiliki pekerjaan yang sama dengan Alex. Raden bahkan memiliki bukti-bukti akurat untuk mendorong Ronal ke balik sel. Kenyataan itu membuat Ronal tunduk pada Raden yang membawanya bertemu dengan Bams dan juga Lukas.


"Dia masih belum bangun." Ucap Ronal dari ujung telpon. "Bos bisa datang besok melihatnya aku akan mengirimkan kartu akses anggota kepolisian sore ini." Sambungnya melihat Luhan dari balik kaca pintu ruangan yang lengkap dengan peralatan intensif. Ia di jaga ketat oleh dua pria yang mengenakan seragam anggota kepolisian. Beberapa menit kemudian Ronal berbalik badan pergi dari depan ruangan, diikuti oleh dokter dan perawat yang keluar dari ruangan Luhan bersamaan dengan Zack dan Indri yang datang dari arah berlawanan. Zack melirik kecil pada Ronal yang melangkah pergi sambil membuka amplop hasil tes DNA.


Krekk! Zack berbalik badan sambil mendorong kursi roda di depannya untuk mengikuti dokter dan perawat yang barusan keluar dari ruangan Luhan.


"Hush!" Desis Zack pada Indri ketika melihat dokter dan perawat sebelumnya masuk ke salah satu ruang ganti.


Brukkk! suara dari dalam ruangan membuat Indri yang perlahan masuk menyusul Zack yang telah berhasil menyuntikkan cairan pada kedua dokter dan perawat yang di tempatkan Ronal. Keduanya lalu menyeretnya ke sebuah ruangan dimana Zack dan Indri melakukan pertukaran tugas dengan mereka menggunakan nama Ronal.


"Detektif Ronal sudah mengkonfirmasinya." Ucap Zack memberikan tiket keduanya untuk kembali ke rumah sakit tempat Luhan sebelumnya di rawat.


"Waktu kalian hanya ada dua jam dari sekarang untuk tiba di Bandara." Tambah Indri memberikan tiket penerbangan yang membuat keduanya bergegas meninggalkan rumah sakit lewat jalan belakang.


Drrrrtttt! Suara troli makanan yang di dorong Indri ke depan ruangan Luhan diikuti oleh Zack dari belakang.


Ceklek! Suara penjaga di depan ruangan membuka pintu untuk Zack dan Indri yang datang dengan name tag tenaga medis sebelumnya yang mereka samarkan untuk mengelabui pengawal di depan pintu. Di waktu bersamaan Ronal yang tak tahu menahu dengan Zack dan Indri duduk bersantai di lobby melihat hasil tes DNA yang ia terima sebelumnya dari laboratorium rumah sakit di Thailand.


"99,9999998 %." Suara Ronal membaca persentase hasil tes DNA pada secarik kertas ditangannya. "Dia kabur dengan selamat oleh bantuan wanita itu. Rasanya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana ya?" Mengingat kejadian saat mengejar Salwa dan Lukas. "Ckckck!Di lihat dari ruang bawah tanah sebelumnya---" Ucapnya terjeda dengan beranjak dari kursi. "---Aku yakin dialah Bos sebenarnya." Sambungnya berbalik badan. "Tapi kenapa Raden hanya menginginkan Lukas ya bukan Bos kartel itu! Bukankah lebih untung jika dia mendapatkan Bos itu ketimbang Lukas!" Mengerutkan dahinya sambil melangkah panjang menuju ruangan dimana Indri dan Zack sedang mengeluarkan makanan dari troli.


Tap tap tap! Suara langkah kaki Ronal membuat dua mata melirik kearah pintu.


"Ada yang datang." Desis suara yang membuat Zack dan Indri terjaga dan Ikut menoleh ke pintu.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2