
Klekkk! Suara pintu terbuka oleh pengawal dan mempersilahkan Ronal masuk ke dalam di sambut oleh Zack dan Indri. Keduanya berdiri diantara Luhan yang terbaring di ranjang.
"Kalian sudah selesai?" Tanya Ronal mendekat pada ranjang menatap wajah Luhan. "Apa ada perkembangan terkait kondisinya?" Memperbaiki posisi Ventilator yang membantu Luhan bernafas.
"Masih sama seperti sebelumnya Pak." Jawab Zack yang menutup separoh wajahnya dengan masker.
Cekrek! Suara Ronal yang mengambil gambar Luhan.
"Oh iya, tolong ka---" Ucap Ronal terputus melihat gambar yang akan ia kirim pada Raden. Ia melirik kecil dari sela ponsel melihat pada garis leher Luhan yang berkeringat. "---Kenapa lehernya ber----"
---Kringgg Kringgg! Potong dering ponsel Ronal mengagetkan ketiganya yang membuat Indri mencari kesempatan mengusap gelembung keringat di leher Luhan.
"CK!" Decak Ronal melihat panggilan dari Bams di layar ponselnya. "Apa lagi sih!" Mengangkat telpon sambil melihat ke Luhan kembali dan tak mendapati ada keringat lagi di lekuk lehernya. "Halo." Menerima telpon Bams sambil berbalik pergi meninggalkan ruangan menjauh dari Zack dan Indri.
Brooom! Suara mobil Ronal meninggalkan rumah sakit setelah mengirim gambar kondisi Luhan pada Raden. Ia kembali mengajukan cuti dari departemen kejahatan dan meninggalkan tugasnya pada kepala tim lain.
"Thailand satu orang." Suara Ronal keesokan harinya dari ujung telpon.
"Kamu mau ke luar negeri lagi?" Tanya wanita yang datang dari luar merangkul pinggangnya dari belakang.
"Iya sayang." Berbalik badan menghadap istrinya lalu menangkup wajahnya dan meninggalkan kecupan manis dikening.
"Sekarang?" Tanya wanita menengadah Wajahnya keatas.
"Ya!" Memeluk istrinya dengan erat. "Aku berangkat dulu." Melepas diri dari pelukan istrinya. "Jangan pernah membuka pintu untuk siapapun,mengerti?"
"Ya." Sahut Istrinya mengangguk dan melepaskan kepergian Ronal mengurus kepulangan Bams dan anak buahnya ke Indonesia. Setelah satu hari satu malam akhirnya Ronal mendapatkan kapal barang untuk transportasi Bams dan anak buah lainnya.
Broomm! Suara mobil Ronal tiba di depan rumah sakit satu Minggu sebelumnya saat ia mendapatkan hasil tes DNA Lukas. Ia keluar dari mobil membawa amplop putih menemui bagian administrasi. Ronal meminta daftarkan nama pasien yang datang pada tanggal ia dan Bams mengejar Lukas.
"Thanks." Ucap Ronal selang setengah jam kemudian beranjak dari sana dengan mengerutkan keningnya. Ia tak menemukan satu pun pasien yang mengalami luka tembak dan tusukan dalam daftar. "Apa mungkin mereka ke rumah sakit lain?" Tanya Ronal melihat rumah sakit tempat dirinya berpijak adalah rumah sakit terdekat dari lokasi pengejaran.
__ADS_1
Kringgg! Suara dering ponsel berbunyi meembuat Ronal terjaga dari pikirannya dan melihat panggilan masuk dari Raden.
"Ada apa Bos?" Sambut Ronal dari ujung telpon.
"Kamu lagi dimana?" Tanya Raden yang sedang minum bersama Wilsen dan juga Salma yang baru saja turun dari lantai atas kamar hotel.
"Saya masih di Thailand Bos." Jawab Ronal melangkah keluar menuju mobilnya.
"Bagaimana dengan Bams? Apa mereka masih belum bisa kamu pulangkan?"
"Mereka sudah ada di kapal." Jawab Ronal membuka pintu mobilnya.
"Baiklah." Sahut Raden yang kemudian menutup telponnya.
"Eh,Apa ada sesuatu yang baik terjadi?" Tanya Ronal masuk ke mobilnya. "Biasanya hanya tahu berteriak dan memerintah!" Cibir Ronal menginjak pedal gasnya bersamaan dengan buih sampanye menembak keluar dari bibir botol yang di genggam Salma. Ia merayakan akan rencananya yang berhasil membuat Salwa marah.
"Cheers!" Ucap Salma pada Wilsen sesaat Raden telah pergi lebih awal meninggalkan keduanya.
"Adik? Hahaha." Sahut Salma terjatuh ke pelukan Wilsen. "Dia bukan adikku." Sambungnya menjulurkan tangannya di leher Wilsen.
"Oh iya?"
"Ya,Putri Ayahku itu hanya aku seorang." Mendekatkan wajahnya pada Wilsen.
"Lalu kenapa malah dia yang di nikahkan ayahmu pada pewaris Emperal?" Tanya Wilsen dengan nada sinis membuat Salma menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya ke wajah Wilsen.
CK! Decak Wilsen mendorong Salma dari hadapannya.
"Mulutmu benar-benar jahat." Ucap Salma menarik dirinya dan kembali duduk sambil memeluk botol. "Kalian semua sama saja!" Sambungnya yang kemudian meneguk botol ditangannya.
"Apa Luhan yang tidak menyukaimu?" Tanya Wilsen.
__ADS_1
"Bukan." Jawab Salma. "Dia menyukaiku. Sangat sangat menyukaiku."
"Jika dia sangat menyukaimu kenapa bukan kamu yang bersanding dengannya di pelaminan."
"Aku tidak tahu." Ucap Salma dengan wajah ditekuk. "Malam itu aku menolak untuk menikah dengannya di hadapan semua orang." Sambungnya dalam mabuk. "Awalnya aku hanya ingin menggodanya. Tapi siapa sangka Ia datang menyusulku dan mengatakan bahwa akan menikahi Salwa." Ucapnya yang kemudian menenguk botol di tangannya.
"Lalu?"
"Luhan mengumumkan pada semua bahwa akan berpacaran lebih dulu sebelum menikahi Salwa." Melihat ke Wilsen. "Tapi yang terjadi---" Ucapnya terjeda sesaat.
"---Apa yang terjadi?" Sambung Wilsen.
"Dia selalu menghabiskan waktu denganku. Membuat diriku seperti orang ketiga dalam hubungannya dengan Salwa. Dan hingga pada akhirnya dia tetap memilih anak pungut itu." Jelasnya penuh geram. "Aku berjanji pada diri ini bahwa akan menghancurkan keduanya dengan tanga---" Ucapnya terjeda melihat Wilsen merampas botol ditangan yang hendak ia lemparkan. "Kembalikan!" Pinta Salma meraih botol yang direbut Wilsen darinya. "Kembalikan milikku!" Beranjak dari kursinya merebut botol yang di jauhkan Wilsen darinya.
"Jadi sebagai putrinya Raden membantumu membuat keduanya salah paham." Menangkup kedua lengan Salma.
"Ya." Sahut Salma. "Ayah berjanji akan membantuku menghancurkan keduanya sekaligus."
Jadi kali ini targetnya Emperal grup. Batin Wilsen Sambil menahan Salma yang terus memberontak.
"Salma." Desis Wilsen. "Aku rasa dia hanya memanfaatkanmu untuk mencapai tujuannya tanpa perlu mengotori tangannya sendiri,sayang." Menyeringai miring membuat amarah Salma melonjak naik dan mengambil gelas di depannya.
Pranggg!
"Hei!" Tegur Wilsen menangkup Salma yang jatuh ke pelukannya dengan telapak tangan berlumuran darah. "CK!" Decaknya yang kemudian menggendong Salma dan membawanya masuk ke salah satu kamar hotel.
Kringgg! Suara dering ponsel Wilsen membuatnya terjaga dalam pikiran buasnya pada Salma yang terkulai tak berdaya di atas ranjang.
"Halo Dad!" Sambut Wilsen dari ujung telponnya. "Bukan begitu dad! Aku merasa dia bukan anak perempuan yang kita cari." Ucap Wilsen. "Dia sama sekali tak terlihat seperti Pria itu." Sambungnya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan padanya?" Tanya Suara dari ujung telpon. "Daddy tidak suka kamu memiliki hubungan dengan wanita lain selain anak perempuan yang sedang kita cari." Tegas suara itu pada Wilsen.
__ADS_1
"Oke Dad." Sahutnya yang kemudian mengakhiri pembicaraannya dengan daddy-nya. "Sayang sekali." Ucap Wilsen berbalik badan sambil melemparkan ponselnya. "Kamu bukan dia." Meraih tangan Salma yang terluka.