Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
25. Mata Coklat


__ADS_3

Selama makan malam Lukas memikirkan apa sebenarnya yang sedang direncanakan Raden sambil melirik Rose dan David bergantian.


Aku dan Luhan memiliki wajah yang sangat mirip dan Raden telah mengetahui itu sejak aku dan dia memulai kerja sama. Dan semenjak Aku tiba di sini banyak sekali memori yang memaksa keluar dari kepala ini. Seolah ingin menunjukkan bahwa aku pernah ada ditempat ini jauh sebelum aku bertemu dengan Alex dan Bams. Batin Lukas menatap kosong pada David yang memanggilnya.


"Luhan!" Panggil David membuat Rose dan Salwa melihat pada Lukas yang kemudian terjaga dari pikirannya.


"Iya pah." Sahut Lukas meraih gelas didepannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya David masih menatap Lukas yang kini menundukkan wajahnya sambil menyeringai.


"Aku tiba-tiba kepikiran dengan mertuaku." Melihat ke Salwa. "Bagaimana kalau kita mengundang mereka Pah?" Tawar Lukas melihat ke David. "Sekedar makan malam mungkin." Sambungnya melihat ke Rose. "Mereka pasti ingin tahu kabar putrinya setelah kembali dari honeymoon." Melihat Rosa dan David bergantian.


"Itu ide yang bagus Pah." Sahut Rose menyetujuinya tanpa basa-basi.


"Kalau begitu bagaimana dengan besok malam?" Tanya David melihat ke semuanya bergantian.


"Mama setuju." Sahut Rose. "Bagaimana dengan kalian?" Melihat ke Lukas dan Salwa.


"Bagaimana sayang?" Tanya Lukas pada Salwa yang tiba-tiba gugup mendengar Lukas memanggilnya dengan lembut.


"Kalian gak keberatan kan kalau Salma ikut juga?" Tanya Rose melihat Lukas dan Salwa bergantian.


"Gak Mah." Jawab Salwa melihat ke Lukas yang kemudian memberikan senyum sambil memutuskan bersama dimana mereka akan menjamu keluarga Raden Prakas.


Luhan." Panggil David pada Lukas yang berdiri menatap foto-foto yang terpajang di ruang tengah.


"Ya Pah." Sahut Lukas tanpa menoleh membuat David menyusulnya.


"Tumben kamu memandangi foto-foto lama ini." Tegur David sambil ikut memandangi foto-foto yang ada didepannya.


"Lagi pengen aja Pah." Sahut Lukas mencari wajah dua pria yang muncul di kepalannya saatnia bermain golf siang tadi.


"Papa dengar siang tadi istri kamu mengusir Salma dari sini." Ucap David di sela-sela keduanya memandang foto. "Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya David. "Papa dan Mama sebenarnya tahu kalau selama dua tahun ini kamu terus berhubungan dengan Salma meskipun wanita itu menolak untuk dijodohkan sebelumnya padamu." Jelas David membuat Lukas melirik kecil pada David yang berdiri tegap menengadah wajah keatas menatap foto yang terpajang di dinding.


"Apa istrimu sudah tahu mengenai hubungan kalian?" Tanya Rose dari belakang mengagetkan Lukas sekaligus membuat Salwa menguping dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Ya." Jawab Lukas. "Sekarang Salma sudah jadi masa lalu aku." Sambungnya. "Aku tak mau mencampur adukan masa lalu dengan masa depanku." Menaikan salah satu alisnya.


"Tapi Sayang gak seharusnya Salwa melakukan itu pada Salma dengan meminta peng---"

__ADS_1


"---Mah!" Potong Lukas berbalik badan. "Semua istri akan melakukan hal yang serupa jika ada seorang wanita lain yang mencoba mengambil suaminya." Melihat ke Rose dan David bergantian. "Bahkan orang yang masih berstatus pacaran saja akan melakukan hal yang sama,bukan." Jelasnya.


"Apa kamu mencintai Salwa?" Tanya Rose.


"Cinta atau tidak Aku akan memihak padanya mulai sekarang." Jawab Lukas. "Dia istriku! Bukan orang lain." Sambungnya. "Jadi,berhenti menganggap dia sebagai pengganti." Berbalik badan meninggalkan Rose yang menoleh pada David.


"Apa kamu masih keliru?" Tanya David pelan. "Jika dia bukan putra kita mana mungkin ia tahu bahwa Salwa hanya pengganti." Sambung David membuat Lukas menghela dada.


Hampir aja! Batin Lukas meneruskan langkahnya.


"Kenapa tidak memasang alat penyadap aja?" Tegur Lukas dari balik pintu yang sengaja dibuka sedikit oleh Salwa.


"Alat penyadap?" Balas Salwa melihat Lukas yang masuk ke dalam kamar.


"Ya." Jawab Lukas meneruskan langkahnya. "Apa kamu lupa?" Tanya Lukas. "Kamu menempelkan begitu banyak alat penyadap di sekitar ruang Villa." Ucap Lukas.


"Eh?" Sahut Salwa menutup pintu dan menguncinya. "Aku hanya membuat alat penyadap di kamar kita dan kamar yang digunakan dua perawat." Menyusul Lukas.


"Kau yakin?" Sahut Lukas berbalik dan duduk di tepi ranjang.


"Ya."


"Bagaimana dengan kamera cctv?" Tanya Lukas. "Apa kamu juga tidak mengetahuinya?" Tanya Lukas membuat Salwa menarik dirinya duduk ditepi ranjang dengan wajah shock.


"Ada satu di bawah balkon kamar yang mengarah ke gerbang utama." Jawab Lukas.


"Jadi, mereka mengetahui bahwa malam itu Luhan pergi meninggalkanku." Ucap Salwa mengingat Luhan melempar cincin pernikahan tepat saat ia berdiri diatas balkon.


"Mereka siapa?" Tanya Lukas.


"Mertuaku." Jawab Salwa melihat Lukas. "Bisa jadi mereka yang telah mengirim Salma sehingga wanita itu mengetahui kecelakaan yang menimpa Luhan." Sambungnya. "Dan itu mengapa Tante Rose tiba-tiba bisa muncul secara mendadak di Villa setelah seminggu berlalu." Jelasnya menebak.


"Apa kamu seorang kriminal?" Tanya Lukas yang bangkit memeriksa sela-sela kamar hingga bawah ranjang,meja,lemari dan lampu duduk yang ada disana.


"Bukan." Jawab Salwa memperhatikan Lukas. "Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Hm." Sahut Lukas menoleh sebentar pada Salwa. "Aku sedang memeriksa apakah ada alat penyadap dikamar ini." Kembali meraba bawah ranjang.


"Itu sangat konyol jika mereka menempatkannya dalam kamar putranya sendiri." Sahut Salwa yang ikut memeriksa area-area kemungkinan alat penyadap berada.

__ADS_1


Fyuhh! Suara Lukas dan Salwa menghela nafas bersamaan setelah setengah jam berlalu. Keduanya duduk di lantai dengan bersandar pada tepi ranjang dan wajah yang menengadah keatas.


"Apa yang akan kamu lakukan jika salah satu dari kita menemukan benda itu di kamar ini?" Tanya Lukas menoleh pada Salwa.


"Entahlah." Menoleh pada Lukas. "Tapi apa yang terjadi dengan penyadap di Villa setelah kamu melihatnya?" Tanya Salwa.


"Menghancurkannya." Jawab Lukas mengingatnya kembali.


"Good Job!" Balas Salwa mengancungkan jempolnya pada Lukas sambil tertawa kecil.


"Apa kamu senang?" Tanya Lukas mengangkat kepalannya tegak bersamaan dengan Salwa yang menganggukkan kepalanya. "Dasar!" Umpat Lukas beranjak dari lantai. "Salwa." Panggil Lukas kembali setelah beberapa menit berlalu.


"Hm?"


"Seberapa banyak kamu mengenal Luhan?" Tanyanya memeriksa buku-buku yang ada di rak atas meja.


"Dia tak terlalu banyak bicara. Dia sangat sibuk mengurus perusahaan. Setiap kali jalan ia kerap tertidur tanpa sadar dengan wajah yang begitu lelah. Sesekali Aku mendengarnya menghela nafas yang begitu panjang." Jawab Salwa. "Dia kerap melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan ia selalu memberitahunya padaku. Itu mengapa aku tak pernah mencurigainya sekalipun." Sambungnya yang kini merebahkan diri di ranjang. "Tapi kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" Tanya Salwa pada Lukas yang menemukan tumpukan kotak soft lens.


"Apa penglihatan Luhan baik?" Tanya Lukas balik.


"Ya." Jawab Salwa. "Sangat baik." Sambungnya. "Kenapa?"


"Gak ada." Jawab Lukas yang kini menemukan sebuah kotak kacamata. "Aku hanya bertanya saja." Sambungnya. "Oh,iya! mengenai warna bola mataku dan Luhan." Ucap Lukas memungut soft lens dari tempatnya.


"Oh iya! Aku hampir lupa." Sahut Salwa bangkit duduk di ranjang. "Ingatkan Aku besok untuk singgah di optik untuk membelikan soft lens yang berwarna---"


"---Hazel!" Potong Lukas melihat soft lens di tangannya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Salwa.


"Aku melihatnya dari foto yang terpajang di ruang tengah." Jawab Lukas.


"Oh begitu." Sahut Salwa menjulurkan kakinya turun dari ranjang.


"Salwa!" Panggil Lukas menarik laci didepannya.


"Ya?" Melihat ke Lukas.


"Apa warna bola mata Luhan dan Yohan sama?" Tanya Lukas meraih bingkai foto yang terbalik di dalam laci.

__ADS_1


"Aku rasa enggak." Sahut Salwa. "Yohan memiliki warna bola mata yang sama denganmu saat di foto." Lanjut Salwa.


Bukan hanya Yohan melainkan keduanya memiliki warna bola mata yang persis dengan milikku. Batin Lukas melihat foto Luhan dan Yohan kecil yang memiliki warna bola mata cokelat.


__ADS_2