Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 131


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu cepat, Galen dan Vio berkenalan dengan penghuni panti Asuhan yang di beri nama Kasih Ibu. Berbagi kisah masa lalu panti asuhan yang kondisi nya naik turun dan juga jumlah penghuni nya yang semakin bertambah. Membuat yayasan panti asuhan sedikit kewalahan dalam beberapa hal, contoh nya, kebutuhan dasar, seperti makanan yang bergizi dan sembako merupakan kebutuhan dasar yang dapat diberikan kepada anak yatim-piatu seperti nasi, roti, susu, buah, dan bahan sembako lain nya.


Belum juga, alat-Alat dan Perlengkapan Sekolah, Pakaian sehari-hari, dan Perlengkapan Ibadah. Kebutuhan tersebut tidak cukup jika hanya mengandalkan usaha perkebunan dan juga peternakan yang di kelola panti.


Kebahagiaan tidak akan habis hanya karena membaginya. Ketahuilah, kebahagiaan bertambah ketika kamu bersedia untuk berbagi.


''Ibu, saya izin ke toilet sebentar ya.'' Izin Vio, mulai beranjak dari tempat duduk nya di ruang tamu.


''Oh iya silakan nak, apa perlu saya antar.?'' Tawar nya, yang langsung di tolak Vio cepat.


Kepergian Vio di ruang tamu, membuat Galen mengeluarkan amplop berwarna putih. ''Ini ada rezeki sedikit untuk Ibu dan juga anak panti. Tolong di terima ya bu, saya ikhlas memberi nya.'' Ucap Galen, sedikit memaksa Ibu panti yang terlihat seakan menolak nya.


''Tetapi nak, barusan nak Galen sudah banyak membelikan kebutuhan kami. Kenapa nak Galen repot-repot lagi dengan ini.'' Dengan arti lirikan mata, Galen sudah mengerti, apa yang di maksud Ibu panti tersebut. ?

__ADS_1


"Kalau ada rezeki jangan di tolak bu, ! Gak baik, mungkin uang itu sudah menjadi rezeki nya anak panti." Sahut Vio. "Maaf bu, jika Vio lancang Ikut campur obrolan kalian berdua."


Membuat Ibu panti menggeleng, dan di iringi senyuman kecil di sudut bibir nya.


"Gak apa-apa nak Vio. ? Mungkin benar, apa yang nak Vio sampaikan.? Uang ini sudah menjadi rezeki nya anak panti Kasih Ibu, tetapi____."


"Jangan di tolak ya bu.!" Melas Vio.


"Amin bu, Terima kasih atas doa nya." Sahut Galen cepat mengaminkan.


"Kopi nya asli, ya bu. ? Rasa nya enak, warna hitam nya juga lekat. " Tanya Vio, mencoba mengalihkan soal keturunan.


Menikah saja, di paksa, mana mungkin dia ingin membahas keturunan.

__ADS_1


Itu bukan impian nya, menjadi yang kedua resiko nya cukup tinggi. Bila nanti sampai memiliki anak, Vio sangat yakin, jika anak nya nanti akan di bully gara-gara status Ibu nya yang menjadi yang kedua. Kata kasar nya pelakor, merebut hak milik orang lain.


"Benar sekali, nak Vio. Kopi hitam ini asli, tanpa ada campuran nya. Oh ya, silakan di minum kopi nya, nak Galen. Nanti keburu dingin. Istri nak Galen saja tinggal setengah tuh."


"Iya ibu," Mencoba mencicipi kopi hitam tersebut dengan perasaan ragu. Pasal nya dia memiliki riwayat asam lambung yang mudah kambuh jika mengkonsumsi makanan dan minuman yang dilarang sama Dokter. Apa lagi semalam, sudah mencicipi minuman beralkohol.? Dan, kondisi saat ini saja, perut nya bagian atas sudah terasa perih, apa lagi di tambah kopi hitam asli. ?


"Nak Galen, kenapa ngelamun.? Silakan di minum kopi nya, sekalian nih ketela kukus nya di makan. Maaf loh, di sini hanya ada makanan desa tidak seperti di kota."


"Tidak apa-apa bu, ini aja enak. Bahkan ini lebih sehat dan alami tanpa ada bahan pengawet nya." Jawab Vio, seraya memperhatikan anak-anak perempuan yang sedang bermain boneka yang tadi Vio bawa.


"Paling kecil usia nya berapa bu. ?''


Ibu panti ikut memperhatikan, kemana arah pandang nak Vio. "Delapan belas bulan, yang sebelah nya hampir empat tahun."

__ADS_1


__ADS_2