Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 157


__ADS_3

Kaki jenjang yang tertutup celana panjang sampai mata kaki, mulai melangkah menunju resepsionis. Netra cokelat kehitaman menelisik desain lobby hotel tersebut.


Dan ternyata Vio baru tahu kalau hotel yang baru ia memasuki ada lobby hotel lounge.


Benar-benar mewah bukan, lobby lounge adalah sebuah teras atau ruang tunggu yang di lengkapi fasilitas lounge. Yaitu pertunjukan yang menghadirkan susana bahagia. Teduh, ceria dan bisa di Terima oleh orang-orang yang berada di area sekitar tersebut. Yang biasa nya menampilkan penyanyi solo, grup bend, organ tunggal dan sebagai nya. Lobby lounge juga di lengkapi dengan berbagai minuman yang beralkohol sekali pun.


Di sambut dengan begitu ramah, Vio segera memajukan alamat kamar yang tadi Galen sebutin, usai mendapatkan apa yang Vio inginkan. Langkah kaki tersebut mulai menyusuri lorong hotel menuju lift yang akan mengantarkan ia ke kamar sang suami yang selalu memaksa.


Beberapa menit kemudian, berdiri tegak di depan pintu dengan nomer yang sama di dalam ponsel nya. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan nya. Berbagai pertanyaan yang mengandung ke khawatiran memenuhi isi kepala nya.


''Bisa tidak, kamu tidak se gugup ini.'' Monolog Vio kepada diri nya sendiri.


Memberanikan jemari nya menekan tombol yang di sediakan, melihat desain kunci tersebut, Vio bisa menebak jika akses keluar masuk menggunakan kartu kunci. Sibuk di dalam dunia nya sendiri, Vio tidak menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan nya.

__ADS_1


''Jangan segugup itu, tuan ku tidak akan makan daging manusia. ! Apa lagi barusan baru pesan makanan dua porsi dari restoran hotel ini.?'' Ucap nya santai, Melipat tangan di depan dada seraya bersandar miring ke daun pintu kamar nya. Netral hitam itu fokus menatap istri ke dua dari tuan nya.


Menarik, menelisik dari atas sampai ke bawah.


Vio menunduk malu, ia bingung harus menanggapi seperti apa.? Namun itu pun tak berlangsung lama ketika pintu terbuka lebar dari dalam. Tanpa menunggu di suruh masuk, Vio menerobos masuk melewati sang suami yang merasa heran dengan tingkah nya sekarang ini.


''Kau apakan dia.'' Tuduh nya, dan tuduhan nya memang kenyataan benar.


''Bisa tidak, di jawab dengan benar.'' Desis Galen tertahan.


''Tanyakan saja sendiri.'' Sahutnya, melambaikan tinggi tangan nya tanpa menoleh ke belakang.


...***************...

__ADS_1


''Sekarang putri Mama harus belajar dengan giat, seperti pesan Papa.'' Mengelus-elus rambut Kila yang tergerai bebas. Kila yang di perlakukan seperti itu, merasa senang. Dan juga bersyukur, telah mendapatkan keluarga yang harmonis, mau menyayangi Kila seperti anak kandung nya sendiri.


''Pasti nya Ma, kenapa akhir-akhir ini Papa selalu sibuk, jarang mengajak Kila main seperti sebelum nya.'' Protes Kila, bahkan berangkat sekolah sekarang ini saja jarang di antar. Sesampai di rumah, Kila tidak boleh menemui Papa karena sakit. Setelah sembuh, sang Papa pergi ke luar Kota untuk beberapa hari. ?


Berbeda jauh dengan dulu.


''Kenapa Kila bisa berpikir seperti itu. ? Apa Kila lupa, kalau sang Papa kemarin sakit. ? Karena sakit, pekerjaan Papa harus di tunda dan sekarang ini baru bisa di kerjaan. Kila jangan lupa, meskipun Papa sedang sibuk Papa selalu memberi kabar melalui vidio call. '' Jelas Ciara kepada Kila yang seperti nya sedang merajuk. Bisa di lihat dari bibir yang di majukan ke depan beberapa centi.


''Jadi, princess Mama jangan cemberut gitu, nanti cantik nya bisa berkurang loh, senyum dong.'' Bujuk Ciara mencubit pelan pipi tembem si anak. Refleks Kila ikut tersenyum lebar, sambil mengangguk pelan.


''Iya Ma, Kila mengerti.''


''Ya udah, sekarang kita lanjut belajar nya.!'' Ajak Ciara.

__ADS_1


__ADS_2