Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
36. Menjijikkan


__ADS_3

🍁🍁🍁


Tik tok tik tok! Suara jarum jam dinding di kesunyian malam kediaman Kardinata. Jam di tangan Salwa menujukkan pukul 21.00 WIB membuat wanita itu beranjak keluar kamar menyusul Lukas yang belum kembali. Salwa mengaktifkan pelacak yang ia buat di bawah kursi belakang mobil Lukas. Ia kembali menemukan titik lokasinya masih berada di tempat sama sejak siang tadi, Hotel secret.


"Aku datang hanya khawatir dia menyalahkan gunakan identitas Luhan." Ucap Salwa pada dirinya menginjak pedal gas mobil menaikkan kecepatan dengan memasang lampu polisi dan mengaktifkan sirine.


Wiuwiuwiuwiu! Suara sirine yang berasal dari Salwa berhasil membuat semua kendaraan membuka jalan untuknya. Tak sedikit pun kemacetan menghambat laju kecepatan mobil Salwa menyusul Lukas yang menempelkan kartu akses pemberian Wilsen padanya.


Klek! Pintu terbuka membawa Lukas masuk ke dalam kamar dengan pencahayaan yang hanya berasal dari lampu duduk di sekitar ranjang. Ia meneruskan langkahnya ke ranjang dengan gaun yang sebelumnya di kenakan Dewi Fortuna Wilsen.


Ctakk! Suara stopkontak membuat Lukas berbalik badan dan mendapati lampu kamar mandi dengan dinding kaca menyala. Seorang dari balik kaca menanggalkan handuk di tubuhnya dan menggantungkannya.


Wow! Batin Lukas mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan kedua tangan menopang kebelakang menatap pemandangan yang membuat birahinya naik.


Swas swas swas! Suara shower membasahi tubuh yang meliuk berdiri di balik kaca membelakangi keberadaan Lukas.


Lukas bergerak cepat melepas jas dan melemparkannya bersamaan dengan roda mobil Salwa yang membawanya tiba dalam waktu 1 jam di depan hotel membuat orang yang ada di lobby tersontak kaget.


"Apa hotel dalam masalah?" Bisik para pengunjung yang keluar dan masuk dari hotel.


Tap tap tap! Suara para pengawal yang tak terlihat sebelumnya berlari keluar membentuk barisan menghadang keberadaan Salwa yang masih berada di dalam mobil.


"Apa Ayah sudah tahu kalau Aku bakal datang kesini?" Melepas seatbeltnya lalu menurunkan kaca dan menjulurkan tangan mencabut lampu merah di atas kepalannya.


Brakk! Melemparkan lampu itu ke samping kursinya sambil membuka pintu untuk keluar dari sana.


"Seseorang menelpon dan memberitahu bahwa dirinya ingin melompat dari salah satu kamar hotel." Ucap Salwa menunjukan kartu identitas kepolisian miliknya pada pengawal Raden. "Saya datang untuk bernegosiasi agar Hotel tidak mendapat masalah." Sambungnya yang kemudian serentak pengawal berbalik badan membuka jalan untuknya yang kini mengaktifkan pelacak lain di ponsel Lukas.


"Apa tak apa-apa membiarkannya melihat suaminya bersama Salma,Bos?" Tanya Pengawal pada Raden yang sedang melihat Salwa mengepal tangannya masuk ke dalam lift.


"Tak apa." Jawab Raden.


Kemarahannya adalah senjata untukku melenyapkan Luhan dengan tangannya. Batin Raden berbalik badan menyeringai miring menghampiri Wilsen yang telah membalikkan rencana ke semula.


Empat jam lalu saat Raden diam-diam meninggalkan Lukas yang mendapat pujian di meja biliar.

__ADS_1


"Orangnya ada di dalam Bos." Bisik pengawal pada Raden yang kemudian mengerutkan keningnya. Ia kemudian pergi bersama dua pengawal meninggalkan Lukas yang merangkul Salma.


Plakk! Sebuah tamparan Raden melayang di wajah Wulan membuat tubuh yang terikat di kursi jatuh ke lantai.


"Apa kamu ingin putrimu dengan pria itu aku bakar hidup-hidup?" Tanya Raden menginjak tubuh Wulan yang terkapar di lantai. "Beraninya kamu merekam pembicaraanku dan Salma." Menginjak tangan Wulan membuat wanita itu menjerit kesakitan tanpa henti. "Bawa wanita tak tahu diri ini diruang bawah tanah." Perintah Raden yang kemudian menarik kakinya dari tangan Wulan dan melayangkan tendangan ke perut wanita itu.


"Aaaaaahhh!" Jeritan kuat yang terkubur oleh suara orang-orang yang sibuk memainkan kartunya di meja judi tanpa terkecuali Lukas.


"Lakukan seperti apa yang di perintahkan Bos." Ucap pengawal memberikan dua kartu akses pada Wilsen yang kemudian mematikan rokok terakhirnya sebelum menghampiri Lukas dan Salma.


Di waktu Wilsen beraksi Raden melacak pemilik alamat id yang mendapat kiriman rekaman suara dari Wulan membuat rencananya gagal.


"Apa sudah ditemukan?" Tanya Raden pada orangnya yang sedang melacak.


"Emperal grup Bos." Menunjukkan pada Raden yang menggertakkan giginya. "Coba periksa siapa yang menggunakannya." Perintahnya yang kemudian meraih ponsel menghubungi Jily.


Kringgg Kringg! Suara dering ponsel Jily yang sedang berada diluar ruang rapat yang di hadiri Salwa dan Bobi tanpa dirinya.


"Halo Bos." Sambut Jily menjauh dari ruangan sambil memperhatikan karyawan yang lalu lalang di sekitanya.


"Ada Bos." Jawab Jily.


"Siapa?" Tanya Raden.


"Bobi." Jawab Orang didepan Raden dan Jily kompak.


"Siapa dia?" Tanya Raden. "Aku belum pernah mengetahui keberadaannya di sekitar Luhan selama ini." Sambung Raden pada Jily.


"Dia Asisten pajangan Luhan selama ini Bos. Bisa dibilang Luhan tak pernah melibatkannya dalam mengerjakan apapun yang ada di perusahaan. Aku juga sering melihatnya tidur berjam-jam di ruangan yang berada di sebelah meja kerjaku." Jelas Jily. "Namun sejak Luhan kembali dari bulan madu Bobi terlihat begitu sibuk dengan urusan perusahaan. Bahkan dua hari ini dia b datang lebih awal dan pulang lebih akhir dari kantor." Tambah Jily menjelaskan.


"Sekarang dia ada dimana?" Tanya Raden sambil melihat Lukas dan Wilsen keluar dari ruang ViP diikuti oleh Salma dan satu wanita lainnya dari cctv di depannya.


"Dia sedang rapat dengan Vendor." Jawab Jily.


"Bagaimana dengan Salwa?"

__ADS_1


"Dia juga ada di dalam."


"Sekarang geledah ruangan Asisten itu dan lihat apa ada yang mencurigakan di dalam sana." Perintah Raden mengakhiri panggilannya dan keluar menyusul Wilsen ke tempat dimana ia akan membawa Lukas.


Tap! Suara Raden menangkup wanita sebelumnya yang bersama dengan Wilsen. Ia membuat wanita itu pingsan dan meminta pengawal membawanya ke dalam salah satu kamar hotel.


Di tengah perbincangan Lukas dan Wilsen, seorang pengawal yang menyamar jadi pelayan bar masuk menukar minuman alkohol tinggi yang diberikan pelayan sebelumnya pada Salma. Pelayan itu kemudian meletakkan secarik kertas berisi pesan dari Raden untuk Salma.


Gleg gleg gleg! Suara Salma meneguk botol yang berisi air mineral di hadapan Lukas yang melirik keberadaannya bersama dengan Wilsen. Ketika Lukas mengalihkan lirikannya Salma bergegas membubuhkan blus on di pipinya agar terlihat seperti orang mabuk untuk mengelabui Lukas.


Brakk! Suara Salma pura-pura jatuh tak sadarkan diri membuat Wilsen melanjutkan rencana selanjutnya membopong Salma ke kamar dengan nomor yang sama pada kartu akses di tangan Lukas.


Kringgg kringgg! Suara panggilan masuk mengalihkan Lukas yang baru keluar dari lift menuju kamar yang ada di kartu aksesnya.


"Jily?" Tanya Lukas yang kemudian menolak panggilan bersamaan dengan Salma masuk menyelinap ke kamar tanpa sepengetahuan Lukas. "Kenapa dia menelepon di jam segini?" Melihat jam ditangannya bersamaan dengan Salwa yang memutar mobilnya keluar dari kediaman Kardinata.


Klekk! Suara pintu kamar mandi membawa wanita dengan handuk melilit di tubuhnya pada Lukas yang masih lengkap dengan pakaian ditubuhnya. Dengan gairah yang telah terkumpul tanpa menunggu aba-aba Lukas langsung meraih tangan wanita itu dan menjatuhkannya di ranjang.


Brakkk! Suara jatuh bersamaan dengan tangan seorang menggedor-gedor pintu dari luar.


Brakkk! Brakk! Suara itu kembali terdengar dan kali ini lebih keras membuat Lukas berdecak kesal bangkit dari atas tubuh wanita yang melepas handuk dalam kegelapan.


"Siapa sih?" Membuka pintu dengan raut kesal. "Ganggu aj---" Ucap Lukas terputus mendapati Salwa berdiri di depannya. "---Salwa apa yang kamu lakukan disini?" Sambung Lukas.


"Harusnya Aku yang bertanya seperti itu." Jawab Salwa menerobos masuk di ikuti oleh Lukas dari belakang. "Apa yang kamu lakukan disini?"


"Memenuhi kebutuhan biologisku." Jawab Lukas santai membuat Salwa berbalik badan menatapnya kesal lalu berbalik kembali meneruskan langkah menggapai stop kontak.


Ctakk! Lampu menyala.


"Tenang saja aku melakukannya dengan wa---" Ucapnya terputus melihat Salma tidur diranjang menutupi tubuh yang tak mengenakan apapun dibawah selimut.


"---Dengan Salma." Sambung Salwa yang kemudian berbalik mendorong Lukas.


Menjijikkan. Batin Salwa membanting pintu sekerasnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2