
Hotel.
Kaum adam yang nyaris sempurna, menyebulkan asap rokok ke udara hingga berbentuk seperti awan putih di langit. Kedua kaki bertumpu di atas meja seakan tiada hari untuk lelah.
Baru beberapa menit Galen tiba di sebuah hotel ternama di kota J. Bukan nya lelah dan beristirahat, seperti yang di lakukan oleh sang sekretaris nya, kini justru Galen menikmati sebatang rokok di balkon kamar inap nya.
Ponsel milik nya yang di biarkan tergeletak di atas meja, di samping tepat sepatu yang masih ia pakai. Netral cokelat kehitaman itu fokus dan hampir tak melepaskan dari benda canggih itu berada. Seakan menunggu sesuatu yang akan bikin ponsel milik nya itu bergetar dan juga berdering.
Ke Menit berikut nya, apa yang sedang di tunggu Galen akhir nya datang juga, benda mati itu bergetar dan juga berbunyi karena panggilan dari seseorang. Sudut bibir nya ke tarik ke atas kala tau siapa yang bikin benda itu berbunyi.?
Menggeser tombol hijau yang selalu bergerak kemudian durasi itu berjalan semestinya.
Suara pekikan yang dulu terdengar, sebelum suara salam menyapa, di lanjut sebutan MAS yang membuat indra pendengaran Galen selalu ingin mendengar nya terus-menerus.
__ADS_1
''M-aaas, mas ada di mana.?'' Tanya Vio terbata dari seberang. Bahkan, Vio merutuki diri nya sendiri dengan apa yang barusan keluar dari mulut nya.
Galen tersenyum tipis, di sela-sela hisapan sebatang rokok yang tinggal setengah.
''Aku yakin, kamu pasti sudah tau aku berada di mana. ?'' Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis Vio, bahkan menelan saliva nya sendiri pun sangat kesulitan.
Usai menetralisir degup jantung nya, Vio mencoba bertanya kembali. ''Sungguh, a-aku tidak tau.?'' Sialan kenapa aku bisa se gugup ini, pikir nya.
''Kangen.'' Satu kata membuat Vio melotot dengan sempurna.
''Kamu jangan ngasal ngomong, siapa juga yang kangen. ?'' Seru nya kesal.
'''Terserah, kamu ada di mana. ? Itu bukan urusan aku.'' Kalimat terakhir sebelum di matikan secara sepihak oleh Vio.
__ADS_1
''Astaga, kenapa dengan diri ku.? Kenapa jantung ku berdebar-debar seperti ini.?'' Gumam nya.
Tak selang lama ponsel yang masih Vio genggam berdering. Tertera Nomor tanpa nama membuat Vio sangat yakin kalau nomer tersebut milik sang suami yang beberapa menit yang lalu sempat dia hubungi. Sebab Vio belum sempat menyimpan nomer sang suami nya itu ke dalam ponsel nya.
Tanpa sadar bunyi panggil tersebut berakhir begitu cepat. Tanpa merasa bersalah sedikit pun yang telah mengabaikan panggilan tersebut, Vio justru menaruh ponsel nya di atas ranjang.
''Vio, kata nya pulang kok aku belum melihat nya sih. '' Keluh Eva sambil menggendong Baby El.
Terdengar suara Eva dari luar membuat Vio bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh muka yang belum sempat ia lakukan. Yang di sebab kan oleh pikiran nya sendiri yang sedang kacau, ketika mengetahui kalau sang suami itu meminta alamat rumah nya yang berada di kota J ke Lisa.
Banyak rasa takut yang Vio rasakan sekarang ini. jika sampai Galen sang suami itu tiba-tiba datang ke rumah ini. Yah berakhir sudah hidup tenang nya di keluarga ini, lebih tepat nya ia akan di benci keluarga nya sendiri.
Ting, bunyi pesan masuk yang berasal dari ponsel Vio yang tergeletak di atas ranjang.
__ADS_1