Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
18. Tugas Baru


__ADS_3

🍁🍁🍁


Kringgg kringggg! Suara ponsel Salwa berdering sesaat keluar dari pesawat. Sebuah nomor yang tidak terdaftar di ponselnya memanggil.


"Halo!" Sambut Salwa menerima panggilan.


"Halo Bu Salwa." Sahut suara wanita dari ujung telpon. "Ini Indri." Sambungnya.


"Ada apa?" Tanya Salwa dengan wajah panik menarik perhatian Lukas yang berdiri dihadapannya. "Apa?" Menjatuhkan tas belanjanya ke lantai.


"Iya Bu." Sahut Indri. "Sekarang Aku dan Kak Zack lagi di jalan menuju bandara." Sambungnya.


"Telpon aku kalau kalian sudah tiba di rumah sakit." Ucap Salwa yang kemudian mengakhiri telponnya dengan Indri.


"Apa ada yang terjadi?" Tanya Lukas mengambil tas belanjaan dilantai dan menyerahkannya pada Salwa yang terdiam sesaat setelah menutup telponnya. "Hello!" Sapa Lukas pada Salwa yang kini melihat padanya.


"Luhan dipindahkan ke Jakarta malam ini." Ucap Salwa.


Ah yang benar saja! Aku hampir lupa mengenai hal ini. Batin Lukas.


"Tapi bukankah itu kabar bagus." Sahut Lukas menangkap kegelisahan diwajah wanita itu saat menerima telpon sebelumnya. "Kenapa kau malah terlihat shock begitu?" Tanya Lukas mencari tahu keadaan sebenarnya yang terjadi pada Luhan saat ini.


"Kondisi Luhan semakin memburuk makanya pihak rumah sakit melakukan rujukan ke Jakarta." Jawab Salwa.


"Apa mereka yang barusan menelponmu mengatakan demikian?" Tanya Lukas membuat Salwa mengeryitkan keningnya menatap Lukas.


"Enggak." Jawab Salwa.


"Hah!Lalu kenapa kau berpikir suamimu dalam kondisi memburuk?" Tanya Lukas yang hampir percaya dengan karangan Salwa.


"Karna hanya ada dua kemungkinan pasien dipindah ke rumah sakit lain." Jawab Salwa. "Satu Rumah sakit tidak memiliki peralatan memadai untuk pasien dan kedua pasien mengalami sesuatu hal yang tidak bisa ditangani oleh dokter rumah sakit tersebut." Jelasnya melihat ke Lukas.


"Ah begitu." Sahut Lukas. "Tapi apakah aman untuk dia naik pesawat dalam kondisi seperti itu." Sambung Lukas dengan wajah seolah ia juga bisa merasakan apa yang di alami Luhan membuat Salwa tertegun menatapnya.


"Luhan?" Tegur Salwa.


"CK!" Decak Lukas. "Bisakah kau memanggil seperti itu jika diperlukan saja?" Tanyanya berbalik badan pergi.


"Kau harus mulai membiasakan diri dari sekarang." Balas Salwa menyusulnya dari belakang. "Semua orang akan memanggilmu dengan nama itu." Tambahnya.

__ADS_1


"CK!Kepalaku sedikit pusing setiap kali mendengar nama itu." Jawab Lukas sambil menyeringai.


"Apa ada hal seperti itu?" Tanya Salwa berjalan beriringan dengan Lukas yang


"Ya." Jawab Lukas sambil memikirkan kembali mengenai Raden orang yang telah memerintahkan Ronal untuk melakukan pemindahan terhadap Luhan ke Jakarta.


Bagaimana bisa seorang pemilik kasino memerintahkan Ronal melakukan hal itu kecuali, ada rahasia detektif itu padanya. Batin Lukas melihat Salwa duduk disampingnya dalam mobil sambil membaca berita Emperal grup dan Luhan di iPad.


Aku bahkan belum bisa menemukan pelaku dibalik kematian Alex dan sekarang malah tambah masalah lain yang membuatku harus bersembunyi untuk sementara waktu. Batin Lukas meletakkan kepalannya di atas punggung kursi dengan wajah menengadah keatas.


"Belok kanan Pak!" Perintah Salwa melihat ke luar jendela. "Lurus sekitar 50 meter dari gapura besar yang ada didepan." Lanjut Salwa memandu supir untuk membawa mereka pada kediaman Kardinata.


"Apa yang dilakukan wartawan di depan sini?" Tegur supir melihat para wartawan berentet setelah melewati gapura.


"Pak terobos aja!" Pinta Salwa yang melihat para wartawan beranjak dari tempat duduknya menghalangi jalan saat akan tiba di gerbang tinggi berwarna perak keemasan.


"Oke Neng." Sahut Supir mengabaikan wartawan yang mulai menangkup mobilnya melaju pelan sambil mengedor-ngedor jendelanya.


Sepertinya aku harus belajar membiasakan diri menghadapi flash kamera ini. Batin Lukas melihat para wartawan yang berebut mengambil gambar dari kaca mobil yang gelap.


Srett! Suara Salwa menurunkan sedikit kaca jendelanya. Ia kemudian mengeluarkan tangannya memberi perintah untuk penjaga di balik gerbang.


Kenapa rasanya aku seperti pernah ke tempat ini? Perasaan seperti Aku pernah berada disekitar ini. Batin Lukas berdiri menatap gerbang,taman,hingga fasad rumah yang berada di pelupuk matanya.


"Hei!" Tegur Salwa untuk kesekian kalinya pada Lukas yang akhirnya melihat padanya. "Ada apa?" Tanya Salwa pada Lukas yang tiba-tiba diam membatu dengan sangat lama sampai ia tak menyadari taksi yang membawa mereka sudah tak ada disana lagi.


"Entahlah!" Jawab Lukas. "Aku merasa seperti pernah melihat rumah ini." Sambungnya.


"Mungkin kau pernah tanpa sengaja melihatnya di internet." Sahut Salwa yang berbalik melanjutkan langkahnya.


Aku harap juga begitu. Batin Lukas.


"Oh iya, Aku lupa sesuatu." Tegur Lukas sesaat keduanya akan masuk ke rumah dengan empat pilar besar menyokong di depannya.


"Apa?" Tanya Salwa menoleh dengan satu kakinya menapak di anak tangan pertama.


"Bagaimana aku harus memanggilmu?" Tanya Lukas.


"Kau cukup memanggilku Sal---"

__ADS_1


"---Salwaa!" Teriak suara dari pintu yang terbuka didepan mereka. "Salwa apa kau datang bersama putraku?" Tanya seorang Rose membuat Lukas dan Salwa kompak melihat bersama padanya.


"Iya Mah." Sahut Salwa berbalik badan menyusul Lukas. "Dengar mulai detik ini kau harus menjalankan tugas baru." Bisik Salwa dengan kaki menjinjit. "Ini bukan seperti mengolah dedaunan menjadi sebuah bubuk,pil atau pun cairan yang disuntikkan." Jelas Salwa membuat Lukas menyeringai.


"Apa kau pernah melihatnya?"


"Lukas ini bukan saatnya menanyakan benda itu?" menarik wajahnya dari telinga Lukas. "Saat ini yang harus kau lakukan adalah menyapa mertuaku." Sambungnya merangkul lengan Lukas.


"Aku tahu." Melihat Salwa. "Kau tak perlu khawatir mengenai aktingku." Menangkup tangan Salwa yang merangkul lengannya.


"Luhan itu benaran kau?" Tegur Rosa menghampiri Lukas.


"Iya mah. Ini Aku Luhan putra Mama." Sambut Lukas dengan melepas rangkulan Salwa dan menghamburkan diri memeluk Rose.


"Luhan, kamu dari mana aja sayang." Ucap Rose memeluk Lukas. "Semua media memberitakan kamu hilang." Sambungnya mengusap-usap punggung Lukas.


"Luhan gak kemana-mana kok mah." Mendorong pelan Rosa dari dekapannya. "Mamakan tahu Luhan lagi honeymoon bareng menantu Mama." Sambungnya menyikap air mata di pipi Rose membuat Salwa tertegun.


Hah!Apa yang ku khawatirkan? Dia sangat ahli memainkan perannya. Aku hanya perlu menyiapkan piala Oscar padanya. Batin Salwa yang kemudian menghampiri keduanya dan membawa mereka masuk ke dalam.


Prangg! Suara botol minuman terlempar pecah menyambut mereka didalam. Botol itu baru saja dilayangkan oleh David yang berdiri dengan mata penuh amarah pada Lukas.


"David apa yang kau lakukan?" Tegur Rosa menarik diri dari antara Lukas dan Salwa menyusul David. "Apa kau ingin membunuh putramu?" Bentaknya pada David. "Kenapa tidak melemparkan tepat dikepalanya? Biar kau puas!!" Teriak Rose yang kemudian pergi menaiki tangga disusul oleh David dari belakang meninggalkan Lukas dan Salwa yang saling melihat satu sama lain.


"Apa mereka selalu begini?" Tanya Lukas.


"Entahlah." Jawabnya. "Aku juga baru melihatnya." Sambung Salwa.


"Salwa." Panggil Lukas.


"Hm!"


"Haruskah kita pergi ke kamar sekarang?" Tanya Lukas.


"Eh?!"


"Bukankah kita harus melanjutkan tugas baru yang lainnya disana?" Tawar Lukas membuat Salwa spontan menyilangkan kedua tangannya di dada dan menjauh dari Lukas.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2