Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 146


__ADS_3

Dari kejauhan Airin melihat perempuan berhijab yang hendak ingin membuka pintu utama.


Sedikit cemas tidak bisa bertemu, Airin menambah kecepatan langkah kaki nya yang terkadang rasa nya ingin keseleo dengan langkah kaki nya sendiri.


''Tunggu.'' Seru nya, lalu berjongkok dengan deru nafas naik turun.


''Kenapa rumah ini di buat besar sekali. ? Bikin tenaga ku terbuang sia-sia saja.'' Gerutu nya menahan kesal.


''Kenapa terburu-buru. ? Bahkan makan malam nya pun baru di siapkan.'' Ucap nya sedikit terengah, seraya melangkah mendekat lagi sampai menyisakan hanya dua langkah di antara mereka.


''Kenalkan, nama ku Airin. Ponakan Tante Ayda.'' Mengulurkan tangan kanan nya, seraya menelisik wajah cantik alami yang di miliki oleh Vio.


Vio segera menyambut uluran tangan tersebut tanpa ragu, meskipun diri nya tak begitu mengenal dengan gadis yang seperti masih remaja di depan nya ini. Vio, berusaha bersikap sopan ke pada siapa pun termasuk orang yang baru diri nya temui.


''Vio.''Jawab Vio singkat dengan tersenyum kaku.


''Cantik.'' Gumam Airin, sedangkan Vio mengerutkan dahi, sebab gumaman tersebut tak begitu jelas di telinga nya.


''Apa kamu mengatakan sesuatu. ?'' Tanya Vio penasaran.


Airin menggeleng pelan, ''Tidak,'' Bertingkah sok akrab, Airin Merangkul lengan Vio. ''Kita makan malam bersama dulu, baru pulang ok, atau perlu malam ini kamu tidur di kamar aku, biar nanti malam kita berdua bisa bergadang nonton drakor Korea bersama.'' Seru nya begitu antusias.


''Tetapi aku harus pulang A_____''


''Airin, A-I-R-I-N, coba deh kamu ulangi lagi.'' Eja nya serabi menarik lengan Vio masuk ke dalam menuju meja makan. Mengabaikan satu kata yang ingin segera pulang.

__ADS_1


Menghela nafas lelah, Vio masih berusaha melepas diri dari Airin.


''Tapi aku g_____''


''Ayo Vio, ulang lagi.'' Lagi dan lagi Airin memotong ucapan Vio yang hendak ingin berbicara. Dengan nada Rajuk nan wajah memelas. Mau tidak mau Vio terpaksa mengiyakan.


 ''I-iya, A_Airin.'' Ulang Vio frustasi.


''Hmmm, tunggu deh rin, sore ini seperti nya aku belum sempat mandi deh.'' Bohong Vio mencoba mencari alasan yang lain. Meskipun sudah mandi sebelum sholat ashar Vio tetap harus berusaha.


Airin terkekeh geli, ''Tak perlu mandi, kamu sudah cantik dan wangi kok.'' Mendudukkan Vio ke salah satu kursi meja makan.


''Ambil lauk yang kamu suka Vio, anggap saja rumah ini rumah kamu sendiri. Memang kenyataan nya sudah menjadi rumah kamu sendiri.'' Ucap nya di iringi kekehan di akhir kalimat.


''Bi,'' Panggil Airin, seraya menjatuhkan pantat nya di kursi samping Vio duduk.


''Tolong ambilkan salad buah di dalam kulkas ya Bi.! Dua. ''


''Baik Non.''


Vio hanya diam diri tanpa ingin mengambil nasi atau yang lain, apa lagi di meja makan ini hanya ada mereka berdua.? Vio hanya merasa sungkan, tindakan seperti ini, menandakan kalau diri nya sebagai pemilik rumah saja. Pikir nya kalut sendiri.


''Hmmm, Rin.'' Lirih nya nyaris tak terdengar.


Hmmm, sahut nya karena sibuk mengambil nasi beserta lauk nya.

__ADS_1


''Kenapa kita hanya berdua, ?Apa nanti tidak menimbulkan masalah,? jika kita berdua makan tanpa ada si pemilik Rumah.'' Ungkap Vio takut. Apa lagi diri nya golongan orang yang tak punya. ?


''Udah, jangan takut.! Tante Ayda sama Kila makan malam di luar bersama dengan teman nya. Sedangkan Galen dan Ciara pasti sedang bikin drama. Jadi menurut aku, kamu segera makan nanti ikut aku nonton drakor.'' Gurau Airin di sela-sela menikmati suapan demi suapan masuk ke dalam mulut nya.


...****************...


Bertempur hampir dua jam, Galen berulang kali menghembuskan nafas berat nya. Meskipun dia mendapatkan pelepasan hasil kinerja istri nya. Tetap saja, Galen tidak bisa memiliki rasa cinta mendalam ke pada Ciara.


Cup.


Apa yang di lakukan dengan tubuh nya berbanding balik dengan hati nya. ? Ada rasa gemuruh yang harus dia tuntaskan, entah itu apa Galen tidak tau. ?


Selesai memakai pakaian yang tergeletak di atas lantai, wajah dingin nan datar itu bergegas turun ke lantai bawah.


''Istri ku Vio kemana Bi.?' Tanya Galen saat bertemu dengan sang Bibi di ruang tamu.


''Bukan nya tadi istri ku ingin menunggu ku di sini.?'' Tanya Galen kembali, ada kilatan amarah di balik wajah tersebut.


''Iya, tuan. Nyonya Vio sekarang ini sedang makan malam bersama dengan non Airin.'' Jawab Bibi menunduk takut.


Tanpa meninggalkan sepatah kata, Galen bergegas pergi di mana tempat yang Bibi sebutkan tadi.


Meja makan.


Menarik kasar pergelangan Vio, tanpa memikirkan pekikan sakit yang keluar dari bibir si empu nya.

__ADS_1


''Cukup menikah i nya, tanpa harus kamu mencintai nya. Karena bukan ayah nya, aku tidak ingin menikah kan kamu dengan nya.''


__ADS_2