
Pagi hari nya.
Galen mengumpat begitu kasar setelah menerima panggilan dari seseorang. Sampai pagi ini orang yang di tugaskan untuk mencari istri kedua nya belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Vio.
Galen pikir, Vio akan pulang ke rumah kontrakan yang di tinggali bersama dengan Lisa. Dan ternyata oh ternyata, Vio sama sekali tidak pulang ke sana. Bahkan Lisa yang notabene sebagai sahabat baik nya pun dia tidak tau.
Setelah mengambil hak nya secara paksa, Galen keluar dari kamar dan menuju ruang kerja nya, dengan niatan merokok sebentar. Dia kira sudah puas, Galen kembali ke dalam kamar nya dengan wajah sumringah. Dan ternyata sesampai nya di dalam kamar, Galen tak menemukan sang istri. Sang istri Vio sudah tidak ada lagi di atas ranjang milik nya. Demi memastikan kalau istri nya baik-baik saja sekaligus dia ingin meminta maaf. Galen Bergerak mencari sang istri di setiap sudut kamar nya.
Tetapi hasil nya nihil.
Galen sudah mencoba mencari di tempat lain seperti balkon atau di dalam kamar mandi. Dan ternyata Galen hanya menghirup aroma sabun milik nya di setiap sudut kamar mandi tersebut. Dan juga hanya ada jejak air berbusa di dalam bathtub.
Mengetahui di dalam kamar pribadinya tidak ada, Galen beralih mencari di dalam kamar pribadi sang istri. Namun, harapan hanya tinggal harapan dia tak menemukan tanda-tanda sang istri dari mulai sprei yang masih rapi.
Asal kalian tahu, Galen tak sesabar yang selama ini di perlihatkan. Apa lagi jika, perihal sebuah gairah naf*u.
__ADS_1
Berdekatan dengan istri kedua nya itu saja sudah selalu bisa membangkit sesuatu yang selama ini bisa diri nya tahan.
"Sejak tadi Mama perhatiin, wajah kamu tidak seperti biasa nya. Apa sudah terjadi sesuatu yang Mama lewatkan.? " Tanya sang Mama, menaikan ujung alis nya ke atas.
"Ekhem, perasaan Mama saja kali." Kilah nya menyuapkan sepotong roti ke dalam mulut nya.
Mama Ayda mengangguk setuju. "Di mana ke dua istri mu,? Kenapa belum pada turun.?" Melirik sekilas ke arah putranya, kemudian kembali lagi ke arah selembar roti di atas piring nya.
Ekor mata Galen menatap sang Mama sejenak. "Mama tahu. " Galen kembali menyuapkan sepotong roti ke dalam mulut nya.
Oh, Galen hanya oh ria seraya mengangguk saja.
''Terus, kenapa mereka berdua______''
''Pagi Ma.'' Sapa Ciara, dengan wajah berseri-seri. ''Maaf, Ciara kesiangan.'' Ucap Ciara merasa bersalah telah bangun kesiangan. Apa lagi di tatap oleh mama mertua nya tanpa kedip.
__ADS_1
Kemudian seulas senyuman manis Mama Ayda tampilkan. ''Kenapa harus meminta maaf, ?Justru Mama heran, kenapa pagi ini kamu sangat berbeda. ?'' Tanya Mama Ayda heran, pasal nya diri nya tak pernah melihat senyuman sebahagia seperti sekarang ini dari menantu nya.
Ciara tersenyum malu-malu, apa lagi mengingat kebersamaan dengan sang suami.? Semburat merah langsung hadir di kedua pipi Ciara bak kepiting rebus.
Mama Ayda yang melihat hal itu hanya terkekeh geli, kenapa menantu nya itu seperti remaja yang baru jatuh cinta.
''Apa Kila belum siap. ?'' Tanya Galen pada sang istri, Ciara. Usai menelan sepotong roti yang terakhir. Lalu meneguk segelas jus yang sudah di siap kan oleh pelayan rumah.
''Apa kamu lupa mas,? Hari ini kan hari minggu. Mungkin Kila sedikit siang bangun nya, kala setiap hari minggu.'' Membuat Galen mengangguk mengerti.
''Mas mau kemana, ? Kenapa sudah serapi ini.? Mas tidak lupa kan kalau hari ini hari libur. '' Heran Ciara mengerutkan dahi.
Galen menggeleng cepat. ''Mas ada sesuatu pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Mengingat kemarin Mas sakit, jadi Pekerjaannya di cancel dan hari akan di bahas di luar kantor. '' Jelas nya.
''Ya udah, Mas pergi dulu.'' Pamit nya mengecup kening sang istri dan juga sang Mama.
__ADS_1
''Hati-hati mas.'' Ucap nya dan di angguki cepat Galen yang melangkah pergi menjauh.