
🍁🍁🍁
"Cuih!" Suara Salma meludah setelah akhirnya Salwa menarik tangan yang membungkam mulutnya. "Heh!" Cibirnya lagi dengan membuang muka pada Lukas yang tak bereaksi apapun untuk memihak dan menegur sikap Salwa padanya.
"Kenapa tidak menjawab telponku?" Tanya Salwa menoleh ke pintu rumah yang sedikit terbuka. "Apa Bunda ada dirumah?" Tanyanya memutar tubuhnya membelakangi keduanya dan melangkah menaiki tugas anak tangga.
"Percuma kamu masuk kedalam." Sahut Salma berbalik kembali ke mobilnya mengabaikan Lukas. "Bunda tak ada dirumah." Sambungnya membuka pintu mobilnya.
"Kamu yakin?" Tanya Salwa menoleh sambil berbalik badan melihat pada Salma yang berada di sela pintu mobil yang terbuka.
"Ya." Sahutnya. "Aku belum melihatnya sejak kembali dari rumah mertuamu." Melirik kecil pada Lukas yang membalasnya dengan mengendikkan bahunya.
"Bagaimana dengan pagi tadi?" Tanya Salwa menuruni anak tangga menghampiri balik Salma. "Apa kalian tidak sarapan bersama?" Tanyanya mulai khawatir.
"Aku menginap di hotel Ayah tadi malam." Jawabnya.
"Ayah?" Tanya Salwa. "Apa dia juga tidak pulang ke rumah?" Sambungnya.
"Aku kurang tahu." Sahut Salma yang sengaja tak mengatakan sebenarnya untuk menutupi kejadian tadi malam dari Salwa yang sudah mengetahui semuanya dari Lukas. "Aku tak bersamanya tadi malam." Memalingkan wajahnya menghindar dari kebohongan yang berusaha ia tutupi dari Salwa.
"Apa kamu sudah mengecek Bunda sampai ke halaman belakang?" Tanya Salwa berbalik badan.
"Sudah." Jawab Salma. "Aku juga tak menemukan dia disana." Sambungnya menghentikan langkah Salwa.
"Apa kamu sudah memberitahu hal ini pada Ayah?" Tanya Salwa menoleh dan mendapati raut ketakutan di wajah Salma. "Atau kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Salwa pelan sambil melirik kecil ke sekitar mereka.
"Hanya sekumpulan tanaman hias." Jawab Salma berusaha menyembunyikan kepanikannya. "Kamu juga tahu itu." Masuk kedalam mobil menghindar dari Salwa yang sejak tadi melemparinya begitu banyak pertanyaan.
Lebih baik Aku pergi daripada terlibat pada wanita yang tak memiliki rasa takut sedikitpun pada Ayah. Batin Salma memutar kunci mobilnya.
"Salmaaa!" Panggil Salwa menggapai Salma dengan mobil yang telah berjalan. "Katakan apa sebenarnya yang terjadi?" Menggapai Salma yang segera menutup kaca mobilnya hampir membuat jari Salwa terjepit.
Brooom! Suara mobil Salma meninggalkan Salwa yang menghentakkan tangannya melampiaskan kekecewaan.
"Maaf Aku tak bisa membantumu Bunda." Melihat Salwa dari kaca spion. "Putrimu ini terlalu lemah untuk menghadapi Ayah yang begitu kejam." Menginjak pedal gas meninggalkan Salwa dan Lukas yang kini masuk ke dalam rumah. Keduanya melangkah dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
__ADS_1
"Ssst!" Panggil Salwa pada Lukas untuk mengikutinya masuk ke dalam sebuah kamar miliknya yang terletak dibawah tangga.
Fyuhh! Suara Salwa menghela nafas mengunci pintu dengan sangat pelan sementara Lukas membuka jasnya dan menggantinya dengan pakaian para pengawal Raden. Demikian juga dengan Salwa yang kini membungkus rambut panjangnya dalam wig pendek. Ia kemudian menempelkan kumis palsu diatas bibirnya lalu mensetting pistol di tangannya. Salwa membidik pistol dengan peluru ke arah Lukas yang sedang memakai rompi anti peluru dengan tubuh yang membelakangi Salwa.
"Heh!" Cibir Lukas melihat postur tubuh Salwa dari pantulan cermin. "Apa kamu berdandan seperti itu untuk membunuh suamimu?" Tegur Lukas berbalik badan.
"Berhenti berlagak seolah kamu benaran suamiku." Menarik pistolnya.
"Aku tak berlagak." Ucap Lukas. "Kamu sendiri yang mengakuinya di depan Salma." Memakai sarung pistol. "Padahal sedikit lagi Aku bisa mencicipi bibirnya." Melirik kecil pada Salwa yang membalasnya dengan membuang wajah ke arah lain.
"Kenapa tidak langsung menciumnya saja tadi jika begitu ingin!" Gerutunya pelan memakai rompi peluru sambil menghentak-hentakkannya melampiaskan kekesalan.
"Bagaimana bisa aku menciumnya jika kamu berdiri diantara kami seperti tadi." Balas Lukas menggoda Salwa yang tiba-tiba menoleh dengan alis mengernyit dan bibir mengerucut kedepan. Sebuah pemandangan yang tak bisa dilewatkan oleh Lukas untuk tidak segera meraup bibir itu tanpa peringatan.
Perasaan apa ini? Kenapa jantungku terus berdebar untuknya sejak ia menautkan jarinya pagi tadi hingga detik ini. Rasanya Aku ingin menghisap seluruh jiwanya dari bibir ini untuk bersatu dengan diriku. Batin Lukas menangkup wajah Salwa sambil terus ******* bibir wanita itu dalam mata terpejam.
Bug! Lukas mendorong tubuh Salwa pada pintu di belakangnya tanpa sadar membuat pengawal yang berjaga di setiap sudut ruang terjaga. Para pengawal melangkah keluar dari sudut mencari asal datangnya suara.
"Ehmmmmm!" Suara Lukas mengecap lidah Salwa yang membelit masuk ke dalam mulutnya dengan wajah menengadah ke atas dan kedua mata terpejam. Sedangkan kedua tangannya terkunci dalam cengkraman Lukas yang menempatkannya diatas kepala menempel pada pintu.
Tap tap tap! Suara larian pelan mengecek segala tempat menggenggam pistol di tangan dengan mengarahkannya pada sesuatu yang tampak mencurigakan. Namun tak satupun dari mereka menemukan sumber suara tersebut.
"Kembali!" Seru yang lain untuk meminta rekannya kembali berjaga ke tempat semula dan diwaktu bersamaan Salwa tersadar dengan membuka matanya. Lalu memberontak dari cengkraman Lukas yang menarik wajahnya membuat bibir mereka terlepas.
"Lepaskan tanganku!" Pinta Salwa berusaha menarik tangannya dari atas.
"Apa kamu akan menamparku lagi?" Tanya Lukas.
"Ya." Jawabnya. "Bahkan melebihi itu!" Sambungnya dengan mengalihkan wajahnya dari tatapan Lukas.
"Kenapa?" Tanya Lukas menekan pergelangan tangan Salwa membuat wanita itu meringis.
"Apa kama sama sekali tak tahu?" Balasnya balik bertanya. "Kamu bahkan sudah melakukannya beberapa kali padaku!" Protesnya.
"Apa yang aku lakukan salah?"
__ADS_1
"Ya." Jawab Salwa. "Kamu mencium istri pria lain dan---"
"---Kamu menikmatinya!" Potong Lukas melepas cengkraman tangannya pada lengan Salwa. "Itu mengapa kamu menjadi sangat marah." Sambungnya. "Kamu marah pada dirimu karna telah mengkhianati Luhan." Berbalik badan membelakangi Salwa menyembunyikan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada untuk wanita itu. "Aku mengerti!" Melangkah menggapai pistol di depannya. "Mari kembali fokus ke tujuan awal kita datang kesini." Membidik pistolnya ke arah Salwa.
"Apa kamu ingin menembakku?" Tanya Salwa.
Ya! Aku ingin menembakmu dengan perasaanku saat ini yang pasti hanya akan mendapat penolakan karna ruang hatimu telah terisi penuh oleh Luhan. Batinnya menarik pistolnya.
"Ayo keluar!" Sahut Lukas memasukkan pistol ke sarungnya. "Buka pintunya." Melempar tongkat setrum yang dengan refleks ditangkap oleh Salwa.
Klekk! Suara pintu terbuka.
"Halo!" Ucap Lukas pada earphone ditelinganya dengan melangkah keluar untuk menarik perhatian para pengawal yang berdiri di setiap sudut.
"Siapa yang disana?" Seru pemimpin grup dari ujung ruangan pada Lukas disusul oleh pengawal lain yang keluar dari persembunyian. Serentak pengawal mengarahkan pistol mereka pada Lukas yang berakting seperti salah satu dari mereka.
"Ada apa Bos?" Tanya Lukas yang kemudian serentak semua pengawal menurunkan bidikan pistol mereka padanya. "Siap Bos!" Lanjut Lukas mengelabui pengawal dengan percakapan omong kosongnya.
"Apa ada perintah dari Bos?" Tanya pemimpin grup menghampiri Lukas yang menyeringai tipis.
"Bos meminta semua berjaga di depan." Jawab Lukas sambil mengalihkan semua untuk melihat padanya. "Ayo, Tunggu apa lagi!" Perintah Lukas pada semua yang refleks berbondong-bondong meninggalkan ruangan bersamaan dengan Salwa melangkah ke arah dapur disusul oleh Lukas dari belakang.
Bam! Suara pintu utama dan halaman belakang tertutup bersama.
"Tempat apa ini?" Tanya Lukas melihat halaman belakang yang penuh tanaman hias dan satu set meja dengan rak buku di sampingnya.
"Jangan sentuh apapun yang ada disana!" Tegur Salwa pada Lukas yang melihat secarik foto keluar dari halaman salah satu buku disana.
"Hanya buku-buku lama." Sahut Lukas menarik foto keluar dari halaman. "Kamu tak perlu takut aku akan mengambilnya." Melihat foto Salwa saat mengenakan gaun pengantin.
"Apa yang kamu lihat?" Tegur Salwa membuat Lukas refleks memasukkan foto ke dalam sakunya.
"Gak ada apa-apa." Jawab Lukas membelakangi rak melihat ke Salwa, wanita Luhan.
🍁🍁🍁
__ADS_1