Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 127


__ADS_3

Memilik lekuk tubuh yang tak pernah berubah di masa masih gadis sampai hari ini, membuat Vio lebih mudah mencari style yang pas untuk dia pakai.


Contoh nya stylish satu ini, outfit santai wanita hijab yang sedang booming yaitu outer rajut dengan desain abstrak. Vio memilih sebagai outer dari kemeja putih, kemudian untuk bawahannya, pakai pleated pans dengan warna senada outer. Dan tidak lupa hijab, sepatu yang dia pakai senada dengan outfit yang sekarang ia pakai.


''Neng, neng benarkan gak salah alamat. ?'' Tanya sang supir taksi memastikan kembali. Melihat penampilan si penumpang nya saat ini membuat sang supir taksi sedikit ragu, dengan indra pendengaran sendiri.


Wanita berhijab menyodorkan sebuah alamat, dan alamat yang di sodorkan membuat sang supir taksi selalu bertanya-tanya. Dan pada akhir nya, sang supir taksi menghentikan mobil nya tepat di depan Club malam yang cukup ramai jika di malam hari. Apa lagi Club malam itu salah satu Club yang cukup besar di kota Surabaya.


''Bukannya, alamat nya sudah saya kasih ke bapak ya, tadi. ?'' Sahut Vio dengan muka datar nya.


''Iya sih neng, hmm kalau boleh tau neng kesini mau ngapain, ya. ? Gak mungkin kan neng, neng ke sini mau minum.'' Tanya nya.


''Astaghfirullah hal'adzim.'' Sebut Vio. ''Saya kesini tidak mau minum pak, melainkan mau menjemput seseorang yang tadi menyuruhku untuk menjemput nya.''


''Oh. '' Sang supir taksi bernafas lega, mengingat di rumah memiliki seorang anak perempuan yang berusia remaja, membuat sang supir taksi menjadi was-was sendiri.

__ADS_1


''Saya kasih saran ya neng ya, lebih baik neng suruh teman neng itu yang keluar dari sarang neraka itu. Dari pada si neng yang masuk ke dalam, hal itu akan membahayakan si neng sendiri loh nanti nya.'' Terang Sang supir taksi.


''Baik lah Pak, Saya akan menghubungi nya.''


Hampir lima belas menit, Vio masih mencoba terus-menerus menghubungi laki-laki itu kembali.


''Hmm bagaimana neng,? Apa sudah bisa di hubungi. ?''


Membuat Vio menggeleng cepat, ''Belum, biar ku coba kembali. ''


Deringan panggilan terakhir, indra pendengaran Vio menangkap suara musik DJ cukup memekik. Dengan refleks Vio menjauhkan ponsel nya dari daun telinga nya.


''Saya sudah berada di luar Club, jika ingin ku jemput, cepatlah keluar.!'' Dingin Vio.


Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Vio sudah mematikan panggilan tersebut. Tidak memperdulikan kekesalan seseorang dari seberang.

__ADS_1


''Tunggu sebentar lagi ya Pak, orang yang saya tunggu akan segera keluar.''


''Ck, kau sangat menyusahkan.'' Gerutu nya, seraya menopang tubuh Teman nya agar tidak jatuh di atas lantai.


Terseok-seok berjalan keluar, mati-matian Andreas menahan keseimbangan tubuh nya. Supaya mereka berdua tak terjatuh tersungkur bersamaan yang akan membuat image sebagai pria tangguh anjlok ke dasar jurang.


''Bisa tidak, lo berdiri sedikit tegak. '' Bentak Andreas. ''Gue kesusahan menghubungi gendaan lo tau gak. Heran gue, sudah habis berapa botol sampai teler kayak gini. ?'' Omel Andreas mendengus kesal.


Andreas yang sibuk ngedumel, tidak menyadari Vio berdiri di dekat mereka berdua bersama sang supir.


''Bisa meminta tolong Pak, bantu dia masuk ke dalam mobil taksi.!'' Pinta Vio terhadap sang supir taksi, sambil menunjuk laki-laki setengah sadar yang berstatus suami nya itu.


''Bisa neng, mari mas biar aku saja yang membawa nya pulang ke rumah. !'' Ucap nya sang supir taksi.


Sedangkan Andreas hanya bisa diam membisu, menatap intens wanita yang berhijab dari bawah sampai atas kepala. ''Lo, lo siap nya Galen?'' Kikuk Andreas jika berhadapan dengan wanita berhijab, Andreas harus bisa menjaga sikap.

__ADS_1


''Saya teman nya.'' Jawab Vio dingin.


Andreas tersenyum devil. ''Lo bukan istri sah nya Galen kan.''


__ADS_2