Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Banus 132


__ADS_3

Bahagia itu sederhana, bersyukur dengan apa yang kita miliki bukan dengan apa yang orang lain miliki. ?


Hidup sederhana justru bisa membebaskan dirimu dari sifat sombong. Meski hidup penuh kesederhanaan sekalipun, tapi tetap bahagia dan bikin hati tentram. Karena bahagia itu bisa ditemukan dengan berbagai cara, yang salah satunya dari hidup sederhana. Kata sederhana ini beda arti dengan miskin.


Sederhana membuatmu lebih lebih memiliki rasa bersyukur dengan apa yang dimiliki. Bahagia memang tidak selalu diukur dari hal-hal mewah atau besar saja.


Hari ini, hati Vio benar-benar merasakan bahagia yang cukup sederhana.


Bisa bermain sebentar dengan anak panti Kasih Ibu, membuat Vio melupakan masalah yang kini dia hadapi untuk sejenak.


Waktu sudah menjelang siang hari, bergerak lambat namun pasti matahari sudah berpindah tempat tepat di tengah-tengah timur dan barat. Matahari terbit di timur dan terbenam di barat karena rotasi planet kita.


Galen mau pun Vio kompak menolak tawaran makan siang bersama di panti Kasih Ibu. Bukan mereka tidak mau, melainkan dia merasa tidak enak ikut makan bersama di panti, sedangkan penghuni panti saja cukup banyak.


"Tidak perlu repot-repot Bu, ini sudah cukup dengan ketela kukus nya." Tolak Vio, yang merasa akan di bungkus kan nasi beserta lauk nya oleh Ibu panti.


"Gak merepotkan sama sekali Nak Vio, bahkan aku senang jika nak Vio dan juga nak Galen mau menerima dan tidak menolak nya." Keukeh Ibu panti, yang tetap membungkus dua nasi beserta lauknya.


"Baiklah Bu, terimakasih atas makan siang nya. Kalau begitu kita berdua pamit pulang dulu." Pamit Vio, mengecup punggung Ibu panti beserta ibu dan bapak yang lain nya.


Sedangkan Galen, jangan tanyakan di mana dia sejak tadi tidak terdengar suara nya. Sebab, Alister Galen Pratama sedang asyik memperhatikan tutur kata yang lembut, berperilaku yang sopan. Hal itu lebih menarik menurut Galen, dari pada hal yang lain nya.


Vio menyikut sedikit perut Galen, yang terlihat ngelamun tanpa jelas di samping nya yang terlebih kebelakang.


Tersentak kaget, kemudian melirik ke arah istri nya yang terlihat memberi kode untuk bersalaman.


''Aku pamit Bu, Pak. '' Ucap nya seraya bersalaman satu persatu pengurus panti asuhan Kasih Ibu.

__ADS_1


...****************...


''Bisa menggantikan aku menyetir. ?'' Tanya nya, dengan bibir sudah memucat.


Vio menyipitkan sebelah mata nya, dengan kepala menoleh ke arah suami nya yang sedang menyetir.


''Kamu kenapa. ? Sakit. ?'' Memberanikan diri menyentuh kening suami nya. Mengingat kata suami membuat Vio geli sendiri.


''Sedikit hangat, tetapi kamu berkeringat dingin. Jangan bilang kamu memiliki riwayat asam lambung. !'' Tebak Vio, Kerena dulu Vio pernah mengalami nya saat masa-masa sekolah SMA. Yang sering telat makan, sekaligus penyuka pedas sama asam.


Mobil yang di kendari oleh Galen, perlahan menepi di pinggir jalan yang cukup sepi. ''Aku mual dan juga pusing.'' Keluh nya sebelum turun dan mengeluarkan isi perut nya di pinggir trotoar.


Hoek, hoek, hoek. Rasa pahit menguasai seluruh rongga mulut nya. Rasa mual terasa banget di ulu hati nya sehingga Galen tidak memikirkan urat malu nya jika nanti di lihat sama orang yang melintas di jalan yang sama dengan nya.


Memiliki hati nurani sesama manusia, Vio mencoba membantu memijat tengkuk suami nya dengan lembut.


''Nih, minum dulu teh manis hangat nya.! Biar tidak terlalu pahit sekaligus bisa menghangatkan tubuh kamu yang mengeluarkan keringat dingin.'' Menyodorkan teh hangat berbungkus plastik dan ada satu sedotan di dalam nya.


''Apa boleh.? Bukan nya teh itu mengandung _____''


''Aku tahu, kalau sedikit gak apa-apa kan. ? Lagian ya, indra perasa mu saat ini pasti nya sangat pahit.''


Galen mengangguk, kemudian menyedot teh hangat tersebut dengan lemah. ''Huuff, aku lemah, jika bersangkutan dengan satu penyakit ku ini. '' Lirih Galen.


''Apa perlu ke rumah sakit. ?'' Tanya Vio.


Galen menggeleng, '' Gak perlu, biar nanti aku menghubungi temen ku untuk datang ke rumah.''

__ADS_1


''Seorang Dokter. ?''


''Iya, dia seorang Dokter.''


''Oh, baiklah kita pulang sekarang.'' Beranjak dari tempat nya, sebelah tangan nya mengusap pantat nya yang terkena debu.


''Mau aku bantu. ?'' Dan di angguki cepat Galen.


''Terima kasih, kamu tadi dapat teh manis nya dari mana. ?''


''Dari warung terdekat, tuh di sana.'' Tunjuk Vio, sambil membantu suami nya duduk di jok belakang.


''Kamu, yakin kan bisa menyetir. ?'' Galen sedikit ragu.


''Iya, jika nanti salah menginjak, palingan kita berdua masuk ke rumah sakit.'' Seru Vio, tanpa sadar menakuti Galen yang langsung bergidik ngeri.


''Jangan becanda, aku sedang serius Vi. !'


''Iya, aku juga serius. Mending kamu pakai sabuk pengaman nya kuat-kuat Sambil berdoa.''


''Ta_______'' Ucap Galen berhenti di udara.


Brak.


''Sudah, Bismillahirrahmanirrahim sampai di rumah.''


''Amiin.'' Sahut Galen cepat.

__ADS_1


__ADS_2