Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 76


__ADS_3

Rumah Papa Shidiq.


Sesampai di dalam rumah, Mama Rosa berjalan cepat masuk ke dalam kamar nya tanpa menunggu sang suami terlebih dahulu. Kemudian Mama Rosa membersihkan tubuh nya sebelum naik ke atas kasur bergulung selimut hangat nya yang sangat cocok dengan udara dingin sehabis hujan yang baru mereda.


Berulang kali mulut nya bergerak mengumpat, Mama Rosa tetap fokus dengan kegiatan nya membersihkan tubuh nya. Meskipun dengan hati yang sedikit dongkol, atas apa yang terjadi pada malam ini.? Yang dimana? Satu kebenaran terungkap, membuat Mama Rosa menahan amarah nya sejak dari rumah sakit sampai di dalam rumah nya.


''Huuuff, aku tak menyangka jika sang pelaku nya ternyata ponakan suami ku sendiri.'' Gumam Mama Rosa, yang baru selesai berganti baju dan mulai naik ke atas ranjang seraya menarik selimut tebal nya sampai ke atas dada.


Ceklek


Pintu terbuka dari luar, membuat sepasang mata Papa Burhan langsung bertemu dengan kedua mata sang istri yang sama-sama saling menatap.


Menghela nafas panjang sejenak, sebelum membujuk sang istri nya yang sedang merajuk atau mungkin bisa lebih dari marajuk. ''Mama masih marah?''


''Tentu, soal nya aku masih belum bisa memaafkan ponakan mu itu. Aku masih tak menyangka loh dengan Vio, ponakan Papa itu sudah berniat ingin membunuh putri ku.'' Sungut Mama Rosa marah.


''Aku tau, Papa juga sangat berat untuk memaafkan ponakan Papa sendiri, tidak cuma Mama saja.''


''Ya udah, kalau begitu masukan saja ponakan Papa itu ke dalam penjara.'' Membuat Papa Shidiq terdiam, kini dia di landa rasa delima dengan ke adaan.


''Apa kasus yang sudah di tutup bisa di buka kembali Pa. ?'' Tanya Mana Rosa, saat melihat sang suami terdiam.

__ADS_1


''Bisa. ''


''Ya udah, Mama ingin ponakan Papa di beri pelajaran, dengan cara memasukan dia ke dalam penjara. Biar dia merasa jera dan tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.'' Titah Mama Rosa menggebu.


''Mau nya gitu sih Ma, tetapi korban utama si Juan, bukan Eva. Meskipun dia bisa masuk ke dalam penjara itu pun tidak akan lama.''


''Gak apa-apa asal kan dia mendapatkan hukuman nya Pa,? Atas perbuatan yang dia lakukan.''


''Ya udah, nanti kita bahas lagi dengan nak Arsen. Sebab, dia yang kemarin mengurus kasus Kecelakaan terhadap putri kita,''


...****************...


Di sisi tempat yang berbeda, sepasang suami istri kini sedang menikmati panas nya kuah bakso yang sangqt cocok dengan hawa yang dingin malam ini.


''Setelah ini, kita ke rumah sakit ya Mas. !'' Ajak Eva, sehabis meneguk minuman jeruk hangat nya.


''Pulang.'' Beranjak dari duduk nya lalu menghampiri si penjual nya.


''Ini bang uang nya. ''


''Tunggu sebentar, tak ambilkan kembalian nya, Mas.''

__ADS_1


''Tidak perlu bang, kembalian nya untuk abang aja.''


''Tapi Mas, ini mah kebanyakan.'' Si penjual bakso merasa sungkan menerima kembalian nya yang yang rumayan banyak.


''Tidak apa-apa. ? Mungkin ini sudah menjadi rezeki abang. '' Ucap Arsen sangat tulus .


''Ya udah, saya terima Mas dan saya ucapkan terimakasih banyak.''


Membuat Arsen mengangguk sambil tersenyum. ''Kita pergi dulu bang.'' Pamit Arsen menarik istri nya menuju mobil nya terparkir.


''Ini beneran Mas, kita langsung pulang. ? Lalu, bagaimana dengan pulang nya Papa sama Mama di rumah sakit nanti.?''


''Masuk sayang, ini sudah mulai gerimis lagi!''


''Ta____''


''Masuk sayang.!'' Ulang Arsen membuat Eva bergerak masuk ke dalam mobil tersebut.


Eva yang akan membuka mulut nya, ketika melihat sang suami sudah berada di samping dia duduk. Kini gerakan tersebut terhenti kala satu jari menempel tepat di bibir ranum nya.


''Diam dan dengarkan, kalau kedua orang kita sudah sampai di rumah nya dari pada kita, sayang.''

__ADS_1


''Dan kita langsung pulang saja, gak baik, untuk kesehatan kamu malam-malam begini masih berkeliaran di luar rumah.'' Titah Arsen tegas.


__ADS_2