Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 150


__ADS_3

''Karma. Hukum karma! Siapa yang menabur angin, dia akan menuai badai. Siapa yang menanam, dia bakal memanen hasilnya. Siapa yang menyakiti hati seseorang, dia juga akan merasakan sakit yang sama."


''Sesakit inikah, yang dulu kamu rasakan Ev. ? Calon suami kamu ku rebut, dan berakhir berselingkuh dengan aku. Karena rasa kedengkian dan ke irian ku terhadap kamu. Sekarang aku tau, rasa sakit memang harus di balas dengan rasa sakit juga.'' Gumam nya sedih.


''Kenapa takdir kisah cinta ku harus menjadi yang kedua.? Apa mungkin, dulu aku berselingkuh nanti suami ku juga akan berselingkuh.?'' Ada rasa trauma tersendiri di dalam hati nya. Meskipun sudah berbulan-bulan, tetap saja seakan Kejadian Itu baru kemarin.


''Belok kanan Pak, !'' Vio memberi perintah, saat menyadari sudah tiba di depan rumah Papa Shidiq.


''Baik neng.'' Sahut nya seraya berbelok yang di arahkan oleh penumpang.


''Berhenti, stop di sini saja Pak.!'' Titah nya lalu mengambil beberapa paper bag yang berada di sebelah nya.


Kemudian Vio merogoh tas selempang kecil nya, mengambil beberapa kertas berwarna merah yang akan di berikan kepada sang supir taksi.


''Ini ongkos nya Pak'' Menyodorkan uang di sela-sela sandaran kursi. ''Saya ucapkan terima kasih Pak, sudah mengantar saya dengan selamat sampai di rumah.'' Ucap nya, sambil bergerak keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


''Sama-sama neng, dan terima kasih juga sudah memesan taksi saya. Kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak. '' Pamit nya mengangguk sopan, berlalu pergi meninggalkan Vio yang masih setia menatap kepergian mobil taksi tersebut.


Terik matahari yang cukup menyengat menerpa kulit bersih yang tidak tertutup rapat oleh wanita berhijab tersebut. "Vio, Jangan bingung jalanmu dengan tujuanmu. Hanya karena badai sekarang, bukan berarti kamu tidak menuju sinar matahari." Batin nya, mendongak ke atas sekilas. Sebelum melangkah masuk ke dalam rumah yang cukup sepi. Mengingat waktu sekarang ini, Vio bisa maklumi apa lagi panas-panas seperti ini. ?


Apa lagi kalau bukan waktu dimana tubuh seseorang butuh beristirahat. Yang sudah menghabiskan setengah dari tenaga mereka dalam melakukan kegiatan. Sehingga tidak heran bila siang hari kita diberikan waktu untuk mengisi ulang kembali tenaga agar bisa semangat menjalankan aktivitas hingga sore hari.


Tok


Tok


...****************...


Sehabis sholat dhuhur berjamaah bersama sang istri, Papa Shidiq merebahkan tubuh tua nya di sofa panjang depan televisi. Sedangkan sang istri berkunjung ke rumah putri nya yang kata nya Mama nya Arsen sedang berkunjung juga.


Seakan baru di tarik ke alam mimpi, tiba-tiba ketukan pintu menarik nya kembali ke alam sadar nya.

__ADS_1


''Tumben, jam segini ada yang mengetuk pintu.'' Pikir nya, sambil menarik tubuh dari tiduran nya di sofa.


Ceklek.


Dari belakang, Papa Shidiq hanya bisa melihat punggung wanita berhijab. Berdiri tegak menghadap ke arah rumah putri nya, Eva. ''Ehem, hm cari siapa. ?'' Tanya nya, membuat Vio tersentak kaget.


''Maaf, sudah ngagetin kam_______''


''Assalamualaikum Pa.'' Potong Vio, yang langsung mengecup punggung tangan Papa Shidiq.


''Vio, putri Papa pulang, kapan sampai nya. ?'' Memeluk tubuh Vio, meskipun bukan putri kandung nya. Namun Papa Shidiq menganggap Vio sebagai putri kandung nya sendiri.


''Baru saja, bahkan belum ada dua puluh menit.'' Cicit nya menahan tangis. Seandainya nya Papa Shidiq tau, kalau diri nya telah merusak rumah tangga seseorang. Apa Papa Masih mau menerima kehadiran nya di rumah ini. ?


Apa aku harus kehilangan lagi, rumah yang selalu menyambut nya begitu hangat. ? Memikirkan hal itu saja, sudah bikin Vio sudah frustasi. Tanpa sadar Vio mengeratkan tangan nya di pelukan Papa Shidiq. Seakan tak ingin kehilangan sosok ganti Papa kandung nya yang telah tiada.

__ADS_1


__ADS_2