
Jily menyuntikan sebuah cairan yang membuat Salma jatuh tak sadarkan diri. Selanjutnya Bams memindahkan Salma pada kursi roda yang telah di siapkan. Selang beberapa menit kemudian keduanya diam-diam membawa Salma keluar dengan menyamarkan diri menggunakan pakaian perawat.
Buk! Suara Bams menidurkan Salma di jok belakang mobil.
Bam! Membanting pintu mobil lalu melangkah ke pintu depan sambil melirik sekitar rumah sakit.
"Apa ada yang mencurigakan?" Tanya Jily pada Bams yang membuka pintu mobil untuk masuk bergabung di dalam.
"Aman." Sahutnya menutup kembali pintu sambil melihat keadaan Salma di belakang mereka. "Kemana kamu akan membawanya?" Tanya Bams menoleh pada Jily yang menyalakan mobil.
"Sebuah tempat rahasia." Menginjak pedal gas dengan menyeringai tipis meninggalkan perawat yang di minta dokter untuk mengecek perkembangan kondisi Salma di ruangannya.
Buk! File di tangan perawat jatuh ke lantai selang beberapa menit ia tiba di ruangan Salma. Ia tak melihat keberadaan Salma di ranjang selain selimut yang terlipat rapi di atas bantal.
Tap tap tap! Suara langkah panjang perawat dengan wajah panik menyusul keberadaan dokter yang sedang memeriksa pasien lain.
"Dokter pasien tidak ada diruangan." Ucap perawat menghampiri dokter dengan wajah panik.
"Apa??" Sahut Dokter yang kemudian meminta izin keluar mengecek ruangan Salma. "Kamu sudah cek cctv?" Tanya Dokter melihat cctv yang berada di koridor ruang inap.
"Belum Dok." Sahut Perawat yang kemudian pergi bersama dokter ke ruang pengawasan dan meminta staff disana untuk mengecek rekaman cctv yang berada di koridor. Cctv berhasil merekam Dokter dan Salwa sebelumnya disana namun tiba-tiba layar berubah gelap menghilangkan lanjutan rekaman lainnya.
"Coba periksa!" Perintah kepala bagian pengawasan pada anggotanya yang langsung beranjak ke posisi cctv di koridor di ikuti oleh dokter dan perawat sebelumnya.
"Seseorang menempelkan permen karet." Ucap petugas menarik permen karet yang menempel di cctv. "Sepertinya mereka sudah merencanakan penculikan pada pasien sejak awal Dok." Sambungnya.
"Kalau begitu kita harus segera lapor pada polisi." Ucap perawat.
"Jangan," tolak Dokter. "Itu akan merusak reputasi rumah sakit." Lanjutnya. "Lebih baik kita menghubungin anggota keluarga pasien." Berbalik badan meninggalkan koridor sambil menghubungi nomor Salwa yang ia terima sebelumnya.
Kringggg! Dering ponsel Salwa berbunyi sesaat mobil tiba di basemant perusahaan Emperal Grup.
"Halo." Sambut Salwa mengangkat panggilan dari dokter.
__ADS_1
"Halo juga Nona Salwa." Sahut dokter. "Ini saya dokter yang menangani Saudara Salma." Lanjutnya.
"Iya, ada apa dok?"
"Begini Nona Salwa." Ucapnya dengan sangat hati-hati. "Saudara Salma menghilang dari ruangannya." Sambungnya membuat mata Salwa melebar.
"Menghilang bagaimana dok?" Tanya Salwa. "Dokter sudah periksa ke toilet atau tempat lain mungkin." Sambung Salwa dengan wajah panik.
"Dalam kondisi yang masih lemah tidak memungkinkan Salma untuk bergerak sendiri ke kamar mandi ataupun tempat lain. Pihak kami menduga bahwa Kakaknya Nona Salwa sepertinya di bawa oleh seseorang. Kami sudah memeriksa cctv di sekitar kamar tapi tidak menemukan apapun selain sebuah permen karet yang sengaja di tempelkan di kamera cctv. " Jelasnya.
"Terimakasih Dok atas informasinya." Sahut Salwa.
"Nona Salwa mengenai kejadian ini saya dari pihak rumah sakit mohon maaf karna telah lalai menjaga Nona Salma."
"Baik dok,gak pa-pa." Sahut Salwa. "Tapi jika suatu saat saya membutuhkan kesaksian untuk ini dokter bisakan ikut membantu."
"Bisa Nona Salwa."
"Makasih dok." Mengakhiri panggilan.
"Salma menghilang." Jawabnya. "Itu pasti Ayah." Sambungnya. "Ia memerintahkan Jily untuk menangkap Salma." Dengan wajah cemas.
"Kamu tak perlu khawatir." Ucap Lukas. "Raden tak mungkin menyakiti putrinya sendiri." Melihat ke Salwa yang membuang muka padanya. "Kamu masih marah padaku?" Tegur Lukas meraih dagu Salwa memutar wajah merengut itu kehadapannya.
"Siapa yang marah de---" Ucapnya terputus oleh bibir Lukas yang membungkam bibirnya dengan ciuman membuat Bobi menghentikan langkahnya. Ia memalingkan wajahnya dengan berbalik badan dari Lukas yang sedang meraup bibir Salwa.
Bos, bos! Toleran dikit Napa? Sama warga jomblo! Batin Bobi menjauh dari keberadaan Lukas yang kini menekan tombol di samping Salwa untuk menaikkan kaca jendela mobilnya.
Lukas kemudian menurunkan sandaran dudukan Salwa dengan tubuh merangkak ke atas. Sementara Salwa menyambut setiap ciuman dengan kedua tangan yang kini menjalar memeluk Lukas di atasnya. Deru napas dan degup jantung yang saling beradu melupakan status di antara keduanya. Perasaan benci Salwa sebelumnya kian runtuh oleh kecupan bertubi-tubi di bibirnya. Satu persatu Lukas melepas kancing baju Salwa hingga memperlihatkan gundukan sintal dalam bekapan bra. Kali ini Salwa terlihat lebih terbuka dari sebelum-sebelumnya. Ia membiarkan jemari Lukas merongoh masuk menggenggam bongkahan daging yang membusung ke atas.
"Salwa." Desis Lukas saat mengecup daun telinganya.
"Hm." Sahut Salwa membuka matanya melihat Lukas.
__ADS_1
"Kenapa kamu menjadi sepasrah ini?" Tanya Lukas menarik tubuhnya kembali duduk dikursinya dengan menarik pinggang Salwa ikut bersamanya.
Bug! Kini Salwa duduk mengangkang dipangkuan Lukas dengan atasan kemeja terbuka.
"Kenapa membiarkanku mela---" ucap Lukas terjeda oleh bibir Salwa yang membungkamnya dengan meraup bibirnya. Salwa melingkarkan tangannya di leher Lukas dan membiarkan tangan pria itu merongoh masuk ke dalam bajunya melepas kaitan bra-nya.
Selang beberapa detik samar-samar terdengar lenguhan yang diteruskan oleh ringisan kesakitan bersamaan dengan mobil yang kini berguncang. Guncangan yang berasal dari getaran tubuh yang saling membelit tanpa sehelai benang pun.
Dua jam berlalu Lukas membuka matanya dan melihat Salwa masih tertidur dengan tubuh yang ditutupi oleh jasnya. Ia memeriksa jam di pergelangan tangannya menunjukkan 19.00. Pertemuannya dengan Ronal terlewatkan oleh pergumulan birahi yang ia lakukan dengan Salwa.
"Batsyeba." Desisnya menyeringai tipis melihat Salwa yang telah melewati batas bersamanya. Ia kemudian menyalakan mobil dan pergi meninggalkan basemant sambil melakukan panggilan pada Bobi.
"Halo Bos." Sambut Bobi yang sedang bersama dengan Indri dan Wulan di meja makan.
"Bagaimana dengan informasi yang aku minta?" Tanya Lukas yang sesekali melirik Salwa.
"Sebentar," suara Bobi dari ujung telpon berpamitan menjauh untuk menerima panggilan Lukas pada Indri dan Wulan. "Maaf Bos," sambungnya beranjak dari kursi menuju teras rumah. "Tadi ada Tante Wulan dan Indri." Menarik pintu untuk di tutup.
"Kamu masih tinggal disana?" Tanya Lukas.
"Bukan Bos." Jawab Bobi. "Saya tinggal di rumah yang berseberangan dengan rumah sebelumnya." Lanjutnya.
"Kenapa?" Tanya Lukas. "Apa ada yang mencurigakan?"
"Indri." Jawabnya sambil melirik Indri dari celah pintu yang sedikit terbuka. "Perawat itu terlihat mencurigakan, Bos." Sambungnya. "Makanya saya gak enak meninggalkan Tante Wulan sendiri." Jelasnya.
"Itu hanya perasaanmu saja." Tepis Lukas. "Lagian Indri itu orangnya Salwa." Melihat ke Salwa. "Mana mungkin dia menaruh orang jahat disisi ibunya sendiri." Jelasnya.
"Emangnya Bos lupa ya kalau istri Bos itu anak angkat." Sangkal Bobi.
"Istri?" Tanya Lukas melihat Salwa.
"Iya Bos." Sahut Bobi. "Istrinya Bos." Sambungnya membuat Lukas menghentikan mobilnya secara mendadak.
__ADS_1
Cekittt! Membangunkan Salwa dan membuat mobil yang dibelakang mereka hampir saling menabrak satu sama lain.
Dia bukan istriku! Batin Lukas mematikan panggilannya pada Bobi.