
🍁🍁🍁
"Tapi Lukas---" Ucap Salwa terjeda sesaat menengadah wajahnya ke atas menatap Lukas dengan mata sendu. "---Aku sebenarnya hanya seorang pengganti yang tak diinginkan keluarga ini." Sambung Salwa.
"Meskipun menjadi pengganti terdengar sedikit menyedihkan tapi setidaknya kamu pengganti yang sah secara hukum." Menunjukkan buku nikah di tanganya.
"Darimana kamu mendapatkannya?" Tanya Salwa mencoba merampas buku nikah miliknya dan Luhan.
"Aku menemukannya dalam laci." Mengancungkan tangannya keatas membuat Salwa tak mampu menggapai buku nikah miliknya.
"Kembalikan padaku!" Ucap Salwa naik ke atas ranjang menggapai ujung tangan Lukas.
Puk!! Suara Lukas menepukkan buku nikah di kening Salwa lalu mengembalikannya pada wanita itu.
"Oh iya!" Mengeluarkan kartu nama dari sakunya. "Apa orang ini juga partner bisnis Emperal grup?" Memberikan kartu nama Raden Prakas pada Salwa.
"Siapa?" Tanya Salwa menerima kartu nama sambil duduk bersila di atas ranjang. "Raden Prakas?" Melihat kartu nama.
"Ya." Jawab Lukas duduk disamping Salwa sambil merebut buku nikah di tangannya. "Aku menemukannya di antara map file para rekan bisnis Emperal grup." Ucap Lukas berbohong sambil membuka buku nikah memperhatikan foto Luhan.
"Dia bukan partner bisnis keluarga ini." Jawab Salwa mengembalikan kartu nama dan merebut kembali buku nikah dari tangan Lukas.
"Lalu?" Tanya Lukas melihat kartu nama itu kembali.
"Dia Ayah angkatku." Jawab Salwa membuat kartu di tangan Lukas jatuh ke lantai.
Dua belas tahun yang lalu Raden datang berkunjung ke panti asuhan tempat Salwa berada. Ia mencari seorang anak laki-laki untuk di angkat menjadi anaknya. Namun tak ada satu pun dari anak laki-laki itu yang membuatnya tertarik.
Bug! Suara pukulan terdengar dari balik dinding tempat Raden dan biarawati berbincang.
"Suara apa itu?" Tanya Raden pada Biarawati yang kemudian disusul oleh suara tangisan anak.
"Maaf Pak!" Sahut Biarawati beranjak keluar dari ruangan di ikuti oleh Raden dari belakang. "Syeba!" Teriak Biarawati pada anak perempuan yang menghajar anak laki-laki yang kini tersungkur di tanah.
"Suster." Panggil Raden yang melihat tatapan penuh amarah pada anak perempuan bernama Syeba.
"Apa Pak Raden mau mengadopsi anak ini?" Tanya Biarawati pada anak laki-laki yang tersungkur di tanah.
"Bukan." Jawab Raden. "Aku mau dia jadi Putriku." Menujuk Syeba.
"Pak Raden yakin?" Tanya Biarawati. "Dia sangat nakal. Saya khawatir Pak Raden akan kewalahan mengurusnya." Jelas Biarawati.
"Saya suka anak yang nakal." Sahut Raden mendekat pada Syeba. "Namamu siapa sayang?" Tanya Raden menundukkan badannya.
__ADS_1
"Batsyeba." Jawabnya.
"Mulai sekarang nama Putri ayah Salwa Batsyeba Prakas." Ucap Raden ketika keduanya tiba di kediaman Prakas. Ia memperkenalkan Salma dan Wulan istrinya pada Salwa.
Kehidupan baru pun dimulai dengan beragam pelatihan untuk pertahanan diri. Prakas mengadopsinya bukan untuk menjadi putri seperti yang ia katakan pada Biarawati. Ia melatih Salwa menjadi seorang pengawal yang dipersiapkan untuk mengkawal putrinya Salma.
Salwa yang tak sengaja mengetahui rencana itu diam-diam terus mengasah kemampuan bela diri dan menembaknya. Ia bahkan menjalin hubungan baik terhadap para pengawal-pengawal yang dimiliki Raden di tempat pelatihannya. Kurang lebih 7 tahun Salwa bergaul dengan para pengawal membuatnya terbantu saat meloloskan diri dari kamp pelatihan untuk mengikuti ujian masuk STIN.
"Gimana?" Bisik seorang pengawal pada Salwa setelah hasil seleksi keluar.
"Lulus." Jawab Salwa membuka koper berisi ayam Kentucky dan bir kaleng yang ia bawa dari luar untuk mereka.
Cheers! Semua bersulang dengan gembira untuk kelulusan Salwa. Namun tidak dengan Raden yang mendapatkan informasi itu dari Salma.
Plakk! Sebuah tamparan melayang di pipi Salwa saat ia baru saja pulang dari acara perpisahan sekolahnya.
"Ada apa yah?" Tanya Salwa kaget bercampur perih pada pipinya yang kini memerah.
"Siapa yang memberikan izin padamu melakukan ini?" Melemparkan kertas registrasi pendaftaran ulang STIN dan yang lainnya ke wajah Salwa. "Batalkan semuanya jika kamu ingin tetap keluar hidup-hidup dari sini!" Ancam Raden pada Salwa yang memungut semua kertas dibawah kakinya. Ia kembali ke kamar dan mulai melanjutkan rencana kedua.
Srekkk! Suara Salwa menarik resleting menutup koper berisi berkas-berkas yang ia butuhkan untuk menjadi bagian STIN. Dengan pelatihan selama 7 tahun hal yang mudah bagi Salwa menyelinap kabur dari rumah Raden. Terlebih beberapa dari pengawal yang berjaga di kediaman adalah teman dekatnya selama pelatihan.
"Apakah sebelumnya keluarga Kardinata dan Prakas sudah saling mengenal?" Tanya Lukas yang merasa ada sesuatu rahasia besar dibalik semua kejadian yang ia alami selama ini.
Mereka datang bersama dengan putri-putrinya untuk di perkenalkan pada Luhan Kardinata yang saat itu belum memiliki kekasih. Salma dan Salwa turut hadir disana bersama dengan Raden.
"Ayah tidak mau tahu bagaimana caranya." Bisik Raden pada Salma dan Salwa. "Salah satu dari kalian harus berhasil memikatnya." Perintahnya yang kemudian memberikan senyum dan mengajak tamu lain bersulang meninggalkan keduanya.
"Kak Salma apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Salwa mengikuti Salma yang mengekori Luhan diam-diam dari belakang.
"Menurutmu?" Balas Salma menoleh dengan menyeringai tipis lalu kembali mengikuti Luhan menelusuri koridor dengan pilar klasik menjulang. Pria itu menarik Salma ke sebuah halaman lain dari rumah yang di sambut oleh sebuah kolam mancur.
Tap tap tap! Suara langkah Luhan melewati kolam mancur menuju sebuah paviliun yang di kelilingi lampu gantung.
"Wow!" Puji Salma mengintipnya dari balik kolam mancur. Ia melihat Luhan duduk di depan sebuah piano. Saat akan meletakkan jarinya pada tuts piano Salma merobek gaun atasnya dan tersungkur di samping kolam.
"Aaaw!" Jeritnya membuat Luhan terjaga dan spontan berdiri. "Tolong siapapun aku mohon!" Seru Salma sambil membubuhkan cairan obat merah di sekitar telapak tangannya.
Heh! Benar-benar licik. Batin Salwa dari balik salah satu pilar yang berada di koridor. Ia kemudian melihat Luhan turun dari paviliun menyusul Salma.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Luhan membantu Salma berdiri.
"Seorang pria yang ada diantara tamu mencoba melecehkanku saat Aku terpisah dengan Ayahku." Jawab Salma dengan wajah tertindas. "Pria itu merobek gaunku." Menyilangkan kedua tangannya menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf." Ucap Luhan melepaskan jasnya. "Kamu harus mengalami hal mengerikan seperti ini disini." Memakaikan jas pada Salma.
"Apakah kamu juga tamu undangan?" Tanya Salma pura-pura tidak mengenal Luhan.
"Bukan." Jawab Luhan tersenyum. "Aku Luhan." Mengulurkan tangan pada Salma.
"Salma." Menerima uluran tangan Luhan. "Salma Prakas." Tambahnya dengan senyum di kedua sudut bibirnya menjerat dan menarik Luhan ke dalam sebuah permainan.
Tak! Suara Salma meletakkan gelasnya dengan keras diatas meja saat makan malam bersama dengan keluarga Kardinata.
"Maaf Tante, Salma menolak perjodohan ini." Ucap Salma beranjak dari kursinya meninggalkan semuanya. Ia berbalik badan sambil menyeringai miring menatap ekspresi Luhan yang tak terima akan penolakan dari cermin lemari di depannya.
"Luhan apa yang terjadi?" Tanya Rose setelah Salma pergi meninggalkan meja makan. "Bukankah kamu yang mengatakan bahwa Salma juga memiliki perasaan yang sama padamu." Sambungnya melihat Luhan yang kini melihat ke Salwa. "Apa kamu punya wanita lain?" Tanya Rose mencurigai Salwa telah menggoda putranya. "Itu mengapa Salma menolak lamaran kamu?" Tanyanya memperhatikan Salwa yang menikmati dessert di depannya.
"Apa Aku terlihat seperti itu?" Balas Luhan yang tidak terima dengan tuduhan Rose padanya. Ia beranjak dari kursi menyusul ke arah Salma pergi.
"Pah bagiamana ini?" Tanya Rose pada David.
"Kita tunggu aja mungkin ada ke salah pahaman kecil diantara mereka Mah." Jawab David.
"Benar." Sahut Wulan, Ibu dari Salma dan Salwa yang kemudian meminta pelayan membawakan makanan penutup lainnya untuk disajikan.
Setengah jam berlalu Luhan kembali dari luar tanpa Salma. Pemandangan yang membuat kedua keluarga khawatir.
"Bagaimana sayang?" Tanya Rose pada Luhan.
"Om Raden." Panggil Luhan mengambil jasnya dari pangkuan Rose.
"Ya."
"Gak ada masalahkan jika Aku menikahi putri Om yang lain." Ucap Luhan melihat ke Salwa.
"Kamu mau menikah dengan Salwa?" Tanya semuanya kompak.
"Ya."
"Buat Om tidak masalah siapapun sama saja." Sahut Raden menyanggupi. "Masalahnya apakah Salwa mau ata---"
"---Kami tidak akan langsung menikah Om." Sela Luhan. "Aku dan Salwa akan berpacaran untuk saling mengenal satu sama lain setelah itu kita akan memutuskan tanggal pernikahannya." Tegas Luhan yang di setujui semua orang pada malam itu.
"Dan sampai sekarang tidak ada satu pun dari kami yang tahu mengapa Luhan tiba-tiba merubah pilihannya." Ucap Salwa pada Lukas. "Padahal dia selalu berhubungan dengan Salma di belakangku." Sambungnya. "Benar-benar menyebalkan." Memayunkan bibirnya ke depan sementara Lukas mengernyitkan alisnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1