
''Iya,.'' Jawab nya.
''Pesanan kamu sudah ada Ci, mau aku antar atau mau kesini ambil pesanan mu sendiri.'' Tawar nya.
''Biarkan aku yang ke sana untuk mengambil nya Tar, aku yakin, pasti nya kamu masih banyak kerjaan lainnya selain mengantar pesanan ku.'' Ciara merasa tak enak, sewaktu-waktu jika diri nya memesan obat penyubur kandungan selalu di antar ke kerumah. Entah sudah ke berapa kali Tari mengantar pesanan nya ke rumah tanpa mau di bayar ongkos transportasi nya.
Kalau di hitung dengan jari, jumlah jemari kedua tangan nya dengan kedua jari-jari kaki nya sampai gak cukup. Hampir lima tahun Ciara memesan obat penyubur kandungan ke apotek tempat Tari bekerja, jika resep dari dokter habis dengan dosis nya. Ciara menyambung dengan obat luar secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari siapa-siapa. Iya, bersama Tari lah obat luar yang mudah Ciara dapatkan, sebab Tari notabene nya yang bekerja di salah satu apotek yang cukup terkenal di kota Surabaya.
''Ya memang sih, tetapi jika Soal pekerjaan masih bisa aku tinggal Ci, demi teman baik ku apa sih yang gak untuk kamu.'' Seru nya serius.
Bibir tipis Ciara melengkung ke atas, hati nya menghangat. Mendengar pengakuan dari teman baik nya itu yang selalu mengerti kondisi nya dari dulu hingga sekarang ini.
''Terima kasih, kamu selalu ada untuk ku.'' Ucap Ciara lirih, tak terasa kedua mata nya mengembun ingin menangis.
...****************...
Menatap penuh harap gelas kosong yang baru saja isi nya dia minum. Kemudian beralih wadah botol mini yang masih berada di genggaman nya. Tertera merek Penyubur kandungan, di label botol tersebut.
__ADS_1
''Obat ini terlalu keras Ci, apa kamu serius ingin meminum obat ini. ? Apa lagi obat ini tidak di jual secara bebas, di tambah kamu minum nya tanpa resep dokter yang jelas. Aku takut________''
''Shutttt, Di sini ada aturan minum nya Tar, kamu jangan terlalu khawatir soal dosis nya.'' Memutar bola mata nya malas. ''Jangan berlebihan deh, semua ini akan baik-naik saja. Dan aku berharap dengan obat ini.'' Menunjukkan obat yang berada di tangan nya ke udara.
''Bisa membuat aku cepat hamil.'' Lanjut nya dengan penuh keyakinan.
''Tapi_____''
''Udah, ini uang nya beserta tips untuk mu.'' Menyodorkan satu Amplop berisi uang. ''Aku harus pulang, sebentar lagi waktu nya makan siang.'' Pamit nya berlalu keluar dari apotek tersebut.
Ciara menghela nafas panjang dengan kedua mata nya terpejam.
''Ma.'' Panggil Kila yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Ciara. Menggenggam jemari Mama nya yang bebas, dengan kepala mendongak ke atas. ''Lihat bola ku yang berwarna merah gak, seperti nya tadi masuk ke sini.'' Celingukan kanan kiri yang terus mencoba mencari bola nya yang menggelinding masuk ke dalam kamar Mama nya.
Ciara menggeleng pelan, memasukan botol mini yang dia pegang ke dalam laci. ''Mama gak lihat sayang, coba deh, Mama bantu cari bola milik Kila. Sebentar, Mama hidupkan dulu lampu nya.'' Menghampiri saklar lampu kamar nya yang berada di samping pintu.
Klik, ''Ini dia bola nya. '' Seru Ciara mengambil bola yang berwarna kuning yang tak jauh dari dirinya berdiri. ''Panas-panas gini Kila mau main bola nya di mana sih.'' Tanya nya sambil memberikan bola tersebut dan di sambut Kila tersenyum lebar.
__ADS_1
''Di teras belakang Ma, Kila jenuh main di dalam kamar terus.'' Ungkap nya jujur.
Ciara mengangguk mengerti, ''Ya udah, Kila main bersama Mama di teras belakang, bagaimana, Kila mau. ?'' Tawar sekaligus mengajak.
''Mau Ma.'' Pekik Kila begitu senang.
''Ya udah, yuk kita turun.'' Menggandeng tangan mungil putri nya turun ke bawah.
...****************...
Sore hari nya, mobil Galen sudah stand By di depan Florist Ola Jaya, tempat istri kedua nya bekerja. Galen berusaha mendekati istri nya dengan cara mengantar atau menjemput istri nya bekerja. Meskipun tadi pagi diri nya tak mampu mengantar istri nya bekerja karena masih sakit. Dan sore ini dia berusaha menjemput sang istri meskipun tubuh nya masih lemas.
Berulang kali menghela nafas panjang, sorot mata nya tak lepas dari pintu Florist Ola Jaya. Sesekali melirik arloji di pergelangan sebelah tangan kanan nya.
Galen mendesah pelan, ''Hahh, hampir jam lima, kamu belum keluar juga. Apa perlu aku masuk ke dalam ya.?'' Gumam nya.
Tak selang lama, pintu Florist Ola Jaya terbuka dan keluar lah orang yang sejak tadi Galen tunggu. ''Akhir nya kamu pulang juga.'' Ucap nya, mencoba bergerak turun dari mobil nya dan segera menghampiri istrinya.
__ADS_1
''Vi.'' Panggil Galen usai sampai, dan perlahan mendekati istri nya yang sedang melangkah bersama teman nya.