Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P 85


__ADS_3

Empat bulan berlalu.


Taubat pun harus dilakukan dengan penuh kesungguhan.


Setiap manusia tak pernah luput dari dosa. Namun, Tuhan yang Maha Kasih selalu memberikan kesempatan bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat.


Dengan segala rahmat-Nya, pintu taubat pun senantiasa terbuka. Maka, jika merasa diri berbuat salah, sebaiknya segeralah memohon ampun agar hati menjadi tenang.


Jadikan tobat bukan hanya untuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan, tapi juga untuk kewajiban yang belum kamu tunaikan.


Vio merapikan mukena nya, setelah dia pakai. Menyimpan di lemari kecil yang sudah di sediakan oleh pihak kantor polisi.


Vio juga sudah berhijab, menutup aurat nya dari atas sampai bawah. Dia juga sangat bersyukur, ada nya Lisa yang selalu berada di samping nya selama empat bulan ini. Mampu memberikan nilai positif untuk diri nya berubah menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti.


Lisa juga tak pernah bosen memberi semangat dan juga dukungan sekaligus bimbingan untuk diri nya, dari segi apa pun itu. Dengan hal begitu, kesabaran Lisa kini sudah berhasil membuat diri nya berubah lebih baik lagi dari sebelum nya.


Menutup aurat hukumnya adalah wajib karena sudah dijelaskan oleh Allah SWT secara dhahir dalam Firmannya yang terdapat dalam surah al-ahzab ayat 33.


Dengan perjalanan nya waktu, Vio mulai nyaman dengan keadaaan nya yang tinggal di balik jeruji besi. Dia juga membenarkan, jika kita berdamai dengan masa lalu atau berdamai dengan keadaan, jalan kehidupan kita lebih mudah untuk di lalui.


''Sudah selesai kan. ?'' Tanya Lisa yang baru selesai berwudhu.


''Sudah.'' Sahut Vio cepat dengan tersenyum.

__ADS_1


''Kini giliran aku. ''


Vio mengangguk cepat, ''Iya, silakan.''


...****************...


Di tempat yang berbeda, Arsen memicu mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Ada perasaan takut dan juga khawatir, sekaligus iba melihat sang istri meringis kesakitan.


''Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.''


''Ssstt sakit Mas. '' Lirih Eva memegang perut nya.


Tit


Tit


Arsen menekan klakson mobil nya berulang kali, jika ada sebuah mobil di depan mobil nya saat ini. Karena dia tidak ingin istri nya itu merasakan sakit perut nya terlalu lama.


Tak selang lama mobil Arsen sudah tiba di depan IGD Rumah sakit. Dengan terburu-buru Arsen turun, berlalu segera menuju pintu samping istri nya duduk.


''Aku gendong.'' Ucap Arsen dan di angguki cepat oleh istri nya.

__ADS_1


''Dokter, Dokter cepat tolong istri ku yang mau melahirkan. !'' Pekik Arsen melangkah masuk ke dalam IGD.


''Letakan di atas sini Pak. '' Perintah seorang suster wanita mendorong brankar ke arah Arsen melangkah.


Dengan hati-hati Arsen meletakan tubuh istri nya di atas brankar.


Cup, ''Aku yakin sayang , kamu pasti kuat.''


''Baik Pak, Sus cepat masukan ke dalam ruang persalinan. ''


''Baik Dok.'' Mendorong brankar pasien menuju ruang persalinan, dan di ikuti oleh Arsen sekaligus sang Dokter kandungan yang akan membantu pasien melahirkan.


''Mohon maaf Pak, sementara bapak tunggu dulu di luar. Biarkan sang Dokter mengecek pembukaan istri bapak sudah berapa.'' Cegah Suster wanita di depan pintu ruang persalinan.


''Tetapi Sus, Aku harus berada di samping istri ku.'' Tolak Arsen yang tidak setuju, jika dia di larang masuk.


''Iya Pak saya mengerti, Ini hanya sementara saja. Biarkan sang Dokter memeriksa kondisi istri bapak terlebih dahulu.'' Jelas sang Suster.


''Baiklah Sus, tolong kasih tau sama Dokter nya, berikan penanganan yang terbaik untuk istri ku.'' Putus Arsen.


''Iya Pak, biar nanti saya sampaikan.'' Sahut sang Suster seraya menutup pintu ruang persalinan.


Arse membiarkan pintu ruang persalinan tertutup rapat tanpa dia ikut masuk ke dalam. ''Ya Tuhan, selamatkan istri dan juga bayiku.'' Doa Arsen di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2