
🍁🍁🍁
"Kenapa bengong?" Tanya Lukas kemudian melihat ke Salma. "Gak dengar istriku barusan nanya." Sambungnya mengusap bahu Salwa yang ia rangkul.
"Aku dengar kamu menghilang saat kalian honeymoon." Jawab Salma menatap Luhan penuh perasaan. "Jadi suku kesini cuma mau memastikan kabar yang beredar." Jelasnya.
"Enggak kok." Sahut Lukas. "Lagian menghilang atau tidak itu bukan urusan kamu juga kan?" Cibir Lukas membuat Salwa mencubit lengan Lukas dari belakang.
"Aaw!" Desis Lukas melihat ke Salwa. "Sakit Sayang." Keluh Lukas yang kemudian mengecup pipi Salwa. "Gak usah ngambek gitu dong." Menempelkan pipinya pada Salwa. "Kita bisa lanjutin sisanya nanti malam,Hm!" Menarik pipinya melihat Salwa yang memukul-mukul kecil punggungnya dari belakang.
"Emang kalian lagi ngerjain apa?" Tanya Salma yang mendapat tepukan dari Madam Vero.
"Apaan sih Madam!" Sahut Salma.
"Non Salmanya yang apaan? Pakai nanya lagi ngerjain apa segala." Melihat ke Lukas dan Salwa dengan senyum-senyum. "Namanya juga pengantin baru Non yaa pasti lagi kerja buatin cucu buat Tuan dan Nyonya besar." Jelasnya sambil menutup mulutnya yang kini tertawa kecil.
"Madam Vero tau aja!" Sahut Lukas yang kini menarik Salwa berdiri didepannya. "Doain ya supaya disegerakan." Pinta Lukas menjulurkan kedua tangannya ke depan memeluk Salwa dari belakang. "Iya kan sayang?" Menepatkan tangannya diperut Salwa.
"Iya suamiku sayang." Mengusap rambut Lukas di depan Salma yang kini mengepalkan tangannya menahan amarah melihat kemesraan keduanya.
"Madam bawakan aku jus dengan es yang banyak." Pinta Salma yang kemudian berbalik badan membelakangi keduanya.
"Baik Non." Sahut Madam Vero.
"Sekalian buat kita juga ya Madam." Sambung Salwa. "Kamu mau jus apa sayang?" Tanya Salwa pada Lukas.
"Pilihan kamu." Jawabnya membuat Salma meninggalkan mereka dengan meneruskan langkahnya.
"Madam!" Panggil Salwa. "Minumannya bawa ke meja yang ada di teras samping menghadap taman ya." Pinta Salwa.
"Baik Non."
"Sayang aku kedalam dulu ambil sisa makanan tadi buat dibawa kedapur ya." Ucap Salwa berbalik badan melepas tangan Lukas dari perutnya.
"Kau tak mau aku ikut membantu." Bisik Lukas membuat Salwa melayangkan tinjuan yang hampir sedikit lagi mengenai luka Lukas.
Dasar! Umpat Lukas yang kemudian menyusul Salma menuju teras samping yang membuatnya lagi-lagi merasakan perasaan sama. De Javu.
Kenapa di kepala ini tiba-tiba ada ingatan seperti ini. Batin Lukas yang menghentikan langkah saat mengikuti Salma. Ia melihat seorang anak duduk di depan piano yang berada di ruangan tempat Lukas kini berdiri. Anak dengan wajah yang mirip dengan di bingkai foto yang ia lihat tadi malam.
__ADS_1
"Aaw!" Desis Lukas menangkup kepalanya yang kini melihat anak di depan piano memanggil seorang didepannya.
"Luhan!" Panggil Salma pada Lukas yang kemudian membuka matanya dan melepaskan tangannya dari kepala. "Apa kau sakit?" Tanyanya lagi sementara Lukas menengakkan kepalanya dan menatap piano dan ruangan yang ada didepannya.
Apa aku pernah ada disini jauh sebelum Aku bertemu dengan Alex dan---. Batinnya terjeda sesaat tangan melingkar memeluk tubuhnya dari belakang.
"Luhan,Aku merindukanmu." Ucap Salma mengeratkan pelukannya.
"Hei!" Melepas tangan Salma dari pinggangnya. "Apa yang kau lakukan?" Berbalik dan menjaga jarak dengan Salma.
"Luhan ada apa denganmu?" Tanya Salma yang kembali menghamburkan diri memeluk Lukas dari depan. "Apa Salwa jauh lebih hebat diranjang dari padaku?" Menengadah wajah keatas melihat Lukas yang mengernyitkan alisnya.
"Bu-bukan." Jawab Lukas sedikit gugup sambil melepas tangan dengan menarik dirinya dari dekapan Salma.
"Lalu kenapa kau bertingkah seperti ini padaku?"
"Salwa ada disini pakai otakmu untuk berpikir." Jawab Lukas menyadarkan Salma wanita yang begitu terang-terangan ingin menunjukkan pada Salwa bahwa ia memiliki hubungan dengan Luhan sebenarnya.
"Luhan bisa-bisanya kau berkata kasar seperti itu padaku." Keluh Salma. "Kau bahkan tidak minta maaf setelah bermesraan-mesraan dengan Salwa didepanku." Sambungnya.
Hei ******! Kenapa Luhan harus minta maaf padamu saat bermesraan dengan istri sahnya? Gak benar nih cewek. Batin Lukas yang kemudian menarik Salma ke teras samping.
"Oke! Aku minta maaf." Ucap Lukas melanjutkan aktingnya sebagai Luhan. "Aku minta kerja samanya,Hm!" Menangkup kedua tangan Salma dan membungkukkan sedikit tubuhnya membuat wajah keduanya sejajar berhadapan. "Salwa dan lainnya ada disini." Sambungnya lagi saling menatap satu sama lain.
"Eh?!" Sahut Lukas bingung.
Mampus! Batin Lukas selang detik kemudian. Ia baru ingat bahwa warna bola mata miliknya dan Luhan berbeda.
"Apa kau pakai soft lens?" Tanya Salma membuat Lukas menarik wajahnya dari hadapan Salma bersamaan dengan cengkraman di kedua tangan Salma.
"Soft lens?" Sahut Lukas yang kemudian perlahan menganggukkan kepalanya.
Baguslah dia berpikir aku pakai softlens. Batin Lukas melihat seksama wajah Salma yang tak memiliki kemiripan dengan Salwa.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tegur Salwa yang tiba-tiba muncul di ikuti oleh pelayan dari belakang. "Jusnya kasih di meja aja." Pinta Salwa pada pelayan. "Makasih." Lanjutnya kemudian yang dibalas anggukan kepala dari pelayan pergi meninggalkan ketiganya.
"Aku hanya bertanya kenapa dia memakai softlens." Jawab Salma menarik kursi untuk duduk.
"Ah itu." Melihat ke Lukas. "Kami barusan mencobanya dan Aku hampir lupa membantunya melepaskan." Jelas Salwa yang kursi dan mempersilahkan Lukas duduk tepat disebelahnya menghadap Salma.
__ADS_1
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari Om dan Tante?" Tanya Salma yang kemudian menoleh ke arah keduanya.
"Gak ada." Jawab Salwa dan Lukas kompak menjawab hingga keduanya saling melihat satu sama lain.
"Kalian mungkin bisa menyembunyikannya dari Tante dan Om tapi dari aku mana mungkin." Ucap Salma melihat keduanya bergantian.
"Apa maksudmu kak?"
"Satu Minggu sebelum Tante menyusul kalian ke Bali." Jawab Salma. "Luhan mengalami kecelakaan bukan?" Melihat keduanya.
"Enggak kok." Jawab Salwa sementara Lukas mengernyitkan alisnya.
"Gak usah menyangkal Aku tahu apa yang terjadi itu kenapa aku terus menghubungi Lu---"
"---Bagaimana kau bisa tahu?" Potong Salwa dengan sorotan tajam pada Salma membuat Lukas bertopang dagu menatap pesona Salwa. "Apa kau mengikuti kami?" Tanya Salwa membuat Salma tak berani mengeluarkan sepatah katapun. "Heh!" Cibir Salwa. "Apa kau berencana berganti posisi denganku untuk melayani Luhan?" Meletakkan ponsel Luhan dengan keras di atas meja membuat Salma tak berkutik sedikit pun.
"A-apa yang ka-kau katakan Salwa?" Tanya Salma gagap.
"Berhenti mengelabuiku Kak!" Sahut Salwa.
"Aku sama sekali tidak mengerti yang kau katakan." Ucap Salma.
"Haruskah Aku memutar rekaman dirimu yang sedang bersetubuh dengan Luhan dalam ponsel ini?" Tegur Salwa memberi tahu apa yang telah ia lihat mengagetkan Salma dan Lukas.
Gila! Apa mereka sudah sampai ditahap itu di belakang Salwa? Aish! Menjijikkan sekali. Batin Lukas melihat Salma yang terpojok sendirian.
"Salwa dia yang telah menggodaku lebih dulu." Tuduh Salma menunjuk Lukas yang sama sekali tidak tahu menahu. "Kamu tahukan dari awal perjodohan itu ditunjukan padaku. Tapi aku menolaknya kamu juga tahu itu." Jelas Salma melakukan pembelaan dan melemparkan semu kesalahan pada Luhan yang masih terbaring koma. "Dia selalu datang menemuiku dan semua pun terjadi begitu saja." Tambahnya mencoba menyakinkan Salwa.
"Jika dia yang menggodamu kenapa kau memeluknya tadi." Sahut Salwa yang melihat kejadian sebelumnya saat ia ingin menghampiri Lukas yang kesakitan sambil menangkup kepalanya.
"Tadi itu hanya sebuah perpisahan diantara kami." Ucapnya. "Aku tidak ingin Luhan datang padaku disaat kalian telah resmi menjadi suami istri itu saja." Jelasnya yang masih menyalahkan Luhan.
"Kalau begitu mulai detik ini Kak Salma jangan pernah muncul dihadapan kami berdua." Ucapnya.
"A-Apa?"
"Apa kau ingin aku mengulanginya?" Cibir Salwa. "Penjaga!" Panggil Salwa membuat penjaga yang sudah siap sebelumnya datang menghampiri mereka. "Seret wanita tidak tahu diri ini keluar dari kediaman Kardinata." Perintah Salwa yang menggerakkan penjaga menarik Salma keluar dari kursi.
"Salwa, bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku?" Tanya Salma yang diseret dua penjaga. "Dasar anak pungut tak tahu diri kamu,Salwa!" Teriak Salma yang dibawa keluar oleh pengawal. "Lihat aku akan membalaskan penghinaan ini."
__ADS_1
"Aku bukan adik kandungnya." Ucap Salwa melihat pada Lukas yang menatap padanya.
🍁🍁🍁