Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
56. Sebuah harapan


__ADS_3

🍁🍁🍁


Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Lukas kalau inisial L pada liontin ditangannya adalah identitas aslinya sejak awal. Lukas juga mengingat bagaimana Alex yang berusaha menemukan keluarganya karna tak ingin melihat kecerdasannya terkubur dalam pasar gelap. Namun ketulusan dan kepedulian Alex malah menghantarkannya pada maut.


Hari mulai gelap, Lukas membawa helai rambut Luhan bersamanya menuju laboratorium untuk melakukan tes DNA. Sembari menunggu Lukas mencoba menghubungi David dan Rose namun nomor keduanya tidak aktif.


"CK,Kemana mereka sebenarnya pergi?" Tanya Lukas menyandarkan kepalanya ke didinding. Ia duduk menunggu hasil laboratorium keluar. "Berdasarkan apa yang dikatakan Valen sebelumnya hari itu Yohan membantu Valen dan putranya menculikku." Desisnya menatap langit-langit rumah sakit. "Kenapa Aku sama sekali tak bisa mengingat kejadian hari itu?" Tanya Lukas pada dirinya. "Mungkinkah kepalaku terbentur sangat keras atau Dafa menyuntikkan sesuatu padaku agar tidak bisa mengingat siapa diriku dan kejadian yang menimpaku terakhir kali." Pikirnya yang kemudian mendapat panggilan dari petugas laboratorium.


"Ini hasilnya Pak." Ucap petugas memberikan amplop putih pada Lukas.


"Terimakasih." Sambut Lukas membawa ampolop tersebut ke kursi tempat ia menunggu sebelumnya.


Srekkk! Suara Lukas menarik secarik kertas dari dalam amplop. Lukas melihat presentase hasil tes menyatakan ia dan Luhan (Yohan) adalah saudara kandung.


"Harusnya aku melakukan ini lebih awal." Ucap Lukas mengingat saat pertama kali melihat foto dengan wajah dirinya tergantung pada dinding kamar pengantin. "Yohan telah melakukan begitu banyak untukku." Beranjak dari kursi. "Ia bahkan rela hidup dengan namaku dan menghilangkan jati dirinya selama ini." Melangkah keluar meninggalkan rumah sakit dengan amplop putih di tangannya. "Kini saatnya bagiku melakukan sesuatu untuk dirinya." Membuka pintu mobil dan kembali ke apartemen dimana Salwa sedang menunggunya.


"Dia sebenarnya kemana sih?" Tanya Salwa yang mondar mandir sambil melihat jam dinding di ruang tamu. "Apa dia pergi mengunjungi Luhan tanpaku?" Berhenti sejenak menatap ponselnya yang tergeletak diatas meja. "Haruskah aku menanyakannya pada Zack," meraih ponselnya. "Tapi bagaimana kalau dia tidak kesana dan Zack memberitahunya sewaktu-waktu." Meletakkan kembali ponselnya. "Dia pasti berpikir aku tidak mempercayainya." Melihat makan malam yang telah dia buat untuk Lukas sejak sore tadi. "Makanannya bahkan udah dingin." Melangkah kearah meja makan. "Dia tidak akan meninggalkanku sendiri kan disini karna responku yang tampak tak ingin tidur disini dengannya." Duduk sambil menoleh ke pintu menanti kepulangan Lukas yang dua jam kemudian tiba di basemant. Ia merobek hasil tes DNA dan membuang potongan kertas itu pada tong sampah saat dirinya berdiri didepan lift. Lukas tak ingin Salwa mengetahui kalau dirinya adalah Luhan sebenarnya. Kebenaran itu hanya akan membuat wanita yang dicintainya itu kaget karna telah mempersuami anak kembar sekaligus.


Klekk! Suara Lukas membuka pintu setelah tiba di unit apartemen milik Yohan. Ia mendapati Salwa tertidur di meja makan bersama makan malam yang disiapakan untuknya. Lukas melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ia melepas jasnya dan memberikannya pada Salwa sambil meninggalkan kecupan diujung kepalanya.


Setengah jam berlalu usai Lukas menghabiskan makan malam yang telah dibuat oleh Salwa untuknya, ia menggendong Salwa dan membaringkannya di ranjang.


"Eh," suara Salwa terjaga dalam tidurnya dengan kedua mata terbuka. "Kamu---" Ucapnya terjeda melihat Lukas menatap padanya dengan kedua lengan menopang di atas ranjang.

__ADS_1


"---Apa masih sakit?" Tanya Lukas yang kemudian menarik salah satu tangannya mengelus wajah Salwa.


"Lumayan," sahut Salwa. "Kenapa pulang begitu larut?" Tanya Salwa menggapai jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan Lukas.


"Kenapa?" Balas Lukas. "Apa kamu merindukanku?" Sambungnya menggoda Salwa yang kini dengan wajah merona.


"Bukan," tepis Salwa melepaskan tangannya dari pergelangan Lukas. "Aku hanya bertanya." Memiringkan tubuh dengan membelakangi keberadaan Lukas.


"Benarkah?" Tanya Lukas naik ke ranjang dengan merebahkan dirinya di samping Salwa.


"Ya," sahut Salwa membuat suasana diantara mereka menjadi hening. Lukas meletakkan tangannya di kening sambil menatap langit-langit kamar. Sesekali ia menurunkan pandangannya pada Salwa yang masih memunggunginya.


"Salwa," panggil Lukas selang beberapa detik kemudian sambil memiringkan tubuhnya menghadap Salwa.


"Ya,"


"Apa?" Sahut Salwa berbalik badan."Kenapa baru memberitahunya sekarang?" Bentak Salwa menjulurkan kakinya ke lantai.


Aku tahu di hatimu hanya ada Yohan. Batin Lukas.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Lukas bangkit terduduk di ranjang melihat Salwa membuka lemari dan melepaskan gaun tidur ditubuhnya begitu saja.


"Beritahu aku kemana sekelompok orang itu membawa Luhan pergi." Jawab Salwa dengan nada dingin tanpa menoleh pada Lukas yang hanya bisa terdiam membisu menatap tubuh indah Salwa dengan bra dan g-string hitam.

__ADS_1


"Ronal akan mengirimkan alamatnya besok pagi." Ucap Lukas bangkit berdiri menyusul keberadaan Salwa yang kini mengenakan celana jeans-nya. "Kita akan pergi bersama," Sambungnya memutar tubuh Salwa menghadap padanya. "Aku akan menggunakan seluruh kemampuan yang ada untuk membawa Luhan padamu." Tambahnya menyakinkan Salwa dengan dada yang semakin sesak menahan kenyataan bahwa tidak ada dirinya dihari wanita yang dicintainya.


"Makasih Lukas," sahut Salwa memeluk Lukas.


"Ya," balas Lukas dengan menangkup wajah Salwa kemudian meraup bibirnya penuh perasaan. Di teruskan oleh kedua tangan Lukas yang kini turun melepas kaitan bra dengan bibir menjalar pada lekuk leher Salwa.


Bug! Suara keduanya jatuh di atas ranjang dengan bibir yang saling memagut.


"Ooouuwwhh," lenguh Salwa selang beberapa menit kemudian dengan wajah menengadah di atas ranjang. "Ooouugghhh," sambungnya lagi dengan seluruh jemari menarik rambut di kepala Lukas yang berada di antara pusat tubuhnya. Sesekali Lukas mendongakkan kepalanya sesaat tubuh Salwa oleh pemainannya.


Cup!cup! Cup! Suara kecupan bertubi-tubi menelusuri perut hinggga bibir Salwa yang menganga. Tangan gemulai melingkar di leher Lukas dengan nafas terengah-engah.


"Lukas," desisnya menatap Lukas yang terus menghujaninya tanpa henti dengan deru nafas dan keringat yang membasahi sekujur tubuh mereka.


"Ya," sahut Lukas melepas rangkulan tangan Salwa dilehernya. "Kenapa?" Tanyanya menempatkan kedua tangan Salwa diranjang dan menekannya.


"Kita masih akan bertemu kan," ucap Salwa. "Meski Luhan nantinya kembali," lanjutnya membuat Lukas menarik tubuh Salwa untuk duduk diantara kedua pahanya.


"Apa kamu ingin menjadikanku simpananmu?" Tanya Lukas menangkup wajah Salwa sambil terus menggerakkan pinggulnya membenamkan pusakanya pada Salwa.


"Bukan," jawab Salwa memeluk Lukas. "Berjanjilah padaku untuk tidak menghilang dari pandanganku," mengeratkan pelukannya dan merasakan sesuatu yang hangat mengalir masuk ke tubuhnya. "Apapun yang terjadi nanti." Pintanya dalam kehangatan yang membawa sebuah harapan untuk Lukas akan keberadaanya di hati Salwa.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2