Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus156


__ADS_3

Saling menatap antara satu sama lain usai kepergian Vio. Berpikir sejenak secara positif, jika Vio tidak lagi mencoba menghindari dari kami semua.


Sebagai kepala keluarga, Papa Shidiq menghela nafas panjang sambil berpikir kata yang akan di ucapkan. ''Hmm, mungkin dia lagi ada urusan yang sangat penting dengan Lisa. Toh, Lisa selama ini lah yang telah merubah Vio menjadi lebih baik lagi dari sebelum nya.'' Berpikir positif thinking, dari pada suudzon yang belum pasti.


''Iya, aku juga ikut setuju apa yang di katakan Papa. ?'' Timpal Eva.


''Ya udah, habiskan makan malam nya, dari pada mubazir. Nak Arsen ambil lagi lauk nya sama nasi nya jangan sungkan-sungkan.'' Tawar Papa Shidiq di akhir kalimat ia terkekeh geli.


''Papa gak perlu khawatir, nanti lauk nya aku bungkus buat sarapan pagi. Tinggal hangatkan kembali dengan Microwave, udah tinggal makan, mudahkan.'' Sahut nya enteng tanpa beban. Hal becanda dengan mertua nya itu tidak hal baru lagi. Bagaikan makan nasi sehari tiga kali.


...****************...


Baru saja membuka aplikasi whatsapp, sudah ada satu tanda di nomer baru membuat Vio mengerutkan dahi.


''Datang ke hotel atau aku yang datang ke rumah kamu.''


Begitu lah isi pesan dari Galen setelah Vio baca, yang di kirim sekitar dua jam yang lalu.


''Ini mah bukan pilihan tetapi perintah mutlak.'' Gerutu nya, sambil mengetik untuk membalas nya.


Sedangkan di sisi tempat Galen berada, Galen baru saja selesai vidio call bersama dengan istri pertama beserta dengan putri nya, Kila.

__ADS_1


Ting, dering sebuah pesan masuk ke dalam ponsel yang tergeletak di atas ranjang.


Baru saja di matikan lalu di letakkan di atas ranjang, dengan jemari bergerak mencoba meraih jas yang berada di atas sofa.


Memakai jas sejenak sebelum membuka pesan tersebut.


Pesan Vio.


''Ini sudah terlalu malam untuk pergi ke Kota Surabaya tuan Galen.''


Isi pesan Vio membuat Galen tersenyum tipis, menggeleng tak percaya atas ke tidak peka an istri nya itu atau istri nya itu sedang berpura-pura bodoh.


''Aku tunggu satu jam dari sekarang, jika kamu belum sampai. Siap-siap saja, kalau aku ,Alister Galen Pratama suami kamu akan berdiri di depan pintu rumah kamu malam ini juga.'' Balas nya.


Menekan keras otak nya, supaya ide cepat ia dapatkan. Namun, semua itu hanya sia-sia. Berulang kali mendesah pelan ketika tidak mendapatkan solusi nya. ''Ck, nasib kamu selalu tidak beruntung Vio.'' Menjambak rambut nya frustasi, Ingat, jika Vio berada di dalam kamar atau hendak akan tidur. Vio selalu melepas kerudung yang ia pakai.


Rambut hitam legam setengah bahu di biarkan terurai bebas. Menambah poin kecantikan yang Vio milik yang selama ini benar-benar di rawat.


''Ok, kamu harus hubungi dia minta alamat hotel nya yang jelas. Atau kamu harus memastikan sesuatu yang sedang kamu pikirkan saat ini. Benar tidak nya, kalau suami kamu benar-benar ada di kota J atau tidak.'' Monolog Vio sendiri.


Durasi penggilan tersebut tidak lah lama, apa yang di pikirkan oleh Vio ternyata benar. Kalau Galen suami nya itu ternyata benar-benar berada di hotel mewah di kota J. Bahkan, suami nya itu mulai berani mengancam nya dengan membeberkan pernikahan sebelah pihak yang sudah terjadi.

__ADS_1


''Benar-benar menyebalkan. '' Umpat Vio di dalam hati.


''Lalu, alasan apa yang harus aku kasih ketika di tanya.? Apa lagi aku baru saja sampai di rumah.?''


...****************...


''Oh, Mama dan Papa, apa yang telah aku lakukan? Tolong maafkan aku, karena telah berbohong kepada kalian berdua.'' Mohon Vio di dalam mobil taksi, yang sedang melaju menuju alamat hotel yang suami nya tadi sebutin.


Mobil taksi mulai mengurangi kecepatan, sebelum berbelok ke sisi kiri dengan sang supir sambil memastikan kembali alamat yang tadi Vio sodorkan.


''Ini langsung masuk, atau neng turun di sini.?'' Tanya sang supir taksi.


''Benarkan Pak, ini hotel nya.?'' Bukan nya menjawab melainkan memajukan pertanyaan yang lain. Pasal nya, bangunan yang tertulis nama Kencana di depan ini benar-benar mewah yang menjulang tinggi di antara jajaran bangunan yang lain nya.


Vio yang notabene lahir di kota J hingga tumbuh sedewasa ini belum pernah mendatangi hotel semewah ini.


Hingga akhir nya Vio di seret kembali ingatan nya di masa saat berselingkuh dengan Juan. Namun, hanya perbedaan hotel yang mereka sewa.


Mengingat masa itu,Vio berulang kali menyebut kalimat istigfar.


Sang supir mengangguk yakin. ''Benar neng, ini alamat yang tadi neng sodorkan.'' Jawab nya, seketika Vio menoleh ke supir taksi.

__ADS_1


''Baiklah, kalau begitu saya turun di sini saja.''


Usai membayar, mobil taksi tersebut melaju pergi, sedangkan Vio mulai melangkah memasuki area hotel tersebut.


__ADS_2