
🍁🍁🍁
Kedua lengan yang menopang tubuh terkulai lemas dalam sentuhan yang merasuki jiwa Salwa. Perlahan tubuhnya jatuh di atas ranjang bersamaan dengan kedua tangannya. Lukas menangkup pergelangan tangan dan menekannya pada ranjang lalu membungkam bibir Salwa dengan bibirnya.
"Eeemmhh." Hisap dalam Lukas penuh dengan kelembutan pada lidah Salwa yang telah berpindah masuk menjelajahi mulutnya. Ia membelitnya didalam membuat Salwa yang merupakan pemula dalam berciuman hanya pasrah mengikuti ritme Lukas. Ritme yang membuat Salwa hilang kesadaran bahwa dirinya sedang bercumbu dengan Pria yang bukan suaminya itu.
Tangan Lukas menyusup dari bawah gaun tipis yang di kenakan Salwa. Perlahan jemari itu menjulur di atas kulit mulus hingga naik keatas menggapai kain tipis yang menutup pusat tubuh Salwa. Jari itu menyelinap ke sela-sela kain menyentuh sesuatu yang membuat Salwa terjaga. Matanya terbelalak dengan menengadah ke atas. Ia mendorong Lukas hingga membuat bibir yang sebelumnya saling memagut terlepas.
"Kena---"
---Plakk! Potong Salwa dengan tamparan yang melayang di wajah Lukas.
"Kau----" Ucap Lukas terjeda menangkup pipinya yang tertampar sambil menatap Salwa. "---Heh!" Sambungnya menghela nafas dengan menekuk wajahnya mengalihkan pandangan dari Salwa yang juga membuang muka padanya. "Maaf." Ucapnya beranjak dari atas tubuh Salwa. Ia berbalik badan melangkah menuju kamar mandi.
Bam! Suara Lukas menutup pintu mengagetkan Salwa yang kemudian melihat pantulan dirinya di depan cermin.
"Salwa, Pria itu bukan suamimu." Tegur Salwa pada pantulan dirinya yang berantakan di cermin. "Kamu tak boleh melakukan itu dengannya." Memeluk dirinya yang hampir saja menyerahkan kehormatan pada Lukas. "Kamu menjijikan Salwa." Cibir Salwa pada dirinya sambil memperbaiki tali gaunnya yang melorot dan menurunkan gaunnya yang tersibak keatas.
Di waktu bersamaan Lukas membasahi tubuhnya dibawah shower yang menyala. Semburan air berhasil mendinginkan kepala dan menidurkan miliknya yang menegang oleh Salwa sebelumnya. Selang beberapa menit kemudian Ia merendamkan tubuhnya pada bathtub yang telah diisi oleh air hangat sambil menunggu Salwa benar-benar tidur.
cit cut cit! Suara kicau burung yang hinggap pada meja yang berada di kolam renang. Salwa menggeliat di bawah bed cover yang menutupi seluruh tubuhnya mendengar kicauan. Perlahan ia membuka kedua matanya sambil mengintip keberadaan Lukas di sampingnya.
"Dia udah bangun?" Tanya Salwa yang tak melihat keberadaan Lukas. "Aku harus minta maaf soal kejadian tadi malam." Sambungnya beranjak dari ranjang.
Hoam! Suara Salwa menguap berjalan ke arah kamar mandi dengan kedua tangan yang di rentangkan ke atas.
Satu jam kemudian, Salwa keluar dari kamar sambil mengecek ponselnya.
"Huh!" Keluhnya yang tidak menerima pesan apapun dari Indri dan Zack terkait perkembangan Luhan. "Pada kemana?" Tanya Salwa yang tak melihat keberadaan Lukas dan lainnya di meja makan.
Krekk! Suara Salwa menarik kursi untuk sarapan. Ia menikmati potongan roti diatas piringnya sambil memperhatikan sekelilingnya yang begitu sepi.
__ADS_1
"Madam." Panggil Salwa yang tiba-tiba melihat Madam Vero keluar dari arah dapur.
"Iya Non Salwa." Sahutnya. "Ada apa?" Tanya Madam.
"Yang lain pada kemana?" Tanya Salwa yang kemudian meneguk susu di depannya.
"Tuan dan Nyonya besar pagi-pagi sekali udah pergi Non." Jawabnya.
"Luhan kemana?" Tanya Salwa meletakkan
"Tuan Muda pagi-pagi tadi juga udah berangkat Non." Jawab Madam. "Emangnya Tuan Muda gak kasih tahu Non Salwa."
"Kasih tahu." Sahut Salwa berbohong. "Kalau gitu Aku pamit dulu." Beranjak dari kursi meninggalkan Madam yang langsung sigap menghubungi seorang dari ponselnya.
"Halo Non Salma." Sambut Madam dari ujung telpon. "Ini Madam Vero." Melirik ke sekeliling.
"Ada apa Madam?" Tanya Salma melirik Raden dan Wulan yang sedang sarapan bersama di meja makan.
"Madam mau kasih tahu kalau pagi ini Tuan Muda pergi lebih awal tanpa Non Salwa." Ucapnya dari ujung telpon. "Penilaian Non tentang hubungan mereka yang baik-baik saja sepertinya salah." Sambungnya. "Yaudah Madam tutup dulu ya Non." Mengakhiri pembicaraan yang berhasil membuat Salma menyeringai tipis.
"Ehem!" Suara Raden berdehem pada Salma yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dalam dirinya. "Apa ada kabar baik dari mantan mertuamu itu?" Tanya Raden berhenti melanjutkan sarapannya dengan menarik tissue membersihkan bibirnya.
"Luhan pergi ke kantor tanpa Salwa." Jawab Salma yang mengolesi selai di atas rotinya.
"Apa dengan informasi itu kamu masih berpikir bahwa Luhan memilihmu?"
"Ayah, Aku sudah katakan berapa kali padamu sejak awal Luhan hanya mencintaiku seorang." Jawabnya sambil menikmati rotinya.
"Cinta! cinta!cinta!" Melempar remasan tissue ke atas piringnya. "Sampai sekarang kamu bahkan belum tahu dimana dia menyimpan seluruh berkas aset Emperal grup." Mendengus kesal.
"Semua butuh proses yah." Balas Salma. "Kalau aja Ayah gak menyetujui Luhan menjalin hubungan dengan Salwa! Mungkin semua yang Ayah inginkan sudah kita dapatkan lebih awal."
__ADS_1
"Oke ayah salah! Sekarang, apa rencanamu?"
"Membuatnya tidur." Jawabnya menyeringai miring dengan jemari lentik menggenggam gelas berisi wine.
"Kalau begitu lakukan apa yang harus kamu lakukan sisanya serahkan pada Ayah." Sahut Raden beranjak dari kursi. "Malam ini kita harus menangkapnya." Memakai jasnya berjalan meninggalkan meja makan diikuti oleh pengawalnya. Sementara itu Wulan yang berada disana dengan mereka hanya bisa diam membisu bersama alat perekam yang on dalam saku celananya.
Brooom! Suara mobil Raden bersamaan dengan proses pengiriman rekaman suara yang dikirim ke nomor tidak dikenal oleh Wulan. Ia menatap kepergian Raden dengan pengawalnya, disusul oleh mobil Salma yang datang mengikuti dari belakang.
Tap tap tap! Langkah kaki Wulan dengan kedua mata yang melirik ke sekitar dengan sangat waspada.
Tring! Suara notifikasi pesan baru masuk di layar laptop Bobi. Bobi kemudian meneruskan pesan baru pada kontak nomor Lukas.
Tring! Suara notifikasi pesan masuk pada ponsel Lukas yang di susul oleh dering panggilan masuk.
"Halo sayang." Sambut Salma dari ujung telpon pada Lukas yang memutar kursinya menghadap dinding kaca ruangan.
"Ada apa?" Sahut Lukas mengangkat sebuah foto jadul seorang di tangannya.
"Apa hari ini kamu sibuk?" Tanya Salma melihat sebuah dasi yang ada di samping kursinya.
"Ya." Jawab Lukas memperhatikan foto pemberian Bobi yang sedang merusak sistem keamanan di kediaman Raden dengan laptopnya. "Kenapa?" Memutar kursinya kembali ke depan bersamaan dengan kemunculan Salwa dari balik pintu.
"Aku ingin mengajakmu makan siang."
"Dimana?" Tanya Lukas sambil melihat Salwa yang balik menatap padanya. "Kamu bisa share lokasinya." Sambungnya membuat Salma kegirangan. "Sampai jumpa nanti." Lanjutnya sekaligus mengakhiri telponnya. "Bob!" Panggil Lukas mengantongi foto yang ia pengang sebelumnya ke balik jas.
"Ya Bos." Sahut Bobi.
"Kamu tolong wakilkan Saya untuk meeting siang nanti ya?" Perintahnya beranjak dari kursi. "Aku ada urusan di luar." Melihat ke Bobi. "Untuk dokumen yang perlu approval dari saya tolong nanti simpan di ruangan kamu." Melihat jam di pergelangan tangannya. "Saya belum tahu pasti apa bisa kembali ke kantor setelah urusan selesai." Memasukkan kedua tangannya disaku dan berjalan ke arah Salwa.
"Lukas!" Panggilnya pelan. "Aku mau bicara mengena---" Desis Salwa terputus oleh Lukas yang melewati keberadaannya tanpa menolah pada dirinya sedikit pun.
__ADS_1
Bam! Suara pintu tertutup kencang membuat Salwa,Jily dan Bobi terkaget.
🍁🍁🍁