
🍁🍁🍁
Di bawah langit yang bertabur bintang Lukas dan Salwa duduk di tepian paviliun dengan menempatkan kaki telanjang mereka ke dalam kolam yang dipenuhi oleh beragama ikan koi. Lukas tak mengatakan apapun mengenai Fero yang ia ketahui pada Salwa. Sebaliknya Salwa menceritakan hubungannya dengan Fero pada Lukas.
"Kamu tak membencinya?" Tanya Lukas pada Salwa yang menceritakan hal yang sama dengan apa yang pernah ia dengar dari Fero. "Bagaimana pun ia sama sekali tak datang menemuimu sampai sekarang?" Sambungnya.
"Aku merindukannya." Jawab Salwa menutup wajah dengan kedua tangan yang kini basah oleh air matanya.
"Untuk apa menangisi Kakak seperti itu." Protes Lukas. "Dia hanya tahu cara meninggalkanmu." Tambahnya berusaha mengurangi kerinduan yang hanya membuat wanita itu menangis sesenggukan. "Sudahlah!" Menarik Salwa mendekap di dadanya. "Jangan membuang-buang tenagamu menangisi orang yang sama sekali tidak memikirkanmu." Mengusap lembut punggung Salwa membuat Salma mengepal tanganya dan menggertakkan giginya melihat romansa suami istri itu dari jauh.
Krekk! Suara Salma menarik kursinya setelah kembali dari halaman belakang. Ia duduk kembali di antara Raden dan Wulan yang tak menghiraukan dirinya. Dengan amarah dan cemburu yang meledak bersamaan Salma mencabut penutup botol anggur di depannya.
Syurr! Suara Anggur mengalir keluar dari bibir botol berpindah pada gelas. Salma kemudian meneguknya dengan sekali tegukan panjang. Lalu kembali menuangkan anggur kemudian meneguknya lagi dan lagi membuat Wulan merebut gelas terakhir dari tangan Salma.
"Kembalikan." Pinta Salma mencoba merebut gelasnya dengan sempoyongan dan mata berkunang-kunang. "Aku bilang kembalikan milikku!" Teriaknya dengan mengayunkan tangannya pada semua yang ada dihadapannya.
Pranggg! Suara piring,gelas dan botol yang terkena ayunanan tangannya jatuh pecah dilantai.
"Salwa!!!" Teriaknya pada Salwa yang baru saja kembali dari paviliun bersama Luhan. "Kembalikan Luhan padaku!" Menodongkan pisau pemotong steak pada Salwa yang berdiri jauh dari posisinya. "Kembalikan!!" Teriaknya histeris sambil melemparkan pisau yang kemudian di tepis Lukas oleh lengannya hingga jatuh ke arah lain.
"Salma!!" Bentak Raden beranjak dari kursinya.
"Beraninya kamu meneriakiku!" Balas Salma yang mengayunkan tangannya ke atas meja membuat beberapa piring dan gelas melayang ke arah Raden.
Prangg! Prangg! Prangg! Suara pecahan memenuhi ruangan sontak membuat Rosa dan David menarik diri menjauh dari meja makan.
"Ini semua karnamu!" Teriak Salma menarik kerah jas Raden. "Jika bukan karna ren---" Ucapnya terputus oleh tangan Raden yang membungkam mulutnya. "---Uhmm!" Sambung Salma memberontak dari Raden dan pengawal yang datang meringkusnya.
__ADS_1
"David, saya minta maaf atas kekacauan ini." Ucap Raden yang memberikan Salma untuk dibawa pengawal. "Salma masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Luhan telah resmi menjadi suami Salwa." Sambungnya.
"Tak apa-apa." Sahut Rose. "Kami mengerti." Menghampiri Wulan. "Ini pasti tidak mudah bagi kalian juga." Mengusap lengan Wulan yang tak menunjukkan tanda-tanda peduli pada kondisi Salma.
Apa Wulan tahu sesuatu? Dia tampak tak begitu peduli dengan suami dan putrinya sendiri. Batin Lukas melihat ekspresi Wulan saat Rose dan David mengantar mereka untuk ke depan.
"Haruskah kita memberitahu Salma yang sebenarnya." Ucap Salwa menengadah keatas melihat ke Lukas.
"Untuk saat ini jangan dulu." Melirik kecil pada Madam yang diam-diam memperhatikan mereka. "Madam!" Panggil Lukas tiba-tiba mengagetkan Madam dan juga Salwa.
"I-iya Tuan." Sahutnya gugup.
"Bisa tolong buatkan aku nasi goreng?" Pintanya menoleh pada Madam. "Tanpa kerang,mengerti!" Tekannya.
"Mengerti Tuan."
"Bawakan nasi gorengnya dua ke kamar ya Madam." Jawab Salwa memberikan senyum pada Madam yang merasa tertekan oleh Lukas.
Bam! Suara pintu kamar tertutup rapat. Setelah mengisi perut mereka dengan nasi goreng yang diantar ke kamar Salwa dan Lukas bergantian keluar masuk kamar mandi.
Tring! Suara notifikasi dari ponsel Lukas mengusik Salwa yang duduk didepan meja rias. Ia melirik sebentar ke Lukas yang masih berada di dalam kamar mandi lalu kembali melihat ke ponsel.
"Pesan baru." Ucap Salwa meraih ponsel dan menyentuh pesan baru yang masuk lewat email. "Bobbob siapa?" Membaca nama pengirim. "Sepertinya Bobi." Lanjutnya Membuka lampiran format pdf di dalamnya. "Eh!Untuk apa Bobi mengirim informasi tentang Salma pada Lukas?"Tanya Salwa melihat profil Salma yang kemudian ia menutup pesan saat mendengar suara Lukas membuka pintu kamar mandi.
Fyuhh! Suara Salwa menghela nafas setelah berhasil meletakkan ponsel pada keadaan semula. Namun ia belum sempat membaca halaman lain dari informasi dalam format pdf yang di kirim oleh Bobi.
"Belum tidur?" Tanya Lukas keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
"Ini baru mau naik." Sahut Salwa beranjak ke atas ranjang dengan gaun tidurnya yang tipis seperti malam-malam sebelumnya yang membuat Lukas hanya bisa menggigit bibirnya.
Semenjak Lukas mengalami kecelakaan hingga pada detik ini, ia sama sekali belum sempat memenuhi kebutuhan biologisnya. Jam terbangnya untuk meniduri wanita yang ia inginkan saat dirinya menjadi Bos Kartel kini lenyap oleh kehadiran istri pria lain di sisinya. Setiap malam Lukas hanya bisa menahan hasratnya yang menggebu saat wanita itu terbaring tak berdaya di sampingnya. Kali ini ia juga harus menahan godaan dari body goals yang di miliki Salwa berkat pelatihan yang ia lakukan selama ini di kamp milik Raden.
"Apa bekas luka di tubuhku sangat menarik?" Tegur Lukas memergoki Salwa dari pantulan cermin didepannya. Ia menangkap wanita itu memandang punggung yang membelakanginya.
"Bu-bukan." Sahut Salwa yang berbalik badan ke arah lain membelakangi Lukas yang meraih ponselnya. Ia kemudian melangkah ke arah kolam renang meninggalkan Salwa yang membalikkan badannya kembali ke arah semula.
"Eh?" Ucap Lukas melihat email yang belum ia buka telah terbaca beberapa menit sebelumnya. "Semoga aja dia tak membaca alamat emailnya." Lanjutnya membuka format pdf yang berisi informasi Salma dan semua yang dikerjakan wanita itu dari dua tahun lalu hingga hari ini.
"Jily, Salma dan Salwa." Sebut Lukas. "Sepertinya tak ada satupun dari mereka yang memiliki hubungan darah dengan Dafa Grey." Melihat halaman pdf yang lain. "Kenapa Dia menempatkan orangnya di sekitar Luhan?" Menutup halaman email. "Dafa Grey siapa kamu sebenarnya?" Tanya Luhan beranjak dari kursinya menyusul Salwa ke ranjang.
Fero, apa yang harus aku lakukan? Seorang yang kamu bantu untuk menangkapku berencana membuat adik perempuanmu bom untuk meledakkan suaminya sendiri. Batin Lukas menatap Salwa yang pura-pura tidur dengan kelopak mata yang mengerjap-ngerjap.
"Aku bukan ingin mendekati Salma." Ucap Lukas membuat Salwa terjaga dengan membuka matanya. "Heh!" Menyeringai tipis melihat Salwa yang kini terduduk di ranjang. "Apa informasi Salma yang dikirim Bobi padaku begitu mengganggumu?" Tanya Lukas di sertai senyum tipis di bibirnya.
"Iya." Jawab Salwa. "Wajah Luhan saat melakukannya dengan Salma dalam rekaman itu masih terbayang di kepalaku." Sambungnya. "Meski Aku tahu kamu bukan dia tapi itu benar-benar mengganggu setiap ka---" Ucapnya terputus oleh bibir Lukas yang tiba-tiba membungkamnya dengan ciuman. Lalu melepasnya kemudian.
"Apa kamu mau melakukannya denganku?" Bisik Lukas di telinga Salwa.
"Melakukan apa?" Balas Salwa polos sementara Lukas meniup pelan belakang daun telinganya.
"Melakukan yang kamu lihat dalam rekaman itu." Jawab Lukas yang kemudian menyeruak wajahnya pada leher Salwa.
"Uhm!" Lenguh Salwa merasakan kecupan lembut bibir Lukas di sekujur lehernya yang perlahan turun menelusuri bagian tulang selangkanya. "Aaahh." Meremas sprei dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya kebelakang. "Aaahhh." Lenguhnya lagi dengan wajah yang kini menengadah ke atas merasakan bibir Lukas turun mengecup belahan gundukan sintal.
🍁🍁🍁
__ADS_1