Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
44. Dia Suamiku, Bukan Kekasihmu!


__ADS_3

🍁🍁🍁


Salwa berbalik badan mematikan komputer dan membereskan mejanya. Ia kemudian menyelempangkan tasnya begitu saja ditubuhnya lalu beranjak dari kursinya.


"Hei!" Tegur Lukas beranjak dari kursinya menyusul Salwa. "Kamu mau kemana?" Meraih jas yang yang menggantung di kursinya.


"Ke rumah Ayah." Jawab Salwa. "Sesuatu pasti telah terjadi pada Bunda karna telah membocorkan pembicaraan Ayah padamu." Sambungnya. "Lukas, maaf aku tak bisa membantumu mengurus pekerjaan Luhan disini sekarang." Meneruskan langkahnya. "Aku harus memastikan sendiri kesana kalau Bunda baik-baik saja."


Tap! Tangan Lukas menahan Salwa yang hendak akan meraih gagang pintu.


"Jangan gegabah!" Menggenggam pergelangan tangan Salwa. "Bagaimana jika memang sekarang Wulan tidak dalam keadaan baik-baik saja?"


"Apa kamu tahu sesuatu?" Tanya Salwa.


"Ini hanya asumsiku saja." Jawabnya.


Berdasarkan dengan Raden yang aku kenal. Lanjut Lukas berbicara dalam hati.


"Lalu apa yang harus aku lakukan jika Bunda tidak baik-baik saja?" Tanya Salwa. "Apa aku harus berdiam diri disini, meski aku tahu dia sedang dalam bahaya?" Cibirnya pada Lukas.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Balas Lukas. "Bukankah dia hanya seorang ibu angkat yang tak peduli bagaimana pun Raden memperlakukanmu selama ini?" Cibirnya membuat Salwa mengepal tangannya dan hendak melayangkan pukulan ke wajah Lukas.


"Fyuhhh!" Suara Salwa menghela nafas bersamaan dengan melepaskan kepalan tangannya.


"Apa yang aku katakan salah?" Tanya Lukas.


"Ya." Jawab Salwa. "Awalnya dia memang tidak mempedulikan keberadaanku." Sambungnya. "Namun dua tahu terakhir ini ia cukup baik padaku." Melihat Lukas yang mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


Aku rasa itu hanya rencana Wulan mencari tim untuk kabur dari cengkraman Raden. Batin Lukas.


"Jadi, kamu ingin pergi membantunya untuk kebaikan dua tahun itu." Sahut Lukas yang meraih ponselnya menghubungi Bobi.


"Ya."


"Bobi alihkan Jily dari mejanya!" Perintah Lukas yang beberapa menit kemudian membawa Salwa keluar kantor dengan meninggalkan segala urusan pekerjaan pada Bobi. Salwa menyalip semua mobil yang menghalangi jalannya sambil menghubungi nomor Salma yang mendengar suara kaki melangkah dengan cepat dari arah pintu belakang.


Kringgg kringgg! Panggilan masuk Salwa di layar ponselnya membuat Salma menolak panggilannya dan pergi bersembunyi ke balik guci besar.


"Sialan!" Umpat Salwa menaikkan kecepatan setelah mendengar Salma menolak panggilannya dan sekaligus menonaktifkan ponselnya dari balik guci.


Klekkk! Suara pintu terbuka membuat Salma menutup mulutnya sambil mengintip kecil kearahnya datangnya suara langkah kaki dari pintu yang kini di tutup dengan keras.


Bam! Kedua mata Salma terbuka lebar terkejut.


"Siapkan mobil!" Perintah Raden pada pengawalnya yang kemudian lari mendahului keberadaan Raden yang berhenti sesaat oleh pecahan gelas di lantai. "Salmaa!" Panggil Raden mengalihkan pandangan tajamnya ke setiap sudut yang ada disekitar membuat Salma keringat dingin. "Salmaaaa!" Panggilnya kembali meneruskan langkahnya ke ruang tengah di ikuti oleh pengawal lainnya dari belakang. "Coba cek keatas!" Perintah Raden pada pengawal sementara dirinya menunggu dibawah tangga dengan wajah menengadah ke atas.


"Pintunya dikunci Bos." Lapor pengawal setelah tiba di bawah menghadap Raden yang melirik kecil kearah dapur.


"Salmaaa." Panggil Raden berbalik badan dengan melangkah kembali ke dapur mencari keberadaan Salma yang sebelumnya telah menyelinap keluar dari balik guci. Ia merangkak menuju bawah pantri tempat di mana pecahan gelas berada sebelumnya. "Sal----" panggilannya terputus oleh ponsel yang berdering dari dalam sakunya. "---Ck!" Decak Raden menolak panggilan Ronal yang sejak pulang dari kediaman Kardinata terus meneror dirinya. Ronal terus mengirimkan pesan yang berisikan pertanyaan mengenai identitas Lukas (Luhan) yang terbaring di depannya saat ini.


"Sialan!" Umpat Ronal disertai tawa. "Dia menolak panggilanku lagi." Ucapnya sambil melihat Zack yang sedang memeriksa kondisi Luhan didepannya. Ia kembali mengontak nomor Raden untuk kesekian kalinya sambil menyeringai tipis menatap Luhan.


"Aku akan mengirimmu hari ini kebalik jeruji jika kamu masih menggangguku dengan pertanyaan omong kosongmu itu." Sambut Raden yang akhirnya mengangkat panggilan Ronal setibanya di luar rumah. Ia tak ingin Salma mendengarkan percakapan dirinya dengan Ronal terkait Lukas (Luhan).


"Lukas,Luhan,Lukas,Luhan." Sebut Ronal secara berulang selang kepergian Zack dan Indri dari dalam ruangan. "Lukas, Siapa sebenarnya dia Bos?" Tanya Ronal membuat Raden masuk ke dalam mobilnya sambil melihat sekitar.

__ADS_1


"Kaki tangan seorang Bos Kartel." Jawab Raden.


"Sebelum menjadi kaki tangan Bos Kartel bukankah Lukas adalah rekan Bams?" Tanya Ronal yang membuat bulu mata lentik Luhan bergerak. "Bos apa kamu masih mendengarku?" Tanya Ronal menyeringai. "Bos jangan salah paham dulu padaku. Aku mendengar itu dari Bams saat di Thailand." Sambung Ronal yang sangat ingin melihat raut kesal Raden saat ini.


"Aku hanya terkejut mendengarnya." Sahut Raden berusaha tenang menghadapi Ronal yang telah mengetahui keberadaan Lukas dan Luhan bersamaan. "Aku sama sekali tidak tahu bahwa keduanya saling mengenal satu sama lain." Sambungnya dengan nada dingin.


"Aha, begitu rupanya." Balas Ronal yang masih berusaha mengulik-ulik Raden. "Aku pikir Bams sudah memberitahukan hal itu pada Bos jauh hari sebelum rencana penangkapan ini terjadi." Sambungnya dengan nada yang tak kalah dingin dari Raden membuat Luhan mengerutkan keningnya dalam tidur. Namun Ronal yang fokus dengan percakapannya dengan Raden sama sekali tidak menyadarinya.


"Ronal." Panggil Raden.


"Ya."


"Berhenti memprovokasiku." Ucap Raden memberi peringatan. "Kamu sama sekali bukan tandinganku." Sambungnya. "Jangan buat Aku mengirim pengawalku untuk melakukan sesuatu pada putri istrimu, mengerti?" Tekan Raden membuat Ronal membatu sesaat. "Camkan apa yang aku katakan." Ancam Raden yang kemudian menutup panggilan disusul oleh Salma yang keluar dari persembunyiaannya. Ia melangkah panjang menuju pintu utama menguntit Raden yang menutup pintu mobilnya dengan kencang.


"Jalan!" Perintahnya pada driver sambil menoleh kebelakang dan mendapati Salma keluar dari pintu menatap kepergian mobil yang membawanya pergi.


"Bos!" Panggil supir dari kursi depan saat mobil melewati gerbang. "Mau kemana?" Tanya Supir yang membelokkan mobilnya.


"Hotel." Jawab Raden menoleh kembali ke depan bersamaan dengan mobil Salwa yang datang dari arus belakang masuk kekediaman Prakas tanpa sepengetahuan Raden.


Brooom! Suara kedatangan mobil Salwa disambut oleh Salma yang turun dari rumah meraih mobilnya. Ia membuka pintu mobil sambil melihat tamu yang tak diundang keluar dari dalam mobil.


"Salwa?" Tegur Salma melihat Salwa disusul oleh Lukas yang keluar dari pintu lainnya.


Bam! Suara Salma menutup pintu mobilnya kembali bersamaan dengan Salwa dan Lukas.


"Apa pertemuan beberapa jam sebelumnya belum cukup untuk melepas rindumu---" Tanya Salma terjeda melihat jam di pergelangan tangannya sambil berjalan ke arah keduanya. "---padaku,Luhan?" Sambungnya berdiri tepat di hadapan Lukas dengan wajah menengadah keatas meraih bibirnya.

__ADS_1


"Jaga sikapmu!" Tegur Salwa membungkam bibir Salma dan mendorongnya dari hadapan Lukas. "Dia suamiku, Bukan kekasihmu!" Ucap Salwa memperingati Salma yang masih dengan mulut terbungkam oleh tangannya.


🍁🍁🍁


__ADS_2