
Lukas meraih jas dari diatas ranjang. Ia keluar menyusul Salwa sambil memakai jasnya kembali meninggalkan Salma yang menyeringai miring merayakan kemenangan.
"Salwa dengarin Aku dulu!" Seru Lukas menarik Salwa yang hendak masuk ke dalam lift.
"Aku tak mau mendengarkanmu!" Teriak Salwa. "Kalian semua sama aja!" Sambungnya memukul Lukas. "Sama-sama brengsek!" Memukul dada Lukas sambil terisak.
"Bukankah aku udah bilang sejak awal kalau semua pria itu brengsek!" Menangkup pergelangan tangan Salwa.
"Dan Aku juga sudah mengatakan padamu untuk tidak melakukannya. Tapi kenapa kamu malah melakukan hal yang sama?" Protesnya.
"Kemari!" Menggenggam tangan wanita itu lalu menariknya ke balik pintu tangga darurat.
Bam! Suara pintu itu tertutup sementara keduanya menaiki anak tangga menuju rooftop gedung.
Wush! Angin berhembus kencang menepis rambut Salwa setiba keduanya diatas. Lukas melepas genggaman tangan meraih tongkat besi disana lalu mengaitkannya di gagang pintu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Salwa melihat tindakan Lukas mengunci pintu dari luar.
"Kemari!" Sahut Lukas menariknya menjauh dari pintu. "Aku tak melakukan apapun dengan Salma!" Ucap Lukas menangkup wajah Salwa. "Lihat!" Menunjukkan dirinya pada Salwa. "Pakaianku masih utuh." Lanjutnya. "Salma dan Ayahmu berusaha menjebakku agar kamu membenciku." Tekannya menangkup bahu Salwa.
"Mana mung---"
"---Mereka ingin kamu benci pada Luhan." Potongnya. "Kemudian mereka akan menggunakan kemarahan dan kebencian mu ini untuk melenyapkan Luhan." Sambung Lukas membuat Salwa tercengang.
"Omong kosong!" Balas Salwa tak percaya dengan perkataan Lukas. "Bagiamana mungkin? Bukankah Salma mencintai Luhan." Jelasnya dengan tangan gemetar.
"Sepertinya Ayahmu memiliki rencana jahat pada keluarga Kardinata." Ucap Lukas membuat Salwa kembali terkejut.
"Apa?"
"Jily adalah orang suruhan Ayahmu. Hari ini mereka berencana mengambil berkas aset perusahaan Emperal grup." Jawab Lukas mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman pembicaraan Raden dan Salma yang membuat mata Salwa melebar kaget mendengarnya. "Siang tadi mereka membobol brankas diruanganku bukan?" Tanya Lukas menarik ponselnya dan mengantonginya kembali.
"Bagaimana kamu ta----" Balas Salwa terjeda oleh ingatan akan Bobi yang memberikan informasi Salma yang sebelumnya ia kirim pada Lukas. "---Sejak kapan kamu tahu bahwa Ayah memiliki rencana mengambil seluruh berkas Aset Emperal grup?" Sambung Salwa.
__ADS_1
"Pagi ini setelah mendengar pembicaraan Raden dan Salma yang diam-diam di rekam oleh bundamu." Jawab Lukas.
"Apa?" Balas Salwa. "Kamu mendapatkan rekaman itu dari bunda!" Dengan wajah panik. "Kenapa bunda melakukan---" Ucapnya terjeda sesaat memikirkan penjelasan Lukas diawal bahwa dirinya dijebak oleh Raden dan Salma. "---Gawat!" Sambungnya melihat Lukas. "Sepertinya Ayah sudah tahu kalau bunda yang membocorkan rencana mereka padamu." Mengalihkan pandangannya. "Bagiamana ini?" Dengan wajah panik. "Ayah sangat kejam! Aku tak bisa membayangkan apa yang telah ia lakukan pada Bunda sekarang."
"Kamu tengah dulu!" Ucap Lukas menangkup bahu Salwa. "Kita akan cari tahu kebenarannya besok,Hm!" Bujuk Lukas menenangkan Salwa dari kepanikannya.
Broomm! Suara mobil Salwa memasuki gerbang kediaman Kardinata disusul oleh mobil Luhan yang di kendarai Lukas dari belakang setelah menempuh perjalanan dua jam tanpa sirine polisi.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Suara Rose dari ujung tangga sesaat keduanya tiba di dalam rumah.
"I-itu mah ka---"
"---Kami baru dari hotel Om Raden." Potong Lukas merangkul Salwa dari belakang sambil menatap Rose yang berdiri dengan tangan terlipat dibawah dada.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Rose.
"Gak ada." Jawab Lukas mengangkat bahunya. "Kami ke kamar duluan ya Mah." Pamit Lukas menarik Salwa pergi dengannya masuk ke kamar.
Bam! Suara pintu tertutup membuat Rose turun kebawah menuju ruang tengah tempat album foto tersimpan. Ia membalik-balikkan halaman album tempat foto-foto Luhan dan Yohan saat kecil. Rose meraih kaca pembesar dari saku gaun tidurnya dan mengarahkannya pada kedua bola mata anak kembarnya secara bergantian. Ia kemudian mengecek satu persatu foto yang ada di dalam kesunyian malam di susul oleh David yang menemaninya.
"Oh iya mengenai Jily." Tegur Salwa Setelah setengah jam kemudian sesaat keduanya bersandar di punggung ranjang dengan balutan piyama di tubuh.
"Apa ada yang aneh dengannya?" Tanya Lukas menoleh pada Salwa.
"Siang tadi pas di cafetaria dia terlihat kaget saat berbicara dengan seorang di telpon." Jawab Salwa.
"Mungkin itu perintah yang datang dari Ayahmu." Sahut Lukas. "Mulai sekarang kamu harus hati-hati pada Jily dan Salma." Sambungnya. "Terutama pada Raden." Tegasnya dengan tatapan yang begitu dalam pada Salwa.
"Apa orang-orang yang mengejar kita di Thailand itu suruhan ayahku?" Tanya Salwa yang menangkap kebencian yang begitu dalam di mata Lukas setiap kali menyebut nama Raden.
"Bukan." Jawab Lukas berbohong. "Lagian untuk apa dia melakukan hal sekeji itu pada Pria sepertiku." Sambungnya. "Aku bukan Luhan yang ketika dilenyapkan akan mendapat begitu banyak keuntungan." Jelasnya.
"Aku masih tidak mengerti kenapa Ayah menginginkan Emperal grup di saat dia memiliki kekayaan dari Ayahnya." Ucap Salwa.
__ADS_1
"Itu masih asumsiku semata. Kamu tidak harus mempercayai bahwa tujuan ayahmu adalah Emperal grup." Jawab Lukas. "Aku mengatakan semua ini padamu karna aku yakin kamu tak punya niat jahat sedikitpun untuk Luhan dan keluarganya." Sambungnya. "Benarkan?" Tanya Lukas menangkup wajah wanita di depannya.
"Jika kamu tidak percaya padaku kenapa memberitahukan itu semua padaku." Balas Salwa memalingkan wajahnya dari Lukas dengan merengut.
"Hei!" Mengalihkan kembali wajah itu kehadapannya. "Aku bukan tak percaya padamu. Aku hanya takut kamu tak bisa menerima kenyataan bahwa Ayah yang membesarkanmu memiliki niat jahat pada keluarga Luhan." Jelasnya menenangkan Salwa.
"Benarkah?"
"Ya." Menarik tanganya dari wajah Salwa.
"Lalu bagaimana kamu bisa ada di kamar yang sama dengan Salma?" Tanya Salwa. "Apa kamu tak akan memberitahukan mengenai itu padaku?"
"Sebelumnya ada seorang kenalan yang menawarkan padaku seorang wanita." Jawab Lukas santai. "Ternyata tawaran itu hanya jebakan." Sambungnya.
"Oh." Sahut Salwa melihat Lukas sambil mengingat akan kejadian malam sebelumnya dan perkataan Lukas saat di kamar hotel mengenai kebutuhan biologisnya.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Lukas balik.
"Hm?" Sahut Salwa.
"Kenapa kamu bisa tahu aku ada di---" Ucapnya terjeda sesaat dengan salah satu alisnya yang naik keatas. "---Kamu memasang pelacak di mobil dan ponselku,benar?" Sambung Lukas yang kemudian mendengus kesal.
"A-aku hanya khawatir Ka-kamu melakukan sesuatu yang buruk dengan identitas Luhan." Sahut Salwa gagap sambil mengalihkan wajahnya dari Lukas.
"Hanya itu?" Tanya Lukas menangkup wajah Salwa mengalihkan padanya.
"A-Aku juga mau minta maaf." Jawabnya gugup.
"Minta maaf untuk apa?"
"Mengenai kejadian kemarin malam." Menurunkan pandangan kebawah menghindar dari tatapan mata Lukas.
"Emang kemarin malam ada apa?" Tanya Lukas tersenyum tipis.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa." Sahut Salwa ketus yang merebahkan dirinya diranjang dengan memunggungi Lukas. Sementara Lukas hanya bisa tersenyum pada Salwa yang begitu sangat polos untuk dirinya.