
🍁🍁🍁
Ronal kembali memeriksa satu persatu dokumen yang berkaitan dengan kejadian 12 tahun lalu, saat Alex ditemukan tak bernyawa lagi. Sore itu kepala tim yang menangani kasus Narkotika mendapat laporan akan keberadaan Alex. Ronal yang mendengar informasi itu langsung menghubungi Alex. Namun panggilan tak kunjung mendapat jawaban lantaran di waktu yang sama Alex sedang menghubungi Lukas.
"Ronal apa yang sedang kamu lakukan?" Tegur Kepala tim keluar dari mobil. "Cepat masuk!" Perintahnya yang membawa Ronal dan anggota polisi lainnnya untuk mengepung Alex dan seluruh anak buahnya.
Bug! Bag! Bug! Suara kaki bergantian melayangkan tendangan pada Lukas yang terkapar di samping Alex. Dan selang beberapa jam kemudian suara sirine polisi terdengar membuat semua panik termasuk Bams.
Empat mobil polisi masuk ke bawah gedung kontruksi membuat semua berlari menyelamatkan diri termasuk Lukas yang menyelinap diantara kolom gedung. Diwaktu bersamaan Kepala tim mendapati Alex yang sudah tak bernyawa lagi.
"Panggil Ambulans!" Seru Kepala tim membuat Ronal berlari kerahanya.
"Apa itu Alex?" Tanya Ronal.
"Dia sudah tiada." Sahut Kepala tim bangkit dan memasang garis polisi di tempat Alex terkapar. "Segera hubungi pihak forensik untuk datang kesini." Perintah Kepala tim pada Ronal yang kemudian menjauh dari jasad sambil merongoh ponselnya. Ronal akhirnya membuat panggilan pada pihak forensik sambil melihat rekannya yang meringkus satu persatu anak buah Alex termasuk Bams.
"Baik." Ucap Ronal mengakhiri telponnya dan memergoki seorang pria dari balik kolom. Pria itu mengenakan topi menutupi wajahnya. Ia berlari dengan pisau berlumuran darah ditangannya membuat Ronal mengikutinya dari belakang.
"Ronal!" Teriak rekannya yang lain. "Apa yang kamu lakukan?" Tegurnya yang sedang menimpa Bams. "Cepat bantu aku memborgolnya." Pintanya yang membuat Ronal kehilangan Pria sebelumnya dan balik membantu rekannya memborgol Bams yang mengetahui siapa dirinya.
Tap tap tap! Suara Ronal selang beberapa detik kemudian menyusul rekannya yang melangkah ke arah dermaga.
"Ada apa?" Tanya Ronal yang menyusul rekannya ke tepi dermaga.
"Aku seperti melihat salah satu dari mereka berjalan kesini." Sahut polisi itu menginjak bekas tetesan darah Lukas di bawah sepatunya.
__ADS_1
"Kau salah lihat kali!" Balas Ronal yang juga menangkap jejak darah berlanjut hingga berhenti di tepi dermaga. "Yaudahlah." Berbalik badan membelakangi Lukas yang menilik mereka dari atas kapal. "Hari ini kita dapat banyak!" Sambung Ronal. "Orang itu benar-benar sesuatu." Merangkul rekannya mencoba mencari tahu.
"Benar! Aku sudah salah mencurigainya." Sahut rekannya itu yang membuat Ronal mengernyitkan keningnya. "Aku pikir dia salah satu dari mereka." Jelasnya meninggalkan Lukas yang mendengar pembicaraan rekan Ronal dan kepala tim.
Jadi,Seseorang telah menjebak Alex! Batin Ronal bersamaan dengan Lukas yang mengumpat dan mengatakan hal sama dengan emosi yang berbeda.
Semua anak buah Alex menjadi tersangka pembunuhan. Satu persatu para gangster diperiksa oleh Kepala tim dan Ronal. Setelah pemeriksaan Ronal pun menyadari bahwa seorang yang berhasil kabur adalah Lukas. Namun Kepala tim tak menyadarinya karna selama ini Lukas tidak pernah terang-terangan terlihat bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok gangster yang dipimpin oleh Alex. Satu hari setelah pemeriksaan Ronal pergi ke TKP dan menemukan pisau di tempat Pria sebelumnya yang menghilang dari pandangannya. Ia pun kembali ke kantor dan hendak memberikan bukti yang baru ia temukan pada kepala tim. Namun,
"Hei Ronal dari mana aja kamu?" Tegur rekannya. "Pembunuhnya sudah ditemukan." Sambungnya.
"Siapa?"
"Salah satu anak buahnya." Jawabnya. "Aku dengar hanya karna masalah sepele." Menepuk bahu Ronal.
Selang dua hari setelah penangkapan, salah satu dari anak buah Alex di tetapkan menjadi terpidana pembunuhan terhadap Alex. Dan setelah itu beredar isu diantara gangster bahwa yang membunuh bos mereka adalah anak buah Alex yang bernama Lukas.
"Kamu harus menangkapnya." Ucap para gangster setiap kali melihat Ronal yang membuatnya memeriksa sidik jari dan darah di pisau yang ia temukan. Ia pun menemukan darah Alex dan sidik jari seorang yang tak di ketahui keberadaanya di negara ini. Dalam pencarian keberadaan terpidana sebenarnya Ronal malah mendapat banyak masalah yang membawanya jatuh berlutut di hadapan Raden Prakas,Putra tunggal dari James Prakas pemilik Hotel secret.
"Raden." Ucap Ronal melihat Raden yang baru saja keluar dari hotel secret bersama Salma. "Apakah itu putrinya?" Tanya Ronal yang tak pernah punya kesempatan menguntitnya demi keamanan istri dan putrinya yang telah ia kirim bersekolah di luar negeri. "Ini saatnya mencari kelemahan Pria sialan ini." Ucap Ronal menyalip mobil yang ada didepannya untuk membuntuti mobil Raden dari belakang. Lalu dari persimpangan mobil Wilsen keluar berbelok menyalip Ronal.
"Di belakang ada mobil yang juga mengikutinya." Ucap Wilsen dengan earphone di telinganya.
"Berikan jalan untuknya." Perintah suara yang membuat Wilsen melirik Ronal dari kaca spionnya dan membuka jalan menyalipnya ke depan. "Cari tahu siapa pemilik mobil yang mengikuti Raden."
"Baik Daddy." Sahut Wilsen mengikuti Raden yang melirik perban yang membalut tangan Salma di sampingnya tanpa menyadari bahwa ada dua mobil yang mengikutinya.
__ADS_1
"Apa ada yang terjadi tadi malam?" Tanya Raden pada Salma yang tidak bisa menyembunyikan luka di tangannya.
"Hanya luka gores yah." Sahut Salma yang tidak bisa mengingat apapun. Ia terbangun dan menemukan tangannya sudah terbalut seperti yang apa terlihat saat ini.
"Bagaimana dengan Wilsen?" Tanya Raden yang membuat Salma mengingat terakhir ia minum bersama Wilsen. "Apa kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan darinya?" Tambah Raden mengecek pinjaman Wilsen padanya saat tenggelam berjudi di kasino miliknya.
"Hanya seorang penjudi,Yah." Jawab Salma. "Aku tak menemukan apapun selain itu." Sambungnya sambil memikirkan sebanyak apa yang telah ia katakan pada Wilsen saat dirinya benar-benar dalam pengaruh alkohol.
Sial! Umpat Salma membuang mukanya kearah jendela dan mendapati Wilsen mengedipkan mata padanya dari mobil yang melaju disampingnya. Ia menyeringai pada Salma sebelum menurunkan kecepatan membiarkan mobil Raden melewati keberadaanya.
"Ayah sepertinya Wilsen mengikuti kita." Ucap Salma melihat ke Raden yang menoleh ke belakang. "Bagaimana jika Luhan mengetahuinya?"
"Biarkan saja." Sahut Raden yang kemudian berbalik melihat ke depan. "Dia takka bisa masuk semudah itu kekediaman Kardinata." Jelasnya yang dua jam kemudian melihat gerbang tinggi terbuka menyambut kedatangan mereka.
"Apa ini kediaman baru mereka?" Tanya Ronal berhenti melihat mobil Raden masuk kedalam. "Kenapa aku gak tahu ya?" Tanyanya lagi yang melihat sebuah mobil keluar berpapasan dengan Raden yang masuk ke dalam.
Brooom! Suara mobil Lukas keluar sambil menurunkan kacanya saat berbelok melewati keberadaan Ronal yang tercengang melihatnya dari dalam mobil.
"Lukas?" Tegurnya pelan bersamaan dengan Lukas menoleh padanya.
Sial! Umpat Lukas berhenti secara mendadak membuat Salwa terkejut.
"Ada apa?" Tanya Salwa melihat keluar jendela. "Kamu mengenalnya?" Tanya Salwa yang kini sama-sama dengan Lukas melihat ke Ronal.
"Dia polisi yang mengejar kita." Balas Lukas dengan nada pelan.
__ADS_1
"Oh my God!" Ucap Salwa.
🍁🍁🍁